Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Kedua)

Oleh Yacob Yahya

(6.772 kata)

Usai menempuh perjalanan roda dua selama enam jam, tiba juga kami di Purbalingga Perwira. Berikut adalah pengalaman saya tinggal di salah satu rumah kompleks Abdi Negara beserta kesan jalan-jalan ke alun-alun, Owabong, serta menikmati kuliner khas nasi goreng dan sroto.

BAB III

Rumah nan Asri

USAI BERAMAH-TAMAH DENGAN TUAN RUMAH, meletakkan barang bekal, serta salat asar, saya menikmati ruang depan rumah itu. Atapnya limas, joglo, ukuran 12×12 meter persegi. Cuma, empat meter belakang disekat dinding dan sepasang pintu kayu di tengahnya. Sisa ruang itu kini jadi dua buah kamar di sayap kanan-kiri. Dua kamar itu untuk anak-anak. Masing-masing kamar kira-kira berukuran empat kali empat meter persegi. Sisanya jadi ruang tengah untuk nonton teve.

Ruangan persegi itu ada perpanjangan ke belakang. Untuk ruang tidur Mas Pratik dan Mbak Yatmi -kamar utama, dapur yang bersambung dengan ruang makan, serta kamar mandi. Di dalam ruang tidur utama yang luas itu ada kamar mandi dalam. Ada juga tangga dari cor-coran beton untuk lantai dua. Namun lantai atas itu belum sepenuhnya rampung. Ada pintu belakang yang menuju pelataran.

Pintu depan rumah itu menghadap selatan. Di sudut barat laut dan timur laut ada pintu samping. Sisi barat rumah adalah garasi dan sisi timur menghadap halaman yang luas. Ruang depan joglo itu jadi ruang tamu -12×8 meter persegi. Lantainya ubin keramik coklat malt. Saking luasnya, ada tiga kelompok meja-kursi. Sisi tenggara ada perabot meja-kursi dari kayu. Seberangnya, sisi barat daya, ada empat kursi yang mengelilingi sebuah meja. Mereka terbuat dari logam berwarna kuning. Berat, ketika saya coba angkat. Masih di sayap barat, pada belakang meja-kursi logam itu, terdapat sederet cermin yang besar di atas meja panjang. Di atas meja itu terdapat bertumpuk arsip atau makalah. Saya lihat ada kopian peraturan daerah milik Kabupaten Purbalingga. Ada pula radio-tape gede yang bisa buat nyetel keping DVD. Jangan salah, Mas Pratik pintar mengarang lagu campursari banyumasan. Beberapa lagu karya dia untuk promosi objek wisata Purbalingga. Tiap pagi Mas Pratik selalu nyetel DVD lagu-lagu itu. Tiga buah kursi di depan cermin itu bersama sebuah alat pengering rambut yang berdiri di samping cermin. Kayak peranti salon.

Tangan Mbak Yatmi memang trampil mempermak rambut. Sekali rambut saya pernah dia potong, waktu saya berkunjung ke Yogya. Kala itu rambut saya gondrong. Ketika Mbak Yatmi menjenguk dua anaknya, Ayu dan Anis yang masih kuliah, Mur meminta saya pangkas rambut sama Mbak Yatmi. Ayu, Anis, dan Mur satu rumah kos. Waktu itu saya masih kerja di Jakarta.

Di samping perabot salon itu, depan pintu sisi barat laut, berdiri rak sepatu dan sandal.

Ruang itu berdinding bata dan semen dari bawah hingga setinggi dada. Tembok itu berwarna putih. Selebihnya, hingga menjulang ke atap, adalah anyaman bambu khas joglo. Dinding bambu itu berpernis. Coklat mengkilap. Cuma, pernis bagian luar pudar dihajar sinar matahari dan cuaca -panas maupun hujan.

Sisi timur laut diisi oleh dua sofa panjang berbentuk huruf “L”. Ada pula kumpulan majalah lama. Majalah Hidayah dan beberapa merek majalah wanita remaja.

Merapat pada dinding timur, di seberang sofa itu, berdiri sebuah blifet. Di atasnya berderet pigura foto. Foto Ayu, Anis, dan Astrini waktu kecil. Foto Mbak Yatmi dan Mas Pratik pakai pakaian resmi. Foto keluarga. Foto acara Pemda pada acara seremonial maupun pelantikan. Serta foto seorang gadis pemetik teh. Perempuan itu manis tersenyum simpul. Memakai kebaya dan rambutnya tertutup selendang terlipat. Cuma, warna gambar itu sudah pudar termakan masa.

Minggu esok harinya (3/8.) saya bertanya pada Ayu soal pemetik teh itu. “Itu Ibu?”

“Iyah. Itu Ibu.”

“Di mana?”

“Di Ponjong.”

“Emang di Ponjong ada kebun teh?”

