Jurnalisme Curhat?

Saya sangat tergelitik dan tertarik akan tanggapan salah seorang pembaca atas berita yang pernah saya buat. Kebahagiaan seorang jurnalis adalah karyanya dibaca dan lebih jauh dari itu, pembaca memberikan tanggapan dan kritikan. Dunia jurnalisme saat ini sudah berganti rupa, bukan lagi masanya jurnalisme searah –di mana jurnalis dengan medianya hanya mencekoki para pembaca dengan berbagai berita dan kabar. Pembaca saat ini harus memiliki akses juga, menanggapi berita yang kita buat. Jadilah era jurnalisme dua arah. Kala itu saya menulis kisah dua sejoli jurnalis di sebuah grup media besar di Indonesia. Mereka menikah, namun salah satunya harus keluar kerja –dengan alasan tak boleh ada karyawan suami-istri dalam satu perusahaan. Padahal di UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, tak satu pasal pun yang melarang antarkaryawan menikah dalam satu atap lingkungan kerja. Kasus tersebut sudah masuk ke persidangan Persilisihan Hubungan Industrial DKI Jakarta. Pembaca tersebut –entah bermaksud menyindir atau memuji– menulis, gaya tulisan saya bisa disebut jurnalisme curhat. Baru kali ini saya dengar istilah tersebut. Kalau “jurnalisme empati” saya memang pernah dengar –meski belum menggali lebih dalam definisinya. Tapi kalau jurnalisme curhat? Hmmm, istilah yang menarik juga. Kenapa menarik? Jurnalisme –setidaknya seperti apa yang kita percaya hingga kini, atau mungkin hal itu hanya mitos belaka? (Kovach dan Rosenstiel, Sembilan Elemen Jurnalisme)– sangat jelas ada untuk melayani publik. Sedangkan curhat, adalah wilayah pribadi yang tak boleh disebarluaskan menjadi konsumsi masyarakat. Kalaupun ada narasumber yang curhat, hampir bisa dipastikan informasi yang didapat hanyalah off the record –atau paling banter backgrounder sumber anonim yang sangat rentan dipelintir. Istilah itu menarik karena mengandung ambiguitas.  Saya sadar, setelah membaca berita yang saya buat sendiri, saya jomplang. Artinya, saya terlalu condong banyak mengutip pernyataan salah satu pihak narasumber –dalam hal ini si jurnalis eh karyawan yang saya yakini sedang teraniaya haknya sebagai pekerja. Saya kurang dalam menggali pernyataan dari pihak manajemen atau si pimred media tersebut. Inikah yang dimaksud si pembaca tadi? Bahwa saya menampung curhat si jurnalis? Saya sendiri belum tahu.  Usaha itu bukannya tak ada. Saya tahu betul prinsip cover both side, akurasi, validitas, dan segala macam tetek yang bengek tentang kaidah jurnalistik. Saya sudah berusaha meminta tanggapan dari si kuasa hukum. Biasanya dalam kasus apapun, kedua belah kubu pengacara selalu obral omong. Tapi kali ini si kuasa hukum manajemen bungkam.  Well, bukannya mencari-cari pembenaran, tapi toh jurnalis tetaplah manusia yang kental diselimuti oleh subjektivitas. Meskipun jurnalis mengusung subjektivitas tersendiri, dia kudu senantiasa bekerja dengan metode yang seobjektif mungkin (Kovach dan Rosenstiel, Ibid). Dan itu saya yakin sudah saya lakukan –menimbang juga tarikan deadline yang begitu ketat hehehe… Hmmm, kembali ke laptop… eh jurnalisme curhat. Sayangnya sampai sekarang, istilah tersebut bagi saya masih jauh dari terang pengertian, pemahaman, dan penjelasannya. So, adakah yang bisa merumuskannya? Saya masih hijau meneguk pengalaman di padang jurnalisme ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s