Resensi Film North Country: Film tentang Hukum dengan Pendekatan Emosional

 Film tentang gugatan class action pertama kasus pelecehan seksual di Amerika Serikat. Bercerita tentang kerasnya perjuangan buruh tambang perempuan pada akhir era 1980-an. Dibintangi beberapa nama besar –dengan pendekatan emosional.

Judul : North Country

Produksi : Warner Bros Pictures dan Participant Productions

Distributor : Warner Bros Pictures, 2005

Produser : Nick Wechsler

Sutradara : Niki Caro

Skenario : Michael Seitzman

Durasi : 120 menit

Pemain : Charlize Theron, Richard Jenkins, Sean Bean, Frances McDormand, Woody Harrelson, Sissy Spacek, Jeremy Renner, Michelle Monaghan, Linda Emond, Elle Peterson, Thomas Curtis

Anda tentu tak asing dengan nama Chalize Theron. Dialah penyabet aktris terbaik Academy Award 2004 (dalam film Monster). Aktris berdarah Afrika Selatan ini sedang tidak beraksi jumpalitan baku tembak dan baku hantam seperti di filmnya Aeon Flux. Lupakan sejenak film genre female action heroes itu –semisal Tomb Raider (Angelina Jolie), Ultraviolet dan Resident Evil (Milla Jovovich), Underworld (Kate Beckinsale), atau Cat Woman (Halle Berry).

Kali ini Charlize bertarung di atas meja hijau –berperan sebagai Josey Aimes. Charlize didukung oleh sederet artis yang mumpuni. Sebutlah nama kawakan aktor Richard Jenkins (Hank Aimes, ayah Josey) dan aktris Sissy Spacek (Alice Aimes, ibu Josey). Jangan lupakan pula Sean Bean (Kyle), aktor yang sukses dalam film Silent Hill –film yang diilhami dari gim RPG horor terlaris yang dikembangkan konsol Playstation. Bean juga nongol sebagai Boromir dalam trilogi The Lord of The Rings. Ada pula polah nakal Thomas Curtis (Sammy Aimes, anak sulung Josey) dan tingkah menggemaskan aktris cilik Elle Peterson (Karen Aimes, anak bungsu Josey).

Karena perannya yang menggigit inilah Charlize kembali meramaikan nominasi aktris terbaik Academy Award 2005 lewat film ini. Sutradara Niki Caro pun pernah sukses menggondol berbagai penghargaan lewat film The Whale Rider (2002). Tak kurang dari AS$35 juta dana digelontorkan untuk membuat film ini.

Adalah Josey, orang tua tunggal dengan dua anak –Sammy dan Karen. Josey menyusul ayahnya bekerja sebagai buruh perusahaan tambang logam Pearson Taconite and Steel, Inc. di daerah Minnesota Utara. Di sana dia bertemu dengan beberapa buruh perempuan. Teman terdekatnya adalah Glory Dogde (Frances McDormand).

Jumlah buruh perempuan begitu sedikit dibanding jumlah tenaga pria –dengan total pekerja 300 orang. Tak jarang mereka mengalami pelecehan seksual baik verbal maupun fisik. Coretan tulisan nan menusuk perasaan di tempat kerja maupun di ruang ganti pakaian adalah makanan setiap hari. Sempat Josey dan kawan-kawan menemukan alat bantu seks di dalam kotak makan siang. Pernah pula teman kerja pria Glory merogoh saku baju di bagian dadanya dengan alasan meminta rokok. Yang paling parah, teman Josey lainnya, Sherry (Michelle Monaghan), menemukan pakaiannya terkena bercak sperma ketika dia membuka loker. Buruh pria yang getol melecehkan mereka adalah Bobby Sharp (Jeremy Renner) –yang justru adalah kekasih Josey sewaktu sekolah.

