May Day, Lebarannya Kaum Buruh

Matahari makin merambat ke pucuk langit. Kami memulai aksi merayakan hari buruh. Saya tergabung dalam barisan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Wuih, jadi koordinator lapangan (korlap). Sudah berapa tahun saya tak memegang megacot (mega cocot, hehehe… plesetan dari megaphone) memimpin massa. Kakak saya, Winuranto Adhi, bertindak sebagai koordinator aksi (korak). Sekitar 40 orang tergabung dalam massa AJI.

Hadir pula Mas Bambang Wisudo, jurnalis senior Harian Kompas yang didepak oleh Pimred Suryopratomo Desember silam. Tak ketinggalan, jurnalis investigatif andal Indonesia, Andreas Harsono (Jurnal Pantau) dan istri turut serta. Senang rasanya.

Perasaan meluap ketika bergabung dalam lautan ribuan massa Aliansi Buruh Menggugat. Jika tahun lalu kami mengusung isu massif tolak revisi UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, maka tahun ini kami mengangkat tema upah layak nasional. Upah layak Rp3.270.000 sebulan.

AJI sendiri mengelaborasi turunan isu itu dengan slogan Jurnalis Tolak Amplop Perjuangkan Upah Layak. Tak lupa, isu derivasinya adalah tolak tindakan antiserikat pada perusahaan-perusahaan media. Jurnalis harus menolak amplop karena amplop adalah racun independensi dan profesionalisme.

Di tengah kondisi bisnis pers yang kurang tertata, jurnalis masih diupah rendah. Ada 829 media cetak, namun hanya 30% yang sehat. Ada 2.000-an media radio dan 65 stasiun teve, namun hanya 10% yang sehat. Artinya, bikin media itu gampang, isi perut pekerjanya urusan belakang. Padahal, kue iklan demikian gurihnya, Rp30 triliun.

Jika wartawan ngamplop, lupakan saja kekritisan mereka menulis penderitaan buruh. Mereka sudah dibutakan amplop dan disetir oleh kaum pengusaha dan penguasa. Walhasil, pengusaha media ongkang-ongkang tak segera menaikkan upah karyawannya, karena merasa wartawannya dengan otomatis sudah bisa mencari penghasilan sendiri.

Mas Wis (panggilan Bambang Wisudo) adalah korban penjegalan aktivitas serikat pekerja. Dia adalah sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK). Para pegiat serikat pekerja media seringkali dibungkam lantaran selalu dianggap sebagai kerikil di dalam sepatu industri media. Sungguh menyedihkan.

Kami mulai berkoar dari Bundaran HI. Lalu merambat memacetkan Jalan Thamrin menuju Monas dan halaman luar Istana Negara. Kami menggelar panggung hingga sore. Saya bersyukur aksi bisa berjalan lancar dan tertib tanpa harus bentrok dengan saudara kita sendiri, para polisi.

Saya bangga bisa melihat dan mendengar aksi orasi kakak saya, Mas Wiwin. Gaya khas jebolan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Tak sekadar beringas berkoar hampa dan jargonik. Namun juga ada reasoning dan argumen. Khas ala Dita Indah Sari, Endhiq, Fendri Ponomban, Ulin Niam Yusron (kalo yang ini sih menyelingkan gaya selengekan, hehehe…), atau gaya retorika massa para aktivis jebolan PRD lainnya. Berapi-api, menggugah, menyentuh, tak meninggalkan argumentasi. “AJI secara sadar dan secara politis akan selalu berada di barisan kaum buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM)… kami juga menginstruksikan AJI kota-kota lainnya untuk serempak aksi… apa kaitan amplop dengan upah layak? Jika jurnalis ngamplop, tak ada lagi yang menulis penderitaan kaum buruh… saat ini masih ada jurnalis yang digaji Rp200.000 sebulan. Karena itulah, kami mengusung baliho, menuntut upah layak, seperti apa yang kawan-kawan ABM tuntut…” gemuruh tepuk sorai pun membahana…

Sore itu kami pulang ke kompleks perumahan Pancoran. Tak terasa matahari diganti oleh rembulan. Begitu bulat purnama. Teringat saya akan saudara di Dusun Gedongan, Kecamatan Borobudur. Maklum, tiap malam purnama pasti ada festival kesenian khas rakyat desa. Empat tahun silam saya KKN di sana. Bergaul dengan buruh panggul, buruh rajang tembakau, buruh tani, buruh tebang pohon, dan buruh informal lainnya. Saya rindu ingin ke sana, rindu saudaraku di sana. Purnama bulan depan tak terasa bakal Waisyak. Suasana di Budur, pasti tak kalah semaraknya dengan hari lebarannya kaum buruh internasional… sedihnya, saya belum bisa memastikan datang ke sana, padahal sudah terpisah hampir empat tahun…

Lamat-lamat sepenggal lirik lagu penyanyi balada asal Bandung Mukti-Mukti, memadati rongga telinga saya…

Kita yang masih bertani/ berdiri menatap matahari/ menitip mati/ melemah sepi/ esok pagi/ revolusi….

May Day lebarannya kaum pekerja. Semoga Tuhan memberi kesempatan pada kita mencumbui May Day tahun depan…

Foto-foto: Yacob Yahya, Anggota Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, jurnalis Hukumonline.com; Jacko, Anggota Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, jurnalis Transtv; Adri, Anggota AJI Jakarta

2 responses to “May Day, Lebarannya Kaum Buruh

  1. Wah rame juga… Kok gak ada foto orang2 AJInya? Kenapa long shot semua?

    Di San Francisco, Mayday (lebih) banyak mengusung isu kaum imigran, terutama yang berasal dari Amerika Selatan. Pemerintah Amerika ‘menggeser’ peringatan hari Buruh (Labour Day) dari tanggal 1 Mei ke bulan September, sehingga formalnya 1 Mei adalah Hari Kesetiaan (Loyal Day).

    Tuh kan Wiwin bener jebolan…ūüėÄ

    -stania di san francisco-

  2. Ma kasih, wow… salam dari San Fransisco. Memang kalo gak salah tiap minggu Paman Sam kebanjiran 2.000 imigran, terutama dari Meksiko. Bush sendiri sudah membentang ratusan kilometer pagar di perbatasan selatan. Salam deh buat kaum buruh (migran) di sana…

    Long shot semua… hmmm nampaknya memang harus jepret-jepret juga kawan-kawan aktivis kita yang sadar kamera… hehehe… tapi ada beberapa teman yang motret jarak dekat dengan background baliho yang kami buat lembur kejar tayang hari minggu malam hingga dini hari. aku usahain cari hasil jepretan yang dari jarak deket yah… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s