Dua Kucingku, Si Fatah dan Si Hamas

Sejak Lebaran Oktober 2006, saya belum sempat menjejak ke rumah Pati. Saya begitu kangen. Sudah berat saja kepala dan dada, seakan roh tak ada di suasana kerja. Toh, target kerja dan liputan serta laporan telah saya penuhi. Inginnya pulang saja. Makanya, Sabtu (16/6) lalu sengaja saya meluncur dengan Bus Nusantara ke Kota Bumi Mina Tani ini.

Sampai di rumah Minggu dini hari. Badan serasa berat. Masuk angin menyengat. Saya rebahkan badan di atas dipan, setelah melepas rindu dengan ortu. Tak lupa saya sms keponakan tersayang, Naafi Aulia. Umurnya sebaya sih sama saya.

Saya kaget, ada dua ekor anak kucing yang hampir serupa. Sejak saya berangkat ke Yogya-Jakarta, keduanya memang belum lahir. Bulunya putih bersih, bertabur bercak kuning merah. Bagai anak kembar. Semuanya jantan. Bedanya, yang satu bercaknya agak pudar. “Kelir kok gak jelas, ra tegas,” komentar Bapak saya, menimbulkan riuh kekeh memecah hening subuh. Keduanya adalah anaknya Si Mila, kucing kembangtelon. Setidaknya keduanya menggantikan kepergian kucing-kucing saya yang tewas tercebur sumur tetangga.

Rasa penat yang makin berat harus saya bunuh dengan tidur beberapa jenak. Tentu saja, seusai menjalankan dua rekaat salat wajib. Esok harinya, saya bangun dengan kepala berat.

Hawa kantuk belum pudar total, saya -lagi-lagi, serasa bosan mendengar berita yang itu-itu lagi. Palestina tak henti-hentinya berdarah. Apa mereka tak bosan bertengkar. Setelah ngos-ngosan bertempur dengan Israel, eh, sekarang malah perang saudara. Kali ini faksi Fatah kontra kubu Hamas. Saya geram berkali-kali mengunyah berita konflik.

Saking geregetan, saya namakan saja kedua anak kucing itu Si Fatah dan Si Hamas. Fatah yang bercorak kuning pudar, dan Hamas yang berwarna kuning menyala. Gembira hati saya, melihat mereka selalu tidur bareng, berpelukan dan menyerbu ibunda, menubruk perutnya untuk melahap beberapa isap air susu.

Daripada pusing mikirin perang saudara, setidaknya saya masih bisa menyalakan api kecil perdamaian. Meski remeh bin temeh, memberi nama kedua kucing itu, saya toh puas dan bahagia melihat kedamaian yang mereka peragakan.

Piss…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s