Selain pelecehan, buruh perempuan tak memperoleh fasilitas semacam tunjangan kesehatan. Padahal beban kerja mereka sama beratnya dengan buruh pria. Karena bekerja terlalu keras, Glory terserang penyakit Lou Gehrig –yang menggerogoti satu per satu organ tubuh hingga lumpuh. Akibatnya, Glory dipecat dan tak dibela oleh serikat pekerja. Untunglah dia memiliki Kyle, suami yang sabar.

Habis sudah kesabaran Josey mengalami ketidakadilan. Meluncurlah dia ke kantor pusat menemui Don Pearson, si pemilik perusahaan. Namun Pearson justru hendak memecatnya jika Josey sudah tidak kerasan bekerja.

Josey pun berniat menggalang dukungan kawan-kawan perempuannya. Namun mereka takut mengungkapkan suaranya. Bahkan, Glory pun sulit memberikan dukungannya –meski dipecat secara tak adil.

Selanjutnya Josey menyewa pengacara Bill White (Woody Harrelson), sahabat karib Kyle. Bulat sudah tekad Josey memperkarakan kasus ini melalui gugatan class action. Dari hari ke hari keduanya makin akrab. Apalagi, Bill adalah bekas pelatih hockey, olahraga favorit Sammy.

Josey dan Bill mencoba jalur serikat pekerja. Maklum, class action baru bisa dikabulkan jika pihak penggugat setidaknya terdiri dari tiga orang. Bukannya dukungan, justru cemoohan yang mereka dapat. Di bawah pengaruh Bobby, serikat pekerja enggan memberikan dukungan. Bobby menebar provokasi, jika gugatan class action dimenangkan, perusahaan ini akan tutup dan para pekerja akan menganggur.

Tak beroleh dukungan, Josey dan Bill tetap maju ke meja hijau melawan Pearson yang menyewa pengacara perempuan Leslie Conlin (Linda Emond). Uniknya, dalam sebuah percakapan internal, Leslie justru menyarankan Pearson memenuhi tuntutan buruh perempuan. “Langkah Anda akan menjadi kebijakan awal yang akan diikuti oleh perusahaan tambang manapun,” ujarnya.

Sayang, Pearson juga bersikukuh. Dia berujar tak perlu menuruti keinginan buruh perempuan itu karena buruh tambang sebenarnya adalah pekerjaan laki-laki. Sejak awal mereka harus sadar betapa beratnya bekerja di pertambangan. Secara mengejutkan, Leslie pun membalik jawaban itu, “Demikian halnya dengan pekerjaan pengacara (yang masih didominasi pria).”

Pendekatan Emosional

Sayangnya, Anda bakal sedikit kecewa lantaran film ini minim menyuguhkan pertarungan argumentatif kedua belah kubu pengacara. Film ini bukanlah serial Ally McBeal, film A Few Good Men, atau sejenisnya –yang sarat argumen hukum serta pertanyaan dan pernyataan kejam si kuasa hukum. Baik Bill (kubu Josey) maupun Leslie (pihak Pearson) tak mengumbar pasal-pasal kitab hukum pidana. Justru Bill cenderung agitatif ketika mengajak teman-teman Josey lainnya dalam mendukung class action ini –di ruang sidang.

Keringnya pendekatan argmentatif ini mungkin ada benarnya. Nampaknya Niki hendak membingkai film ini dengan pendekatan emosional. Justru jurus inilah yang telak menembak benak pemirsa. Titik perhatian nan paling menarik justru bukan di meja hijau. Melainkan, peran Josey sebagai orang tua tunggal. Hal ini nampak jelas pada adegan-adegan pertengkaran Josey dengan Sammy disusul dialog penuh air mata di antara kedua ibu-anak ini. Pernah suatu ketika Josey pulang terlalu larut. Ditemukannya Sammy mabuk menenggak minuman keras di dalam kamar mandi.

Josey selalu berusaha menyenangkan kedua anaknya. Hal ini terlihat dengan usaha menraktir Sammy dan Karen ke restoran maupun memberi kado seperangkat alat hockey buat Sammy dan trampolin bagi Karen. Karena itulah, dia memutuskan banting tulang menjadi buruh tambang. Keputusan Josey sempat ditentang ayahnya dan bahkan membuat Sammy benci padanya.

