Cinta dan “Romantisme” dalam Peliputan Jurnalistik

Oleh Satrio Arismunandar, Producer News Division Trans TV

satrioarismunandar[at]yahoo[dot]com

Mereka yang baru menjalani profesi jurnalis, entah jurnalis media cetak ataupun elektronik, pasti diajari untuk “menjaga jarak” yang pas dari narasumber. Seorang jurnalis harus cukup dekat dengan narasumber, agar narasumber itu mau bersikap terbuka, mau bicara dan memberi informasi padanya.

Tapi juga jangan terlalu dekat, agar tidak terjadi konflik kepentingan. Bukan tak mungkin, narasumber justru akan memanfaatkan kedekatan itu dan memperalat sang jurnalis, untuk agenda kepentingan si narasumber itu sendiri.

Di atas kertas, kedengarannya konsep “menjaga jarak” ini mudah saja dilakukan. Tapi benarkah demikian? Hmm, situasinya sebenarnya tidaklah selalu demikian. Mengapa? Jawabannya sederhana saja: karena jurnalis juga manusia! Punya rasa, punya hati. Dan, jangan lupa, juga punya kepentingan sendiri!

Nah, yang akan saya tuturkan di bawah ini adalah hasil renungan, ketika menjadi jurnalis merangkap producer di Divisi News Trans TV. Tetapi sebenarnya, ini adalah akumulasi percik-percik permenungan, sejak saya belajar jurnalistik sebagai reporter di pers kampus Warta UI, yang berlanjut ke media cetak profesional seperti Pelita, Kompas, D&R, Media Indonesia, yang akhirnya singgah di Trans TV.

Pertama, kepada rekan-rekan reporter, yang sering mewawancarai narasumber di lapangan, saya ingin mengajukan pertanyaan sederhana: Pernahkah Anda merasa simpati atau empati pada seorang narasumber? Anda ikut merasakan dan menghayati penderitaannya, ketakutannya, keraguannya, dan masalah-masalah berat yang menindihnya? Atau, lebih jauh lagi, apakah Anda pernah merasa jatuh hati atau jatuh cinta pada seorang narasumber?

Anda mungkin balik bertanya: Apakah hal itu mungkin terjadi? Ya. Mengapa tidak? Setidaknya itulah yang terjadi pada Mayong Sutrisno dan artis Nurul Arifin. Mayong, waktu itu sebagai wartawan, mewawancarai Nurul. Pertemuan dan sesi wawancara itu rupanya sangat berkesan pada keduanya, khususnya pada Nurul. Cinta pun bersemi, wawancara menghasilkan kencan, pacaran, dan mereka akhirnya menikah.

Ya, Mayong dan Nurul adalah contoh yang agak dramatis. Namun, sebenarnya banyak contoh lain, dalam level yang lebih sederhana, yang lebih sering terjadi. Saya tidak menyebutnya “cinta,” tetapi “romantisme” kecil, yang kadang-kadang kita temui dalam suatu tugas peliputan jurnalistik.

Yang terlibat di sini tidak harus narasumber penting. Mungkin ia hanya seorang sopir, atau pemandu wisata, yang menunjukkan lokasi liputan pada kita. Mungkin juga, ia hanya seorang sekretaris kantor kelurahan, atau seorang perawat di rumah sakit daerah, atau bahkan hanya seorang penumpang lain, yang kebetulan duduk di sebelah kita di kereta api atau pesawat terbang!

Yang agak sering terjadi, pertemuan itu hanya menimbulkan sedikit “kesan manis”, tapi tidak beranjak ke tahap yang lebih serius semacam kencan, apalagi pacaran. Tapi “kesan manis” itu pun cukup untuk mewarnai tugas peliputan kita.

Apakah ini yang dinamakan “cinta lokasi?” Bukan. Bukan yang seperti itu. Tapi harus diakui, ada semacam “chemistry” –kombinasi yang pas antara situasi peliputan, suasana hati, tekanan deadline, cuaca, timing, dan lain-lain—yang menimbulkan perasaan-perasaan tertentu.

Dalam menghadapi situasi semacam ini, ada dua pilihan bagi si jurnalis. Kita hanyut mengikuti arus perasaan itu, yang sering akhirnya menghasilkan “kesimpulan-kesimpulan yang keliru.” Atau, kita sejak awal menyadari, bahwa ini adalah momen perasaan-perasaan sesaat, yang sebaiknya diterima apa adanya saja, tetapi jangan terburu-buru disikapi berlebihan. Karena mungkin hanya akan membuahkan kekecewaan.

Tapi tentu saja, semua yang saya uraikan ini sangat bersifat subyektif, karena hanya berdasarkan pengamatan dan perenungan pribadi. Mungkin para jurnalis lain, akan memiliki kesimpulan yang berbeda, karena basis pengalaman dan perenungannya juga berbeda. Itu sah saja.

“Romantisme” dalam tugas peliputan tak bisa dirumuskan secara jelas plus-minus dan hitam-putihnya. Tidak ada pilihan yang benar atau salah di sini.

Namun, justru karena nuansa abu-abu dan kesamaran itulah, tugas peliputan ke tempat dan suasana baru; risiko, masalah dan tantangan baru; dan bertemu orang-orang baru; bagi saya selalu menarik, tak pernah menjemukan. Dan kehidupan kita sebagai seorang jurnalis pun menjadi semarak, menjadi berwarna, menjadi bermakna..…

Newsroom Trans TV, 29 November 2006

“Tetaplah bersinar seperti mentari,
memberikan seluruh cahaya
tanpa mengharap kembali….”

Catatan: Terima kasih atas izinnya yang diberikan oleh si penulis untuk saya posting di blog ini. Menurut Bung Satrio, apa yang ditulis beliau ini, belum ada 10% dari pengalaman yang dia alami.

One response to “Cinta dan “Romantisme” dalam Peliputan Jurnalistik

  1. Dharma Syahputra Purba

    terima kasih Saya ucapkan buat abangnda yang telah mau berbagi pengalamannya, sehingga menambah ilmu pengetahuan Saya di bidang Jurnalistik, khususnya media elektronik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s