“Eh, gak tahu ding. Iya kali. Eh… gak tahu,” jawab Ayu yang asyik pencet-pencet handphone-nya.

Sabtu sore itu saya masih menggendong rasa penat. Jetlag, eh, motorcycle-lag. Enam jam di atas roda dua. Saya tidur sejenak di kamar sebelah timur. Magrib bangun. Usai isya, lepas pukul tujuh, saya dan Mur keluar naik motor. Kali ini Honda Supra itu kami pakai lagi. Kami hendak pergi ke alun-alun meraun situasi kota.

Malam hari setelah dari alun-alun, saya masih capek. Saya lanjutkan tidur. Subuh bangun, lanjut tidur lagi.

SETELAH TANEK DI ALAM MIMPI, SAYA BARU BANGUN JELANG PUKUL TUJUH, MINGGU PAGI ITU. Mendingan, badan agak segar. Barulah pada pagi hari itu saya bisa seksama menikmati suasana rumah ini. Saya jalan kaki dulu keliling lingkungan kompleks perumahan.

Rupanya Mbak Yatmi dan Mas Pratik gandrung tanaman hias. Di belakang ada satu pot besar berisi gelombang cinta -wave of love. Saya jadi heran mengapa banyak orang yang rela merogoh kantongnya jutaan rupiah hanya untuk setiap lembar daun. Di belakang garasi, ada “rumah tanaman”. Berpagar bambu setinggi perut. Sisanya adalah kassa hitam hingga ke atas, jadi langit-langit. Iseng, saya masuki. Di dalamnya teduh. Terdapat berderet pot yang disusun di atas tempat bertingkat dari kayu.

Itu belum seberapa. Belum lagi sederet tanaman hias yang ada di dua sisi rumah dan pekarangan depan. Saya tak tahu dan tak hapal betul jenis-jenis tanaman hias. Banyak orang bergunjing soal anturium, adenium, sansevieria, dan sebagainya.

Di belakang rumah utama, terdapat sebuah rumah. Itu untuk gudang. Gudang itu untuk menyimpan perabot dan barang-barang lawas yang sudah tak terpakai. Kedua rumah itu dihubungkan oleh jalan setapak kecil. Di antara mereka ada beberapa tanaman hias dengan gelombang cinta itu tadi. Ada juga mawar merah. Di samping timur mawar ada dua buah pohon jambu biji. Pada pohon itu bergantung tiga buah sangkar burung.

Burung itulah yang diangkut oleh Mbak Yatmi dari Ponjong, milik Mas Gito.

Dua ekor adalah burung kecil. Jika posisi duduk atau jongkok, kayak bola tenis bundar. Jika berdiri badannya terlihat agak memanjang. Ukurannya sekepal tangan. Bulat. Warna bulu depan dari bagian bawah ke atas, perut-dada hingga paruh bawah putih. Sedangkan sisi samping hingga melingkar ke belakang berwarna coklat jingga. Mulai dari paruh atas, kepala, hingga ke bawah bagian punggung-ekor, berwarna hitam. Sayapnya juga hitam, beberapa bergurat putih.

Burung itu bisa berkicau beragam suara. Ck-ck-ck… cuiiit-cuiiit… Kalau menyambar makanan bersuara cerk. Saya coba masukkan jari tangan di sela bambu sangkar. Dia bergegas lompat dan cucuk dengan paruhnya. Aduh, cukup sakit juga. Dia pikir seekor jangkrik, mungkin. Sewaktu saya ke Ponjong beberapa kali, Mas Gito menyediakan sewadah jangkrik buat makan burung itu. Kini, di Purbalingga, burung itu disediakan sepotong tahu mentah. Doyan juga.

Burung itu lincah berlompatan. Saya tak tahu jenis burung itu. “Itu namanya manuk bentet,” sahut Mur.

Beberapa hari usai kami pulang satu dari dua ekor bentet itu mati. “Kebanyakan dikasih makan jangkrik. Harusnya cukup dua ekor sehari. Tapi dikasih enam. Lagian kaki jangriknya belum dipotong-potong. Kayaknya nyangkut di leher burung itu,” cerita Mur.

Sangkar ketiga berisi burung yang lebih besar, panjang. Burung podang, kata Mur. Bulunya berwarna kuning. Burung itu diam tak bersemangat, tak mau ngoceh. Makanannya pisang. “Sepeninggal Mas Gito burung itu jadi diam. Dia dirawat Mas Gito sejak kecil. Waktu dilepas Mas Gito, dia terbang malah kembali ke rumah,” sambung Mur berkisah.

Di belakang gudang, bagian utara, adalah kandang ayam. Banyak ayam. Kami datang, disembelihkan dua ekor buat opor. Untuk sarapan Minggu itu (3/8). Yang mengolah opor itu Mbak Muji. Sedap nian. Apalagi ada sambal goreng ati.

