Murjayanti, Juaraku

“Alhamdulillah, Mi juara satu,” sepenggal pesan singkat itu menyeruak ke dalam hape saya. Pesan itu tiba-tiba muncul di tengah kesibukan saya liputan siang itu di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Rabu ini (20/6). 

Yah, Si Murjayanti akhirnya menggondol juara pertama, mengalahkan pesaing ketatnya, atlet panjat asal Jawa Barat, Teh Yuyun. Sebagai kekasihnya jelas saya bangga. Di tengah usianya yang makin merambat tua, di awal kepala tiga, setidaknya dia membuktikan belum habis.

Dia sempat sambat, dalam kompetisi sebelumnya, belum pernah berhasil menggondol gelar. Saya rasa itu hal wajar. Setiap atlet belum tentu konsisten performanya. Coba tanya kepada Michael Schumaker, Michael Owen, LeBron James, David Beckham, dan atlet lainnya. Musim lalu berprestasi, cetak skor terbanyak, sabet banyak gelar, belum tentu musim ini bisa mengulangi prestasi yang sama. Bisa jadi tergerus cidera; termakan usia; bisa juga bibit muda bertumbuhan siap mengganti yang tua.

Fluktuasi prestasi atlet bagi saya, sebagai penikmat olahraga, itu hal lumrah. Yang tak wajar, jika orang di sekelilingnya sudah tak peduli lagi. Mental seorang atlet harus dijaga. Tak jarang emosi mereka meletup setiap saat. Jelas-jelas lantaran tekanan persaingan dan target yang telah dicanangkan. Saya merasakan benar sebagai pasangan atlet. Pertengkaran seringkali mewarnai hari-hari kami. Menguras energi dan emosi memang. Tapi tak mengapa.

Dia sering mengeluh, pelatih sudah cuek. Tak peduli, bermuka masam, dan masak bodoh, serta terkesan mencibir atas kinerjanya yang belum juga berhasil menyabet gelar. Sang pelatih justru berpaling pada atlet muda yang lagi naik daun.

Pada lomba di Bandung kali ini, saya sempat menyarankan gak usah ikut. Cukup fokus pada Porda Yogya. Dia adalah atlet asal Gunungkidul yang kini membela Kodya Yogya. Akhir bulan ini bakal digelar Porda.

Tak mungkin kan, jika seorang atlet harus melahap semua lini kompetisi? Misal Rafael Nadal atau Roger Federer. Di level menengah atau kompetisi kecil, boleh lah mereka melepas gelar atau kalah oleh atlet lain. Tapi di Grand Slam, pastilah mati-matian. Seorang atlet musti bagi-bagi prioritas fokus.

Tapi ia ngotot pengen ikut ke Bandung. Alasannya, untuk refreshing lari sejenak dari kejenuhan suasana latihan yang menjemukan. Apalagi, perlakuan pelatih yang cuek bebek. Takutnya, kalau dia kalah, saya khawatir mentalnya makin ngedrop.

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga dia lewati ujian kali ini. Juara satu, melabrak jauh-jauh dari Yogya ke Bandung, betapa bangganya saya. Saya tahu, PON 2008 mendatang, bisa jadi adalah kompetisi akbar terakhir baginya. Usianya makin merangkak. Semoga prestasi-prestasi besar bakal menyusul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s