Rambutan pun Enggan Berbuah

Saya masih hapal. Tahun 2000 lalu, saya pertama kali menjejak kota Yogyakarta untuk meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di rumah kos saya -waktu itu, yang terletak di Kompleks Perumahan Swakarya, Jalan Kaliurang Km 4,5, tumbuhlah pohon rambutan. Saban bulan Oktober-November, pohon tersebut siap berbuah. Puncaknya tentu pada bulan November, buah nan ranum merah siap dipanen. Hmmm… tentu saja kita harus siap-siap bersaing dengan semut-semut kecil. Seringkali serangan gigitan mereka menusuk kulit luar dan menimbulkan rasa gatal perih. Tapi tak mengapa. Yang penting, buah rambutan hasil dari penantian panjang dapat kita raih.

 

Teringat pula saya pada masa-masa di Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Di sanalah saya mengabdi Kuliah Kerja Nyata (KKN). Beberapa warga menanam pohon rambutan di halaman rumah yang masih luas. Setiap bulan November, buah nan merah manis siap kita sergap. Sebelumnya, bulan Agustus-September adalah masa rajang (memotong) tembakau, yang dipanen bulan Mei-Juli. Pada masa itu pulalah, masa panen jeruk. Tak heran, sebagai penghasil jeruk, Magelang juga punya rokok andalan bermerek Djeruk.

 

Nah, baru saja kita menikmati panen mangga. Tetangga kos saya yang ada di daerah Janti, Yogyakarta, punya pohon mangga besar. Setiap kali buahnya jatuh, saya pun ikut menikmatinya. Segar-manis juga. Namun, sebenarnya apa yang saya tunggu-tunggu adalah buah rambutan. Sayang, hingga pertengahan kedua November ini, si rambutan tak kunjung juga berbuah.

 

Nampaknya, kita sedang mengalami pergeseran cuaca. Cuaca-cuaca yang makin bergeser tentu akan menggeser musim. Tanda dan gejalanya gamblang. Banyak sumber air yang kekeringan, musim hujan tak kunjung datang dan makin bergeser, dan lain sebagainya. Akibatnya, pekerja tani yang sangat bergantung pada keadaan cuaca dan musim, tentu akan menggeser masa tanam dan panennya. Demikian halnya makhluk Tuhan yang bernama tetumbuhan. Tentu mereka sangat bergantung pada kondisi alam. Jika alam sudha mulai tak ramah, tentu saja siklus hidup mereka makin tak normal.

 

Udara di mana-mana makin panas saja. Yogya pernah mencapai 36 derajat celcius. Kata teman saya, Arif Rahman Hakin, tambah lima derajat lagi, sudah seperti di Jedah. Wah-wah, gurau saya, naik haji tak usah repot ke Arab sekarang. Di sini pun sudha panas seperti Arab. Tak hanya di Kota Yogya. Di Gunungkidul, Pati, apalagi Jakarta, rasanya seperti terpanggang saja.

 

Hmmm… alam sudah berubah, rambutan pun enggan berbuah. Beberapa tahun lagi, saya tak bisa membayangkan, bakal seperti apa wajah alam kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s