Ke Jakarta Aku ‘Kan Kembali…

Hmmm, setelah dua bulan nganggur jadi panji klantung, akhirnya saya harus mengadu nasib lagi ke Jakarta. Sebelumnya, sudah hampir dua tahun saya menjadi jurnalis di sebuah media ekonomi dan bisnis yang cukup tenar. Namun saya memutuskan untuk resign agar bisa bernafas membuang penat sejenak.


Senyampang mencari ilham, saya habiskan waktu saya di Yogyakarta. Nglamar punya nglamar, iseng punya iseng, saya coba mengadu peruntungan ke sebuah media terkemuka di Solo. Dasar nasib, saya belum beruntung belum diterima di sana. Di Solo saya ketemu Todi, mantan jurnalis Syirah. Tak disangka dia resign dan balik kampung. Mantan pegiat pers mahasiswa Pijar Fak. Filsafat ini sekarang sudah beristri dan tinggal di daerah sekitar pabrik Konimex. “Karena itulah, aku gak mau kerja lagi di Jakarta. Cukup di kampung saja,” ujarnya di satu siang sehabis tes seleksi (di media Solo itu tadi).


Akhirnya saya harus mengadu nasib lagi, dan peluang itu (ndilalahe) kok kembali ada di Jakarta. Akhirnya, Desember ini, saya kembali ke Jakarta, dan (kembali) menjadi jurnalis. Maksud hati ingin lebih dekat dengan keluarga yang tinggal di Pati (bapak-ibu) serta calon istri dari Ponjong, Gunungkidul. Tapi apa daya, mungkin nasibnya harus kembali ke Jakarta.


Dengan berat hati saya pun harus berpisah dengan teman-teman kampus UGM (baik yang sudah lulus dan masih kuliah). Saya belum ketemu Januar (Fak. Psikologi, mantan Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Psikomedia) dan Ari Priambodo alias Bodong (Fak. Filsafat, mantan pegiat Pers Mahasiswa Pijar). Januar sejak liburan Lebaran, dia masih di Kudus, kota asalnya. Masih betah juga dia jadi mahasiswa belum rampung-rampung juga sripsinya. Kalau Ari, kabarnya dia lagi ngurusi demo warga Parangtritis yang kena gusur. Dia sekarang bisnis serabutan. Jadi EO, jualan kacang, pokoknya cari duit sehingga belum lulus juga. Kabarnya, dia mau nabung buat nikah. Saya salut pada orang seperti Ari, yang berusaha mencari rejeki dengan tenaganya sendiri. Serta Arsih, teman satu organisasi LMND dulu. Dia baru lulus kuliah tahun ini dan lagi nyoba peruntungan tes Deplu. Kabarnya, bukunya bulan Desember ini mau terbit. Sayang, saya belum sempat ketemu.


Saya juga ketemu anak-anak Equilibrium, pers mahasiswa tempat saya beraktivitas dulu serta komunitas B21 atau anak-anak Balairung. Sekali saya ketemu Agus Supriyanto, jurnalis Tempo, kakak kelas Akuntansi 1999. Dia berkunjung ke Yogya dengan alasan si Agung, adiknya, baru saja wisuda. Uniknya, si Agung ini yah ketemu saya pas tes di Solo. Hehehe… Saya diajak Agus ngisi bareng sesi teknik reportase dalam diklat jurnalistik Equilibrium. Senangnya, daripada nganggur, sekali-kali punya kesibukan.

Lantas saya juga ketemu Arif Rahman Hakim, mahasiswa Ekonomi Pembangunan 2001 yang sedang menyusun skripsi. Mantan ketua FMN cabang UGM ini masih semangat ngomongin gerakan mahasiswa. Terakhir dia live in di perkapungan buruh Tangerang selama 10 bulan. Baru Maret lalu dia pulang. Sosok yang langka di tengah profil mahasiswa kini yang makin seragam: pragmatis, gak idealis blas, ingin IPK tinggi dan lulus cepat alias cum laude. Kami sempat diskusi bagaimana merumuskan upah layak bagi petani di Klaten, sebagai tema skripsinya. Hmmm, menarik sih. Apalagi dia sempat ngajak buat buku. Tapi belum ada ide yang menyata, masih sekadar basah-basah bibir. Dari menjual sepeda motornya dan usaha jualan beras, dia sekarang bisa beli laptop. Modal buat nulis dan menterjemahkan buku, katanya.

Lalu ketemu Romna alias Mama. Cah kemplu asal Parangtritis ini masih asyik saja di dunia luar, sehingga masih awet tercatat sebagai mahasiswa D3 Fakultas Ekonomi. Pandangan-pandangannya masih seperti dulu. Tentang kehidupan, tentang pekerjaan, pokoknya pecinta alam banget deh. Dia masih berkarya di perusahaan outbound. Sempat kami bertiga, saya, Mama, dan Murjayanti calon istri saya ngobrol di keremangan malam di angkringan sudut Stasiun Tugu berteman kopi jos.

Kegiatan lainnya, bertandang ke Ponjong menjenguk camer Bu Parti dan kakak si Mur, Mas Gito. Gunungkidul kala itu sama sekali belum tersentuh hujan setitik pun. Di samping itu, saya menemani si Mur berlatih panjat dinding. Maklum, dia sedang persiapan Kejurnas di Bogor Desember ini. Paling ketemu Mas Rosyid dan Mbak Etak (pasangan suami-istri peraih medali emas di PON Palembang 2004). Kini mereka dikaruniai satu putra, si Farhan. Pernah si Mur bercerita, dia habis lihat acara talkshow di teve, waktu itu pembicaranya Ahmad Dhani Dewa. Ketika si Dhani bertandang ke Amerika Serikat, dia tanya kepada warga sana. Siapa orang Indonesia yang Anda kenal? Jawabannya, bukan SBY, bukan pejabat, bukan artis, melainkan Etty Hendrawati. Yah, si Mbak Etak itu.

Selain itu yah, ketemu teman-teman si Mur sesama atlet panjat dinding. Ada Mate, Mas Toni, Cebong, Anang, Tru, Fitri, Golok, Jajat, Wahyu, Bayu.


Selain itu, saya sempat pulang ke Pati bertemu bapak, ibu, adik, dan kucing-kucing kesayangan saya. Sebelum berangkat ke Jakarta, saya sempatkan bertandang ke Yogya. Hari-hari terakhir ini serasa berat. Maksud hati pengen seperti si Todi. Bekerja (tepatnya mencari pekerjaan) sambil dekat dengan keluarga. Tapi…

Selamat tinggal Pati, selamat tinggal Yogyakarta yang makin angkuh dan bersolek memaksa diri menjadi seperti Jakarta. Selamat tinggal Mur dan keluarga. Selamat tinggal bu kos Bu Wagiyem. Selamat tinggal kawan-kawan. Ke Jakarta, aku kan kembali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s