Upaya Mencari Kunci Penyelamat Nasib Saksi Kunci

Buku yang disusun selama enam tahun ini kudu dilalap baca dalam sehari.

Saksi Kunci Resized

Judul : Saksi Kunci | Kisah nyata perburuan Vincent, pembocor rahasia pajak Asian Agri Group | Investigasi Skandal Pajak Terbesar di Indonesia
ISBN : 978-602-14105-0-9
Penulis : Metta Dharmasaputra
Editor : Amarzan Loebis
Editor Bahasa : Uu Suhardi
Cetakan : Pertama, 2013
Penerbit : Tempo
Ukuran : xliv + 446 halaman; 14 x 21 cm

SEORANG PRAKTISI PERPAJAKAN follower akun Twitter saya, menulis, “… hehehe…. sy “sehari semalam” kirain sy aj yg “terbius” :)) . Investigasi yg luar biasa.” Ia tak mau kalah dengan rekor saya yang mengkhatamkan buku Saksi Kunci itu selama empat hari.

Sedangkan si penulis sendiri, Metta Dharmasaputra, menimpali, “Bikinnya 6 thn :) …” ujarnya me-retweet sembari membalas obrolan kami. Itupun, ia musti tetap sibuk, “Sambil kerja harian, tp tdk terus menulis jg…” sambungnya menjawab pertanyaan saya, “Anda perlu fokus cuti panjang atau sambil mengerjakan tugas jurnalisme?”

Dan saya anjurkan Anda memang baca buku ini sekaligus hingga tuntas tanpa mencicilnya berlama-lama. Pertanda bahwa buku ini memang asyik untuk dibaca. Tema yang berat terbungkus dalam bahasa khas novel nan mengalir.

Genre semacam ini disebut “jurnalisme sastrawi” atau “jurnalisme narasi”. Genre ini memang umumnya berupa karya yang panjang-panjang. Bagai novel, namun ini laporan berita. Karya jurnalistik. Semata-mata fakta. Beberapa karya terpandang antara lain Hiroshima (John Hersey) dan In Cold Blood.

Metta sendiri mengaku terinspirasi dari In Cold Blood, karya Truman Capote. In Cold Blood (saya tuntas membacaya versi Bahasa Indonesia terbitan Bentang) menceritakan pembunuhan keluarga juragan petani, Herbert Clutter, yang dibantai oleh duet Richard Dick Hickock dan Perry Smith. Entah kebetulan atau tidak, Capote juga butuh waktu sekitar enam tahun untuk menuntaskan In Cold Blood (sejak kasus pembunuhan itu mencuat pada 1959 hingga buku itu terbit pertama kali pada 1966).

Untuk mengompori Anda, seberapa memukaunya In Cold Blood, sila tonton dua film Capote (2005) dan Infamous (2006). Keduanya memang tidak menceritakan isi buku tersebut, namun mengulik perjalanan Capote yang ditemani penulis penyabet Pulitzer kawan akrabnya, Nelle Harper Lee (To Kill a Mockingbird), dalam menyusun buku itu. Capote sendiri berhasil menyabet Oscar lewat aktor Philip Seymour Hoffman sebagai aktor terbaik. Sementara itu, Infamous diramaikan oleh artis papan atas semacam Sandra Bullock (sebagai Harper Lee), Daniel Craig (ya, si James Bond itu!) (Perry Smith), maupun Gwyneth Paltrow.

* * *

SAKSI KUNCI berkisah soal narasumber yang menjadi whistleblower beserta wartawan yang meliput kisahnya dengan konsekuensi panjang dan melelahkan yang mereka terima.

Metta, wartawan Tempo 2001-2012, mengikuti (dan terseret) kasus hukum Vincent Amin Sutanto, eks karyawan Asian Agri Group, perusahaan milik taipan Sukanto Tanoto. Vincent, bersama rekan dan adiknya, Hendri Susilo dan Agustinus Ferry Susanto, menggangsir uang perusahaan dengan modus mendirikan perusahaan fiktif yang nampak satu grup dengan Asian Agri.

Memalsukan tanda tangan petinggi perusahaan, Vincent menransfer dana perusahaan ke perusahaan abal-abal bikinannya. Yang hendak ditilap USD3,1 juta (sekitar Rp28 miliar), baru berhasil diambil Rp200 juta. Polahnya terendus, Vincent memohon ampun. Maaf ditolak, ia bertindak: berniat membocorkan kenakalan Asian Agri Group memanipulasi pajak. Jumlahnya terbesar dalam sejarah negeri ini: sekitar Rp1,3 triliun!

Sejak itulah horor dalam hidup Vincent (dan Metta) bermula. Vincent kabur ke Singapura dengan paspor palsu. Menghadapi tekanan dan jauh dari istri dan tiga bocah anaknya, ia berniat bunuh diri.

