Memento Mori: Mengenang Siti Mutmainah

Kamis, 15 Maret 2007

Kala itu hari kedua saya tidak menyentuh air wudlu untuk menghadap-Nya. Kata orang berhaluan kiri seperti anak-anak Partai Rakyat Demokratik (PRD), saya sedang kena penyakit demor. Demor alias demoralisasi, gambaran surutnya ghirah semangat perjuangan di dalam hati.

Saya tak tahu kenapa, mungkin karena sudah terlalu jenuh meratapi nasib sendiri, karir tak beranjak cemerlang. Entah, atau karena apa. Kata orang bijak, suhu keimanan seseorang bisa naik turun. Hari ini taat, keesokan harinya bisa ngedrop.

Tapi, pada hari Kamis malam itu, saya harus mengambil air penyuci. Saban hari Kamis, saya selalu merapal Surah Yasin. Sudah jadi kebiasaan sejak saya kuliah. Untuk sekadar mendoakan Siti Mutmainah, perempuan yang baru kali ini saya sadari, yang paling sayang kepada saya -bahkan dibanding ibu saya sekalipun.

Saya sudah terlalu sulit menggambarkan raut wajahnya, kecuali jika ada sepotong gambar fotonya, yang terkubur dalam di album yang sudah berdebu. Mbah Siti, perempuan yang telah melahirkan ibu saya dari rahimnya. Saya tak pernah menangi (mengalami masa bersama) Mbah Manan, suami Mbah Siti karena jauh-jauh hari beliau meninggal sebelum saya lahir. Pun saya tak menangi kakek-nenek dari pihak ayah. Karena itulah, Mbah Siti adalah satu-satunya nenek yang saya temui.

Banyak orang bilang, cinta seorang nenek/kakek lebih besar kepada cucunya daripada kepada anaknya sendiri. Kenapa? Setelah anaknya terlanjur beranjak dewasa dan beranak, si nenek/kakek ingin menebus kesalahannya. Mungkin dia sadar, dia punya kekurangan dalam mengasuh anaknya dahulu. Makanya si nenek/kakek ingin melunasi kekurangannya dan mencurahkannya kepada si cucu yang lucu.

Mbah Siti meninggalkan kami dalam usia 73 tahun pada 1990. Kala itu saya duduk di bangku kelas dua SD. Beliau meninggal pada hari Minggu. Justru saya yang masih kecil, malah agak gembira, karena keesokan harinya saya bisa meliburkan diri ke sekolah. Dasar…

Saya teringat, saya selalu melangkahi atau menduduki Mbah Siti ketika dia khusyuk bersujud sewaktu salat. Mbah Siti hanya mengingatkan saya, “Bocah kok nakal.”

Atau sewaktu saya sengaja menyerakkan mainan saya. Entah robot-robotan, motor-motoran, mobil-mobilan, batu bata ala Lego, dan orang-orangan. Saya tinggalkan begitu saja dan dengan sabar beliau meringkasi mainan saya ke dalam laci.

Saya teringat, kebiasaannya tiap siang menjelang sore pukul 15:00 hanyalah bengong di seberang rumah, duduk termangu melihati kendaraan yang lalu lalang di jalan. Sambil pula menunggu bakul jamu langganan kami lewat.

Kalau pagi Mbah Siti doyan memborong kue lopis sampai beberapa pincuk. Tapi toh yang dia lahap hanya sepincuk. Sisanya tergeletak -saya tak suka kue lopis, saya lebih suka kue cining. Dan akhirnya ibu saya menggerutu dengan terpaksa membuang kue lopis yang mubazir.

Tiap malam saya lebih suka tidur di dekapannya, daripada tidur dikeloni ibu, apalagi ayah. Tak lupa saya selalu ambilkan wadah air ludahnya yang dia letakkan di bawah dipan.
Sejak kelas tiga SD, saya tak pernah mengunjunginya di pemakaman Segaran -disebut Segaran karena kalau musim hujan kebanjiran sehingga mirip laut (segara). Mulai kini, cukup saya kunjungi beliau tiap hari Kamis melalui kiriman doa dan Surah Yasin.
Suara hujan gerimis di luar rumah petak yang saya sewa tak terasa memenuhi rongga kepala. Sebiji kaca tak terasa membutir di sudut mata. Pecahlah ia dan mengalir hangat di atas pipi. Saya terkenang akan Siti Mutmainah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s