Saya hanya ingin seperti orang lain. Bekerja dan mendapat upah mingguan, serta menghidupi kedua anak saya,” tuturnya dalam sebuah orasi pada forum serikat pekerja tambang logam.

Di bagian akhir, Sammy begitu riang gembira diajari Josey menyetir mobil di sepanjang perjalanan pulang setelah berlatih hockey. Maklum, usia Sammy semakin bertambah sehingga dia ngebet bisa mengemudi. Hubungan antara ibu dan anak makin erat, sebagai ending manis film ini.

Lawan main Charlize, Frances pun mengakui, “Film ini begitu emosional tanpa menjadi sentimental.” Memang benar. Anda tak akan menemukan Josey dan Bill bakal jadian. Josey tetaplah orang tua tunggal yang tangguh di mata kedua anaknya.

Dari Kisah Nyata

Film besutan sutradara perempuan Niki Caro ini hanya fiktif belaka. Namun kehadiran film ini dibaluri kisah nyata yang tertuang dalam buku “Class Action: The Landmark Case that Changed Sexual Harassment Law” karya Clara Bingham dan Laura Leedy Gansler. Buku ini menceritakan gugatan class action pertama di Amerika Serikat –bahkan di dunia– untuk kasus pelecehan seksual pada 1989.

Kisah ini terajut dari peristiwa yang dialami oleh para buruh tambang logam perempuan di Negara Bagian (state) Minnesota bagian utara. Sejak 1975 perusahaan pertambangan logam di Minnesota Utara telah mempekerjakan buruh perempuan untuk pertama kalinya. Namun, hingga 1989, jumlah pekerja pria masih mendominasi –dengan perbandingan angka 30:1.

Kondisi yang tak berimbang tersebut membuat pekerja perempuan rentan mengalami perlakuan tak adil di lingkungan kerjanya. Lois Jenson adalah salah satu buruh tambang logam yang mengalami pelecehan seksual selama 9 tahun. Bersama sejumlah buruh perempuan lainnya, Lois mengajukan gugatan class action lawsuit. Akhirnya, kaum buruh perempuan yang bekerja di padang tambang besi (iron range) Mesabi memenangi sejumlah kompensasi finansial yang layak.

Sejak itu, kemenangan kaum buruh ini diadopsi dalam penyusunan Undang-Undang Pelecehan Seksual (Sexual Harassment Law) di Amerika Serikat –dan gaungnya bergema ke penjuru dunia. Untuk lebih jauh menelusurinya, silakan mengunduh laman www.participate.net/standup.

Kaum buruh perempuan begitu rentan menerima pelecehan seksual baik secara fisik maupun pikiran. Parahnya, banyak teman kerja yang melihat namun tak bisa bahkan tak ingin membantu mereka,” tutur sutradara Niki.

Melihat latar belakang fakta tersebut, Charlize begitu antusias. “Para narasumber begitu baik hati menceritakan pengalamannya. Sepanjang karir film saya, saya sangat mendambakan peran istimewa ini,” ungkapnya bangga.

Lawan mainnya, Woody, berujar setali tiga uang. “Ini film yang penting. Film yang berkisah tentang little people against the machine,” tuturnya serius.

Film ini begitu pas dinikmati pada waktu senggang sembari mengusir penat –misal di akhir pekan, ataupun malam hari sepulang kerja. Selain pecinta film, para pegiat serikat pekerja, aktivis gender, maupun pekerja di bidang hukum sangat dianjurkan mendaras film yang satu ini. Latar pembuatan film ini pun asli di kota-kota Negara Bagian Minnesota: Eleveth, Virginia, Chrisholm, Hibbing, dan Minneapolis. Apalagi, Anda bakal dimanja oleh lantunan suara Bob Dylan yang mengisi soundtrack-nya. Well, silakan menonton.

One response to “Resensi Film North Country: Film tentang Hukum dengan Pendekatan Emosional

  1. Dimana saya bisa mendapatkan CD tersebur. Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s