Terlebih lagi, aparat hukum terkesan lebih bersemangat menjerat Vincent dengan delik pencucian uang, daripada mengusut nyanyian Vincent tentang dugaan pidana pajak Asian Agri.

Metta yang tergerak hatinya, coba mencegahnya sembari meyakinkan narasumbernya itu agar tidak mengakhiri hidupnya. Jika Vincent mati, tentu upaya pengungkapan skandal pajak terbesar ini hanya tinggal angan. Metta membantu Vincent dengan mencarikan sumber dana untuk menyewa penasihat hukum.

Hubungan yang terjalin antara wartawan-narasumber ini menyudutkan Metta. Karakternya diserang. Ia dicap menerabas kode etik jurnalistik. Lagipula, ternyata pihak yang membandari Vincent adalah seteru bisnis Sukanto.

Transkrip SMS asal nomor telepon Metta sempat tersebar di kalangan wartawan. Belakangan diketahui bahwa pihak kepolisian mengaku meminta SMS tersebut dari pihak perusahaan telekomunikasi dengan alasan: memantau Vincent.

Sejumlah ilmuwan bidang jurnalistik dibiayai Asian Agri untuk meneliti berita Tempo atas isu Asian Agri. Bagai suara koor, para akademisi itu serempak menyatakan bahwa Tempo tidak berimbang dalam meng-cover isu tersebut. Celakanya, hasil penelitian ini dapat menjadi amunisi dalam persidangan.

Saya masih teringat, ada seorang peserta seminar yang diselenggarakan oleh Asian Agri yang mengulas hasil penelitian tersebut berseru, “Jika memang dalam pengadilan Asian Agri dinyatakan bersalah menggelapkan pajak, Anda semua akan dicatat sejarah sebagai ilmuwan pecundang.” Seminar itu digelar di Hotel Sultan (dulu Hotel Hilton), pada Selasa, 18 Desember 2007.

Celotehan itu setidaknya saat ini terbukti lewat putusan kasasi Mahkamah Agung pada pengujung 2012 yang menyatakan kubu Asian Agri bersalah (masih ada upaya hukum terakhir, Peninjauan Kembali). Hukumannya? Denda Rp2,5 triliun!

* * *

HARUS DIAKUI bahwa Metta mengalami keterbatasan akses terhadap sejumlah narasumber. Capote tampak leluasa mengakrabi Al Dewey, polisi yang mengincar Dick dan Perry. Sekaligus pula ia berkawan baik dengan Perry (digambarkan bahkan mereka berciuman dalam sebuah adegan di Infamous).

Di sini Metta tampak dekat dengan Vincent, namun berjarak dengan pihak Asian Agri. Wawancara dengan petinggi Asian Agri selalu berkesan formal. Mungkin hal ini karena pihak narasumber dari Asian Agri langsung mengambil jarak. Sementara itu, Metta mendapatkan kue bikinan Vincent –sebegitu akrabnya mereka. Namun, di sini saya tidak melihat adanya rambu profesionalisme yang dilanggar. Di buku ini, keduanya saling memanggil “Pak” atau “Bapak” atau “Anda”. Toh hubungannya keduanya tetap formal.

Metta juga kurang mengungkap mengapa Vincent dan komplotannya melakukan penggelapan uang perusahaan –dari sudut pandang Hendri dan Ferry. Ini peristiwa unik. Bagaimana bisa, Vincent, yang sudah punya jabatan dan gaji mapan, “tergelincir” melakukan aksi pencurian uang perusahaan yang mudah dideteksi. Vincent pun mengakui tidak tahu mengapa berbuat begitu. Itu baru dari sudut panjang Vincent. Dari versi Hendri, buku ini belum mengulasnya (saya harap pada edisi revisi nanti).

Hubungan Ferry, adik Vincent, dengan sang kakak pun belum terkuak. Bagaimana masa kecil mereka? Mengapa Ferry begitu mau menuruti ajakan sang kakak? Mengapa dari sekian banyak bersaudara, hanya Livina, kakak Vincent yang mau mendampinginya menjalani hukuman penjara?

Pun demikian, “kekurangan” itu tertutupi dengan jerih payah editing yang serius. Tak ada kesalahan tulisan ejaan dalam buku ini. Yang sedikit mengganggu adalah penyebutan nama lembaga “Direktorat Jenderal Pajak” (Unit Eselon I) beberapa kali menjadi “Direktorat Pajak” (Unit Eselon II). Serta dalam pengantarnya, Toriq Hadad menyebut “Komisi Yudisial” menjadi “Mahkamah Yudisial”.