“Kaok-kaok-kaok…” teriak ayam di Minggu pagi dari halaman belakang. Beberapa saat lagi mereka berpindah di atas wajan buat dimasak opor.

Ada dua buah kolam di halaman belakang samping timur kandang ayam dan rumah gudang itu. Dalamnya seperut, kala itu tak ada airnya alias asat. Dasar kolam berlumpur. Bakal diisi lele. Saya jadi ingat rumah makan gurameh yang kami singgahi Sabtu kemarin.

Halaman belakang itu luas nian. Sisi tenggara belum tergarap. Tapi sudah disiapkan kerangka bambu. Tinggi-tinggi. Kalau ada terpal terpasang di atasnya, bakal membentuk atap semacam kubah.

Halaman belakang tersekat tembok batu bata tinggi. Ada sebuah pintu dari besi bercat biru. Saya buka pintu itu, belakang tembok adalah sawah. Padi menguning.

Antara halaman belakang dan samping-muka terpisah oleh sebuah tembok bata bersemen. Tingginya saya taksir tiga meter. Di atas tembok terdapat kawat berduri tiga ruas paralel ke atas. Pada kawat duri itu tumbuh bergerumbul tanaman cincau yang merambat.

Mbak Muji mengambil tangga, menaikinya, dan memetik daun-daun cincau. Dia bawa satu tas kresek besar untuk mewadahi daun-daun itu.

“Bikin cincau yuk,” ajak Mur pada saya, membantu Mbak Muji memetik daun cincau.

“Iya cintya…” jawab saya menirukan artis remaja Cinta Laura yang suka mengobral logat kebarat-baratan.

Mur dan saya terkekeh.

Tas kresek hampir penuh, Mbak Muji turun tangga. Dia mau ke dapur. Dia serahkan tas plastik itu pada Mur. Kini sang adik yang giliran naik tangga.

Pyuk… tas jatuh, daun berhamburan.

“Dasar,” tukas saya memunguti daun itu.

Mur hanya terkekeh, saya pun ikut tertawa. Kami lanjutkan memetik daun cincau.

Satu tas penuh daun cincau itu berpindah tangan pada Mbak Muji. Dia persiapkan blender. Astrini turut membantu. Dicampurnya daun cincau itu dengan air, mesin blender menggerus dedaunan itu jadi bubur. Bubur hijau itu disaring ulang, lantas blender menggerus lagi supaya lebih halus. Disaring lagi, total dua kali.

Bubur itu lalu direbus hingga menggumpal kental. Setelah matang, dinginkan dulu di dalam lemari es. Siap jadi es cincau yang segar, ditingkah kuah rebusan gula merah. Jangan lupa, buang lapisan atas yang mengandung buih keputih-putihan. Rasanya pahit dan seret. Ambil yang hijau gelap saja. Jika sudah masuk di mulut, cincau itu akan lembut lumer melebur. Sensasi yang timbul, segar-dingin.

Pada halaman samping muka, di luar tembok tengah itu, pada bagian timur, terhampar luas tanah yang ditumbuhi bermacam tanaman. Ada kelapa, nangka, jati yang masih kecil, dan sebagainya.

Ada lagi sebuah kolam yang ukurannya lebih besar daripada kolam belakang. Pun lebih dalam. Itu di halaman samping timur. Sama, air kolam itu jarang, belum penuh.

Ada juga gubuk yang terbuat dari bambu. Sangat tepat guna mengaso di siang hari. Buat sekadar duduk-duduk atau tidur beneran juga oke.

Tembok rumah sisi timur itu dihiasi oleh berderet pot tanaman yang tersusun rapi. Saya lihat sebuah tanaman berdaun ungu. Daun itu bersisi tiga kayak dasi kupu-kupu. Kalau dasi kupu-kupu hanya bersayap dua. Kalau daun tanaman ini bersisi tiga membentuk lingkaran. Masing-masing sisi berbentuk segitiga, ada tulang pada bagian tengahnya. Sehingga, pada saat sore, sisi daun itu bisa menutup. Pada pagi hari, daun itu membuka.

Belakangan, ketika saya pulang ke rumah Pati pekan lalu (9/8), ibu saya juga punya tanaman itu. “Itu dikasih teman. Tanaman itu dari Tawangmangu,” tutur Ibu.

Tawangmangu adalah sebuah objek wisata yang berhawa dingin di Jawa Tengah. Anda bisa ke sana naik bus dari Solo jurusan Tawangmangu. Banyak tanaman di sana.

Saya dan Ibu juga tak tahu nama tanaman itu. Mungkin Anda lebih tahu, saya sertakan saja fotonya. Gambar tersebut saya ambil di Pati, sewaktu kakak saya mudik dari Jakarta seraya membawakan kamera digital saya yang baru saja diafkir (16/8).

