Mau Saingan Ngrokok sama Orang Indonesia?

Sungguh gembira, saya mendapat kesempatan menghadiri perjumpaan wartawan se-Asia Tenggara di Bali, 3-9 Desember silam. Perhelatan Regional for News Safety Conference and Training for Frontline Journalist ini diselenggarakan oleh International News Safety Institution (INSI) kantor regional Asia Tenggara.

Saya bisa berkumpul dengan wartawan dari Filipina, Burma (hmmm, mereka lebih memilih diksi Burma daripada Myanmar. Myanmar adalah bahasanya, dan Burma adalah negeri dan bangsanya), Thailand, Kamboja, Pakistan, serta tentu saja Indonesia.

Indonesia sendiri diwakili oleh saya (Aliansi Jurnalis Independen [AJI] Jakarta), Bambang Muryanto (AJI Yogyakarta), Andika (AJI Bali), Lensi Mursida alias Nyonya Abdul Manan (International Federation on Journalist [IFJ] Indonesia), serta Meutya Hafid dan Bambang Hamid (Metrotv).

(Keterangan gambar dari kiri: Mas Bambang AJI Yogya, Andika AJI Bali, Meutya Hafid, pemateri Tom Oneill dari AKE, saya, dan Mbak Lensi AJI Indonesia. Mas Bambang Metrotv tak ikut berfoto.)

Seperti jurnalis kebanyakan, kawan-kawan saya ini pun gemar merokok -memang ada beberapa yang tidak. Cuma, ketika saya sodorkan rokok indonesia, mereka cenderung menggeleng. Rupanya, mereka tak terbiasa merokok cengkih. Bahkan, Ronald, wartawan BBC Thailand asal Burma bilang, “It’s irritate my tounge.” Kebanyakan mereka hanya paling banter nyedot Marlboro yang 100% bertembakau.

Anehnya, Ronald mengaku suka mencium bau asap rokok saya. Saya coba sodorkan Djarum Black Cappucino. Tentu negara lain belum bisa bikin rokok berasa kopi, kapucino, atau teh kan? Nampaknya dia cukup suka, meski belum beradaptasi dengan rasa cengkih. Sebagai kenang-kenangan sebelum kami berpisah, saya berikan bungkus Djarum Black Cappucino itu. Karena memang itu yang bisa saya berikan. Hehehe…

Dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata dan sering susah nyambung, saya jelaskan pula bahwa masih banyak jenis rokok yang lebih berat daripada rokok bercengkih. Misalnya rokok yang dikonsumsi orang-orang desa di Jawa: racikan klembak, kemenyan, cengkih, tembakau. Hmmm, lebih dahsyat daripada cerutu.

Mereka bertanya, apakah dicampur hasyis? Saya jawab sama sekali tidak. Hasyis sendiri adalah khas Timur Tengah. Konon, sebelum berangkat perang, para pasukan (perang salib, terutama), menghirup hasyis supaya jalang dan berani. Karena itulah, tercipta kata assasin.

Semua rokok di Indonesia memang bercengkih, kecuali Marlboro atau merek asing. Red Batario, koordinator INSI Asia Tenggara nimbrung menimpali, “Indonesia is famous because of kretek. It sounds kretek-kretek if you smoke it.” Rupanya dia sedikit banyak tahu juga.

Rupanya orang luar negeri hanya berani merokok tembakau. So, daripada meratapi anjloknya prestasi kita di Asian Games, kita masih punya prestasi dalam bidang rokok kan? Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s