Akibat Mogok Makan?

Bakteri Salmonella thypii sudah bersarang di dalam tubuh saya. Yah, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Saya kena tipes. Adik saya, sewaktu ngebut menyelesaikan tugas akhir kuliah di Sekolah Tinggi akuntansi Negara (STAN) juga kena tipes.

Well, rusaknya lambung ini sebenarnya sudah saya duga sejak lama. Sekadar pula mengingat remahan kenangan masa kuliah dulu, saya memang pernah mogok makan 7 hari. Dari 7 orang, sayalah yang terakhir kali tumbang. Saya sendiri tak ingat lagi kapan tanggalnya. Yang jelas, awal semester penerimaan mahasiswa baru. Waktu itu saya masih mengikuti semester pendek di sela pergantian semester genap 2001-2002 ke semester ganjil 2002-2003. Yang jelas, sebelum saya menginjak semester 5. Media di Yogyakarta sempat ramai memberitakan, dan dosen saya pun turut bersimpati -maaf, ibu siapa saya lupa, dosen mata kuliah Filsafat Pancasila dan Bahasa Inggris 2. Beruntung pula, akhirnya saya melewati 10 SKS semester pendek ini dengan IP 3,94. Hampir semuanya dapat A, kecuali Filsafat Pancasila yang dapat A- (gak nyombong loooh…)

Yah, kami mogok makan untuk menentang biaya kuliah yang makin mahal. Hmmm, saya begitu rindu merasakan nikmatnya sensasi katarsisitas -untuk tidak menyebutnya ‘onani intelektual’- memegang megacot (Mega Cocot, plesetan buat megaphone, hehehe) sambil koar-koar orasi; memimpin massa menjadi koordinator lapangan aksi-aksi massa; berdebat dalam forum diskusi; menulis artikel opini di media massa; serta rapat hingga malam-malam membahas program kerja organisasi…

Saya begitu teringat orasi sambutan guru besar Fakultas Filsafat Damardjati Supadjar, ketika menyambangi kampusnya. Beliau menggapai megacot yang kami pegang. Dengan suara lirih namun tegas, beliau berujar, “Ada dua tempat yang berlawanan sifatnya. Kalau mau menggapai pahala, ke masjidlah. Kalau mau ke sarang dosa, ke pasarlah tempatnya. Jika dunia pendidikan sudah berkaca kepada pasar, di mana biaya pendidikan menjadi mahal, tunggulah masa kebangkrutannya…” gemuruh tepuk sorai pun membahana ke langit biru cerah. Yah, sangat cerah, secerah harapan kami -kala itu- yang kami usung ke gedung rektorat…

Yah, benar… saya merindukan masa-masa bergelegak itu… benar-benar mendambakannya kembali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s