Belajar Jurnalisme dari Liga Serie A

Hampir semua dari kita -terutama kaum Adam- sangat menyukai sepak bola. Kalau bukan atlet, setidaknya pehobi, kalau bukan pehobi setidaknya suporter, kalau bukan suporter setidaknya pengamat, dan kalau bukan pengamat yah setidaknya penikmat.

Salah satu kompetisi yang paling bergengsi adalah Liga Serie A. Kompetisi negeri pizza ini memang punya rasa khas tersendiri. Ada isu rasisme-fasisme suporter dari kota Roma; isu main sabun atur skor; atau isu mafia konglomerasi. Bukan isapan jempol, pemilik klub-klub Italia adalah para juragan berkantong tebal. Sebutlah tukang minyak Massimo Moratti (Inter Milan) atau mantan perdana menteri Silvio Berlusconi (AC Milan).

Terus terang saya sebal dengan kompetisi yang satu ini. Bukan rahasia lagi, para pemainnya adalah tukang selam alias diving. Ini adalah momok bagi pemain belakang. Cukup satu sentuhan lemah, penyerang lawan akan menarik kedua kaki ke belakang dengan gerakan mengayuh laksana penyelam, membusungkan dada, dan mengambrukkan diri guna mencari hadiah penalti. Beda nian dengan Liga Inggris nan keras dan lugas.

Namun, di balik pernik minor warna-warninya, Liga Serie A memberikan sebuah pelajaran yang berarti bagi kita, para jurnalis. Sudah terlalu jamak kita mengunyah teori tentang bermacam-macam jenis kutipan. Ada statement sahih alias jelas sumbernya dan kutipannya atau on the record. Ada pula informasi background. Ada juga narasumber atribut. Lalu ada informasi yang terkunci alias off the record. Ada pula informasi yang tertunda atau embargo.

Nah, jika kita amati, ada satu hak unik yang disandang oleh klub-klub Italia. Istilahnya silenzio stampa. Jika seorang juru bicara sebuah klub mengutarakan silenzio stampa, maka insan pers harus menghormatinya. Para jurnalis segera meletakkan kamera dan pena, menghentikan peliputan atas klub tersebut. Segala hal yang dirasa privasi klub, haram untuk diliput. Simpang-siur tranfer pemain, kans jadi juara, bahkan suasana latihan pun tak boleh dijamah.

Sampai kapankah silenzio stampa ini dicabut? Ini tergantung oleh klub itu sendiri. Umumnya, silenzio stampa digunakan untuk introspeksi diri klub tersebut. Maklum, seringkali pers memang kejam menyudutkan sebuah klub. Tindak-tanduk pemainnya yang agak arogan, atau kebijakan petinggi klub yang dirasa lamban adalah alasan empuk media untuk menyerang suatu klub. Dengan puasa bicara, mereka bakal terhindar dari rumor yang mengganggu fokus target juara.

Biasanya klub yang puasa bicara ini sedang dirudung kemerosotan prestasi atau masalah lainnya. AS Roma pernah menggunakan hak unik ini pada musim 2001-2002. Kala itu Francesco Totti cs serasa ompong dan merosot drastis. Padahal, semusim sebelumnya, klub sekota Lazio ini mengecap manisnya madu juara (scudetto). Kala itu Roma memang masih ditukangi Fabio Capello dan sejumlah pemain hebat seperti Hidetoshi Nakata (idola saya), Cafu, dan Gabriel Batistuta. Namun sepeninggal mereka, Klub Serigala Merah-Kuning ini kehilangan maginya.

Silenzio stampa agak berbeda dengan embargo. Embargo memungkinkan jurnalis memperoleh akses informasi, cuma masalahnya kapan informasi tersebut boleh dipublikasikan. Sedangkan silenzio stampa, yah, pendek kata memang puasa bicara. Sejak dicanangkannya masa diam tersebut, memang pewarta tak bisa beroleh informasi dari klub ini, walau setitik pun. Entah dari jubir atau humas, pejabat, pelatih, maupun pemain. Dan uniknya, media memang menghormati penuh hak ini.

Well, terlepas dari buruk rupa Liga Italia, kita patut belajar kaidah jurnalisme darinya. Bagaimana Liga Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s