Self-Reporting: AJI, Rokhmin, dan Aku

Begitu ramai milis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) membahas keterlibatan organisasi ini menerima dana dari Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Saya sendiri adalah salah satu dari hampir seribu anggota lembaga yang akan berusia 13 tahun pada Agustus nanti ini.

Saya sendiri bergabung sejak Maret 2006. Sedangkan peristiwanya sudah berlalu tiga tahun silam, ketika perayaan Ulang Tahun AJI X, Agustus 2004. Well, bahkan kejadiannya lebih lampau daripada masa saya memulai karir jurnalis, Desember 2004.

Saya hakul yakin memilih organisasi ini karena lebih radikal daripada perkumpulan pewarta lainnya. AJI tegas memposisikan diri sebagai buruh dengan slogan jurnalis juga buruh. AJI selalu merayakan gempita May Day tiap 1 Mei, bergabung dengan barisan kelas pekerja lainnya.

Pun, AJI punya slogan profetik, jurnalis harus sejahtera, jurnalis kudu tolak amplop. Suatu rumusan idealitas dan ideologi yang sangat-sangat berterima dalam benak saya. Saya kagum benar pada organisasi ini. Apalagi, kakak saya, Winuranto Adhi, adalah salah satu pentolan pendiri AJI Malang. Kini Mas Wiwin bergiat di AJI Jakarta sebagai Ketua Divisi Serikat Pekerja.

Adapun Rokhmin, to be frankly, saya tak pernah sama sekali bertatap muka. Saya cuma sekali mewawancarai dia, hanya lewat telepon. Kala itu untuk Rubrik Tokoh di media tempat saya bekerja sebelumnya, Tabloid Kontan. So, kesan pribadi akan dia, saya tak ada satu penilaian pun. Apakah dia baik, atau hitam.

Yang jelas, ketika Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dipimpin oleh Freddy Numberi, pos ini masih ‘basah’ juga. Pernah sekali saya bersama teman Kontan reportase di kantor pada bilangan Ridwan Rais itu, kami disodori amplop. Kalau tak salah pada bulan-bulan awal semester kedua 2005. Bayangkan, saya baru pertama kali liputan di pos itu. Tepatnya di sebuah direktorat. Saya pikir amplop hanya untuk kuli tinta yang sudah ngepos lama. Syukurlah, saya masih mampu menolaknya. Dan sejak saat itulah, hingga kini, itulah reportase terakhir saya di tempat itu.

Kembali ke AJI. Siang lalu, AJI konferensi pers mengakui memang menerima dana Rp15 juta dari Rokhmin. Hingga kini, AJI belum bisa menentukan apakah duit itu dari Rokhmin pribadi atau dari DKP secara lembaga.

Saya terngiang pada cerita Mas Andreas Harsono -yang kala itu berbicara dalam forum sharing jurnalistik di AJI Jakarta. Mas Andreas bilang, ada sebuah media yang, ini yang justru menarik, menginvestigasi boroknya sendiri. Yang diwawancara yah pemred dan redaktur-redakturnya sendiri. Inilah esensi dari transparansi, baik transparence by method maupun transparence by motivation (duh, Bill Kovach banget).

Seketika itu juga otak saya ingin menerjemahkan pola transparansi ini dengan menulis sendiri pengakuan petinggi AJI itu (Mas Heru Hendratmoko, Mas Jajang Jamaludin, dan Mas Abdul Manan). Tentu saja dalam sebuah berita -yang masih belum pantas disebut investigasi.

Lagipula, karena masih terbentur belum diterapkannya byline dan tagline, saya tak bisa bertransparansi ria dalam berita itu, menjelaskan, saya juga anggota AJI. Tak masalah. Saya bisa lakukan di forum lain -blog ini.

Sebagai upaya cover both side, saya coba kontak Rokhmin. Saya manfaatkan daftar kontak lawas saya. Pertama, yang mengangkat ajudannya. Lalu si ajudan memberikan nomor langsungnya.

Kemudian saya putar nomor pemberian si pembantu Rokhmin itu. Hape terangkat, dan mulailah kami bercakap. Inilah wawancara saya dengan dia yang kedua kalinya. Selepas wawancara, sontak saya ragu. Apakah orang yang berbincang dengan saya dari seberang saluran telepon itu adalah benar-benar Rokhmin? Bukankah dia terkurung di Mabes Polri? Apakah masih boleh bersambung kontak dengan pihak dari luar jeruji?

Untungnya percakapan itu saya rekam dari alat perekam telepon. Saya dengarkan lagi suara perbincangan kami. Saya perdengarkan kepada kolega saya, yang ngepos di Tipikor. Teman saya inilah yang mengawal persidangan Rokhmin, lebih intens daripada saya. Tentu saja, dia kenal benar suara dan intonasi wicara Rokhmin.

Wong pos saya di desk bisnis-ekonomi. Dan saya baru pertama kali ini hendak menulis isu dana DKP. Setelah kami mendengar rekaman itu berulang kali, kawan tadi meyakinkan saya, bahwa itu memang benar-benar suara Rokhmin.

Lantas saya yakinkan lagi dengan menemui kolega saya yang di Radio 68H. Di sela waktu liputan di Gedung DPR, saya perdengarkan hasil rekaman itu. Si reporter yang juga anggota AJI ini pun yakin suara itu milik Rokhmin adanya.

Tulisan berita saya ini bukan bermaksud menikam organisasi saya sendiri. Justru saya mencintai AJI. Meskipun saya terputus mata rantai historisnya. Saya baru bergabung pada saat AJI telah berjalan sepuluh tahun.

Sebelumnya, sempat mencuat kasus AJI Surabaya yang menerima dana sponsor acara dari Exxon. Ada beberapa nama senior yang keluar dari AJI sebagai rasa kekecewaannya. Mereka menuding AJI sudah menyeleweng dari titah idealitas. Well, itu hak mereka masing-masing.

Hmmm. Saya memeluk Islam. Saya tak akan berbalik murtad hanya lantaran masih ada gerombolan teroris berbaju Islam merenggut kedamaian orang awam. Saya tak akan mursal hanya kerana masih banyak orang Islam (setidaknya tertera di Kartu Tanda Penduduk alias KTP) yang mabuk, berzina, dan bermaksiat.

Lain kata, saya belum terpikir keluar dari AJI hanya karena saat ini organisasi tersebut beroleh pacoban. Yah, inilah ujian yang sulit bagi kita semua, para pegiat AJI.

NB: Untuk menengok berita saya, silakan klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s