Atlet, Contoh Nyata Buruh Kontrak

Kaum buruh Indonesia sangat concern dengani isu karyawan kontrak. Jika statusnya hanya konrak, mereka hanya bekerja dengan standar hak yang minim, dalam rentang waktu singkat, setelah itu menganggur dan kembali mulai dari nol mencari tempat kerja –sebagai buruh kontrak lagi. Hak karyawan kontrak jauh di bawah standar karyawan tetap –baik itu hak cuti, jaminan kesehatan, dan tunjangan lainnya.  Saya begitu trenyuh pada nasib buruh di sini. Pengusaha kita begitu manja meminta berbagai insentif kemudahan berinvestasi dan keringanan pajak. Pun, pengusaha punya akses luas menembus lobi ke lingkungan penguasa. Beda nian dengan buruh.  

Kebahagiaan saya (sebagai buruh) hanya datang setahun sekali, yaitu pada hari natal kaum buruh sedunia, saban 1 Mei. Sudah dua kali ini saya ikut aksi massa long march di Jakarta merayakan hari buruh sedunia.  Kembali lagi ke isu karyawan kontrak. Sebenarnya isu buruh kontrak ini buah dari hasil guliran kesepakatan di tingkat internasional, yaitu WTO. Hanya saja, standar kesejahteraan yang dipakai begitu jauh, bak langit dan bumi. Standar gaji buruh kontrak (dengan upah mingguan sekalipun) negara manca jelas masih tinggi dibanding dengan buruh kita.  

Saya punya contoh yang menarik siapa buruh kontrak. Tak jauh-jauh dari kegemaran kita (olah raga), dialah si atlet –kalau berhasil tenar akan menjadi setara dengan selebritas seperti David Beckham. Bukankah statusnya benar-benar kontrak? Jika kontrak habis si atlet bisa melamar ke klub lainnya. Apakah mereka punya jaminan kesejahteraan setelah pensiun? Hanya atlet yang benar-benar berprestasi saja yang bisa merangkai masa depannya.  Atlet yang kurang berprestasi harus berjuang sekuat tenaga atau kalau tidak menyerah pada keadaan dan pindah profesi lain –entah menjadi PNS atau pegawai swasta atau berwirausaha. Saya teringat pada calon istri saya –seorang atlet panjat dinding DIY. Dia terima gaji memang sesuai kontrak. Dan gaji itu mentahan. Artinya tak ada komponen pensiun atau jaminan lainnya. Apa jadinya masa depannya jika dia gantung harnes (bukan gantung sepatu kayak pesepakola loh)? Usianya sudah menua dan jelas jauh melewati batas minimum pencari kerja –jika nantinya dia melaar menjadi karyawan di sebuah instansi. 

Soalan keselamata kerja? Saya pikir atlet sama saja rawan risiko. Jika buruh pabrik sangat rentan mengalami kecelakaan tergencet atau tergiling mesin, sama saja, atlet sangat jelas dihantui peristiwa cedera. Bagaimana kalau cederanya fatal? Beruntunglah jika ada asuransi. Tapi kalau tidak? Taruhannya adalah karier. Tak jarang atlet yang harus tutup karier karena sudah temakan cedera. Kalaupun bisa pulih, kinerjanya belum bisa dijamin sekinclong dulu, ketika dia belum “retak”.   Atlet juga tak ada jaminan bisa berkesinambungan hidup dari bonus-bonus yang dia dapat. Karena minimnya pengetahuan mengelola keuangan, percayalah, bonus ratusan juta atau rumah akan ludas kurang dari sebulan. Contoh nyata, kawan calon istri saya itu –seorang atlet dari Kalimantan Timur. Atau, contoh yang mencuat di media adalah nasib petinju pujaan kita, Elias Pical.  Well, jika penghargaan kita terhadap atlet saja masih minim, jangan heran, prestasi kita di kancah Asia Tenggara (SEA Games atau Piala AFC –dulu Piala Tiger), Asia (Asian Games dan Piala Asia), bahkan dunia (Olimpiade) semakin lama semakin merosot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s