Nasi Pati Asli Gajahmati

Tabloid Kontan, Mingguan Ekonomi dan Bisnis

No. 8, Tahun X, 28 November 2005

Rubrik Kedai

Monggo, Dhahar Nasi Gandul Khas Pati

Piring putih yang dialasi daun pisang kluthuk yang dipotong bulat, di atasnya diberi dua centong nasiputih hangat. Lantas, piring tadi diguyur kuah kecokelatan hingga membanjir, plus beberapa kerat daging yang menonjol. Hmmm.. inilah nasi gandul yang kondang itu!

Penulis: Yacob Yahya (Pati)

Saat menyusuri jalur Pantai Utara Jawa Tengah, barangkali Anda melewati Pati. Ketika matahari mulai terinjak di tepi barat, jangan buru-buru tancap gas ke arah Rembang atau sebaliknya. Soalnya, inilah saat tepat menikmati nasi gandul. Sajian nasi gandul sebenarnya berasal dari Gajahmati, salah satu desa di Pati. Nasi gandul ini bakal membekas di hati, seperti pengakuan Tjahjo Kumolo, Ketua Fraksi PDI-P yang berasal dari Grobogan. “Saya tak pernah absen jajan nasi gandul ke Gajahmati,” tutur pria berbadan gempal ini.

Nasi gandul merupakan nasi berkuah cokelat. Di dalamnya tidak akan ditemui sayuran. Yang ada cuma keratan daging sapi. Ada semburat rasa santan dalam kuah, karena penjualnya memang memasak dengan santan dari kelapa yang belum tua. Cara penyajiannya unik, karena lebih dulu piring makan dialasi daun pisang kluthuk alias pisang batu. Konon, karena nasinya tidak langsung menyentuh piring (menggantung) itulah makanan tersebut lantas dinamai nasi gandul. Jenis daun pisang ini dipilih lantaran relatif kuat, tidak mudah sobek, dan aromanya akan pas bercampur dengan kuah panas yang diguyur ke nasi.

Nasi gandul semakin mantap disantap bersama sepotong lauk. Di meja saji biasanya sudah tersedia beragam pilihan lauk yang adalah bagian dari tubuh sapi. Ada empal, lidah, otak, jeroan, atau kikil. Namun, tersedia pula tempe dan perkedel. Seporsi nasi gandul, lazimnya, seharga Rp 1.500. Adapun lauknya Rp 3.500 sepotong. Yang paling mahal adalah kikil, segumpal Rp 15.000, tapi bisa disantap tiga sampai empat orang.

Di Pati banyak sekali kedai nasi gandul. “Setidaknya terdapat 50 kedai nasi gandul,” ujar Suroso, anak sulung Pak Meled, salah satu perintis nasi gandul. Uniknya, setiap kedai mengaku berasal dari Desa Gajahmati. Jadi, memang lebih afdol jika langsung berburu ke sumbernya, di Gajahmati. Nah, jadi tidak sabar kan, pengin dhahar nasi gandul? Berikut beberapa kedai nasi gandul di Gajahmati.

Nasi Gandul Pak Meled

Pak Meled tak terpisahkan dari nasi gandul. Maklum, dialah perintis makanan berkuah ini. Karena merasa kurang sreg berjualan sate, pada 1966 Pak Meled membanting setir menjadi penjual nasi gandul. Selama dua puluh tahun dia berkeliling membawa pikulan, baru tahun 1986 dia memutuskan berjualan di depan rumahnya. Kalau dulu Pak Meled yang menyambangi pelanggannya, belakangan orang-oranglah yang datang ke kedai Pak Meled ini.

Tahun 2003, Pak Meled meninggal. Usahanya diteruskan Suroso, anak sulungnya. Namun, pelanggan mereka tetap setia. Pasalnya, “Kami sangat berani mengumbar bumbu sehingga kuah makin berasa,” tuturnya. Hitung punya hitung ada 25 jenis bumbu di dalam kuah gandul Pak Meled. Bumbu yang tersedia ini masih diracik Bu Meled. Adapun Suroso mengaku hanya melayani pembeli. Tradisi inilah yang dipertahankan sejak Pak Meled, karena dulu pun istrinya yang meracik bumbu.

Uniknya, setiap hari kedai Pak Meled hanya menyediakan 100 porsi piring. Kendati pembelinya mengantre, “Kami tak akan menambah porsi. Kami kan harus berbagi rezeki dengan yang lain,” jelas Suroso. Setiap hari, kedai ini membutuhkan 10 kilogram daging dan lima kilogram beras. Meski hanya membatasi 100 porsi per hari, Pak Meled juga membuka pesanan untuk acara sunatan atau nikahan.

Nasi Gandul Miroso Pak Bakri

Pak Bakri ini pedagang seangkatan Pak Meled. Tapi, sejak 1995 ia sudah berjualan di rumah. Pak Bakri sudah meninggal, hampir bersamaan dengan Pak Meled. Sekarang, anak-anaknya berjualan nasi gandul. Anak sulungnya yang bernama Ermanto menjajakan nasi gandul di Pujasera Desa Puri, sedangkan Dwi Indarjo memilih daerah Kauman. Adapun anak ketiga, Sri Muryani, meneruskan usaha ayahnya di rumah. Dan, si bungsu Sri Rahayu berjualan nasi gandul di alun-alun.