* * *

KEVIN CARTER, fotografer asal Afrika Selatan itu, ditemukan mati lantaran terlalu banyak mengisap gas karbonmonoksida (CO) di dalam mobil truk pikap Nissan merahnya, pada 27 Juli 1994. Menurut keterangan resmi polisi, ia bunuh diri –sengaja meracuni diri sendiri dengan pipa mobil yang bocor sehingga CO menerobos memadati ruang mobil. Usianya 33 tahun. Dari sekian catatan hariannya, pada salah satu pesan kematian ia menulis, “I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners … I have gone to join Ken if I am that lucky.”

Ia ingin menyusul Ken. Siapa Ken? Rekan sesama mat kodak, Ken Oosterbroek, yang tewas tertembak  saat terperangkap dalam kecamuk konflik bersenjata di Tokoza, 25 km timur Johannesburg –kala itu jelang pemilu Afsel 1994.

Pada 18 April 1994, Carter beserta Oosterbroek juga fotografer lainnya, Greg Marinovich, dan Joao Silva, hendak meliput konflik bersenjata di tengah situasi apartheid. Mereka meluncur ke Tokoza, namun Carter memutuskan balik badan. Siang itu, lewat siaran radio, Carter mendengar kabar bahwa Oosterbroek meninggal dan Marinovich terluka dalam baku tembak. Ia terpukul. Sangat terpukul.

Namun, beban kejiwaan yang dirasakannya ternyata tak cuma kehilangan seorang sobat –yang tewas tepat enam hari usai Carter menyabet Pulitzer. Carter sukses memperoleh penghargaan bergengsi berkat jepretannya: seorang bocah asal Sudan nan ceking melata tanpa daya menuju pusat makanan (food station). Balita itu berhenti, istirahat, mengumpulkan tenaga. Di belakangnya telah mengintai burung nazar. Carter butuh waktu 20 menit guna membidik momen yang dirasa paling tepat.

Foto itu dimuat The New York Times pada Maret 1993. Dunia gempar. Carter menanggung sejumlah hujatan. “Kenapa tak ia tolong si bocah?” “Jangan-jangan ada sejumlah burung nazar, bukan cuma seekor. Hanya, Carter memilih sudut bidikan seolah-olah hanya tampak satu burung.” “Bagaimana nasib kelanjutan anak malang itu?”

The Times hanya memberi pernyataan anak itu masih punya tenaga untuk mencapai sumber makanan. Setelah itu? Tak satu pun yang tahu. The St. Petersburg Times menyerang bahwa Carter tak beda dari burung nazar itu. Merasakan tekanan yang dihadapi ayahnya, Megan Carter merespon. “Kulihat ayah sebagai anak kecil itu dan dunia adalah burung nazar itu.”

(Sumber: Fanpop, Wikipedia, The New York Times; diakses pada 19 Agustus 2013)

Problem dilema etika jurnalistik, apakah jurnalis perlu “campur tangan” menolong sumber berita, atau hanya sebagai “penonton” momen, takkan pernah usai diperdebatkan –setidaknya hingga kini. Dan bicara soal etika, kita perlu melibatkan hati nurani. Kemanusiaan. Dalam hal ini, Metta, hemat saya, sudah mengajak bicara nuraninya.

Apa jadinya jika ia biarkan begitu saja Vincent kendat? Saya tak mau bilang Metta bakal berbuat sama dengan Carter. Setidaknya, kepentingan besar negara ini, pengungkapan dugaan manipulasi pajak, takkan pernah terjadi.

* * *

BUKU INI hadir tepat di saat kita merindukan karya jurnalistik bermutu: investigasi panjang yang tersaji sememikat novel. Tak terasa, sejak Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi karya Bondan Winarno –yang belakangan ini kita kenal sebagai gourmet kondang, baru 16 tahun kemudian lahir karya sebanding.

Buku ini tak muluk untuk disebut bacaan wajib bagi para fiskus (petugas pajak), aparat hukum, akademisi, praktisi pajak maupun pengamat hukum, serta kalangan jurnalisme itu sendiri.

Tiap profesi memiliki “mahkota” untuk layak dikenang. Mahkota hakim adalah putusannya (tentu saja yang adil dan bijak bestari). Mahkota wartawan adalah karya investigasi. Metta telah memperoleh mahkota itu. Dan saya harap, ini bukan mahkota terakhir. []


Peresensi adalah mantan jurnalis Hukumonline, pernah meliput hasil penelitian serta persidangan Asian Agri vs Tempo; mantan anggota Aliansi Jurnalis Independen; Alumnus Kursus Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau yang diampu oleh Andreas Harsono, Janet E. Steele, dan Goenawan Mohamad (pembicara tamu); sekarang menjadi fiskus. Tulisan ini adalah pandangan pribadi.

About these ads

One response to “Upaya Mencari Kunci Penyelamat Nasib Saksi Kunci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s