Ada rahasia kenikmatan kuah bikinan Pak Bakri. “Bumbunya digongso (sangrai) biar awet,” tutur Sri Muryani. Selain itu, untuk berdamai dengan pengidap kolesterol, Sri membuat kuah dari santan kelapa yang tak terlalu tua, serta menyingkirkan lemak sapi.

Nasi Gandul Romantis Pak Sardi

Sardi mengawali jualan nasi gandul pada 1978, juga dengan berkeliling. Tahun 1981, ia memulai berjualan menetap di Gajahmati. Saat ini ia mampu melayani 300 porsi per hari. Kuah nan sedap, “Karena dimasak di atas kayu bakar,” terang Sardi. Tak tanggung-tanggung, Sardi mematok anggaran Rp 1 juta sebulan untuk belanja kayu bakar. Itu cukup menghangatkan dua kuali kuah per hari. Tenarnya nasi gandul Sardi telah menembus antero Cirebon, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Kudus, dan Demak.

Hoki Gajahmati

Meski nasi gandul lekat dengan Gajahmati, bukan berarti hampir dua juta penduduk Pati tak bisa memasak nasi gandul. Tapi, rasanya memang penduduk Gajahmatilah yang mampu memasak nasi gandul dengan pas. Tak heran kalau banyak orang rela pergi ke Gajahmati demi mendapatkan nasi gandul yang dibilang asli. “Jauh-jauh saya ke sini agar dapat nasi gandul asli Gajahmati,” tutur Dedi, warga Kutoarjo yang dijumpai saat membeli nasi gandul di kedai Miroso. Padahal, “Di dekat rumah saya ada yang jualan nasi gandul,” sambung pegawai BRI ini.

Kendati tenar dengan nasi gandulnya, tidak semua penduduk desa itu tertarik berjualan nasi. “Hanya penduduk desa bagian barat saja,” tutur Sri Muryani, pengelola kedai nasi gandul Miroso. Penduduk blok timur lebih memilih berjualan nasi semur atau masakan lainnya.

Ketenaran Gajahmati berawal dari pertemuan Pak Meled yang masih memikul nasi gandul dengan Mbah Rono, salah satu tokoh agama di Desa Blaru. Orang-orang percaya bahwa setiap kata yang terluncur dari bibir Mbah Rono adalah berkah. Waktu itu Mbah Rono memesan nasi gandul pada Pak Meled. “Karena Pak Meled berasal dari Desa Gajahmati, berkah jualan nasi gandul hanya dimiliki oleh penduduk desa ini,” ujar Suroso, putra sulung Pak Meled yang meneruskan usaha almarhum ayahnya.

Karena peristiwa itu terjadi pada malam hari, banyak pedagang nasi gandul percaya bahwa jualan mereka hanya laris saat sore sampai malam.

~ nasi gandul Pak Meled RT 01 / RW 01, Desa Gajahmati Telepon: 085225256034 atau 085229010587 Buka Pukul: 17:30-20:30 WIB

~ nasi gandul “Miroso” Pak Bakri Jl. Kyai Pupus No. 85, Desa Gajahmati, Sebelah Selatan Terminal Bus Pati Telepon: 081325029111 Buka Pukul: 15:00-22:00 WIB

~ nasi gandul “Romantis” Pak Sardi Jl. Panunggulan , Desa Gajahmati Telepon: (0295) 383814 Buka Pukul: 17:00 WIB-Selesai

8 responses to “Nasi Pati Asli Gajahmati

  1. Nasi Gandul enak tenan Hotel Hotel Di pati juga meneyediakan

    Selain yang dijajakan Hotel Kurnia menyediakan Menu Nasi GandUl Kurnia Dimasak oleh koki dari gajahmati asli
    Jl Tondonegoro no 15 pati

  2. SAYA RINDU AMA PATI…………………KAPAN BISA PULANG KE PATI SAMBIL MAKAN NASI GANDULLLLLLLLLLLLLLL

  3. wew….ketemu yacob ning kene … qqq…

    promosi ah :

    “Anda yang berasal dari Pati ( Jawa Tengah ) tentunya sudah tidak asing dengan nasi gandul.

    Kalau anda berdomisili di BSD ( Bumi Serpong Damai ) dan sekitarnya, silakan kunjungi WARUNG nasi gandul PAKDHE, di komplek pasar modern BSD, buka mulai pukul 17.00 – 24.00 WIB. Harga terjangkau, 10 ribu / porsi.”

  4. Pingback: Berburu Petis Runting Yuk « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  5. sebenernya sih aku kangen lho sama nasi gandulnya tapi gimana ya saya jauh dijambi……………. ada yang mo paketin dak ? tolong dong

  6. enak tenan

  7. orang patikah? yuk kita buat perkumpulan blogger pati?

  8. Waaaah,,sayangnya aku di Kaltim,,jadi susah untk menyantap Nasi Gandul khas Pati,,,,,,

    kpan ya bisa mudik ,,,,,,hmmm,,mak nyuuus Nasi Gandul khas Pati,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s