(Keterangan gambar: tanaman “dasi kupu-kupu ungu bersisi tiga”, saya tak tahu apa nama tanaman itu. Tanaman itu milik ibu saya, berada di pot samping selatan dinding rumah. Daun ungu itu berada di sisi tomat hias yang berbuah hijau sewaktu muda dan oranye kisut jika sudah matang.)

Ada pula sayuran macam cabe rawit. “Kalau butuh tinggal petik dari kebun, tak perlu belanja,” tutur Mbak Yatmi. Mur bikin mie rebus dari mie instan rasa soto buat saya. Dia pakai cabe dari kebun. Kebanyakan lomboknya. “Ini mie rasa cabe, bukan rasa soto,” tutur saya sambil gaber-gaber kepedasan. Lumayan, badan hangat di malam yang dingin.

KOMPLEKS PERUMAHAN ITU BERNAMA ABDI NEGARA. Namun bagi saya, tepatnya kompleks perumahan wayang. Lebih tepatnya lagi, kompleks perumahan Pandawa. Setiap gang yang saya lewati memiliki nama yang berhubungan dengan Pandawa Lima.

Ada Jalan Puntadewa, Jalan Bima, Jalan Arjuna, Jalan Amarta, Jalan Srikandi, Jalan Abimanyu, Jalan Kresna, Jalan Nakula, Jalan Sadewa, Jalan Gatotkaca, sedangkan rumah Mbak Yatmi dan Mas Pratik berada di Jalan Madukoro. Tak ada jalan Drona, Jalan Sengkuni, Jalan Duryudana, Jalan Dursasana, Jalan Karna, Jalan Jayadrata, apalagi Jalan Kurawa.

Pandawa merupakan bagian dari cerita Mahabarata dari India. Wayang merupakan budaya Hindu. Kisah Mahabarata ini dipercaya terjadi lima ribu tahun silam. Jawa juga punya modifikasi cerita tersebut.

Intinya adalah pertempuran antara yang baik dan yang jahat. Pihak baik diwakili oleh Pandawa sedangkan kubu yang buruk digambarkan oleh Kurawa. Pertentangan itu pada puncaknya tergelar dalam perang besar-besaran, Baratayuda, yang tumpah di padang yang luas, Tegal Kurusetra. Pertempuran selama delapan belas hari itu akhirnya dimenangkan oleh pihak Pandawa. Seratus Kurawa tumpas.

Pandawa Lima merupakan putra dari Dewi Kunti. Mereka adalah Yudistira alias Puntadewa, Bima alias Werkudara, Arjuna alias Janaka atawa Permadi, serta si kembar Nakula dan Sadewa. Versi India menyebutkan mereka poliandri. Satu istri Dewi Drupadi punya lima suami Pandawa. Sedangkan versi Jawa menyebutkan Drupadi istri Yudistira. Adik-adiknya punya istri masing-masing.

Bahkan, Arjuna yang tampan, lelananging jagad atau laki-lakinya dunia, punya dua istri: Srikandi dan Supraba. Dari Srikandi, Arjuna punya anak, Abimanyu. Abimanyu gugur dalam perang Baratayuda, terjebak dalam formasi pengepungan dan penyergapan. Formasi itu berbentuk lingkaran spiral kayak obat nyamuk bakar. Kala itu usia Abimanyu enam belas tahun, meninggalkan istri yang masih mengandung. Abimanyu punya anak yang lahir usai dia tewas, Prabu Parikesit. Kisah Parikesit inilah cerita pasca Pandawa.

Saya berkeliling di lingkungan sekitar perumahan tersebut pagi hari, Minggu dan Senin (3-4/8). Berjalan ke barat, saya menemukan sebidang tanah lapang buat sepak bola. Di seberang jalan ada sebuah kompleks sekolah menengah pertama. Minggu pagi itu nampaknya ada tantangan main bola antarkelompok anak-anak. Saya waktu masih sekolah menengah pertama juga acap tantangan dengan kampung lain, di alun-alun Pati. Kadang menang, kadang kalah.

Dalam kompleks Jalan Srikandi ada beberapa larik rumah yang desainnya seragam. Halamannya sempit. Ukuran rumahnya juga kecil. Rupanya itu rumah yang disediakan oleh Bank BTN. Bank ini memang dikenal punya core-business kredit pemilikan rumah (KPR). Sebagian kosong dengan halaman terbengkelai dengan berbagai tumbuhan dan rumput liar yang mencuat. Sebagian lagi sudah terisi dan lebih terawat. Rumah KPR yang sudah berpenghuni beberapa dibiarkan asli sesuai desain awal; beberapa dipermak. Bahkan, dua rumah berdampingan dijadikan satu. Mungkin si empunya griya punya dana lebih buat ambil KPR dengan skim pinjaman yang lebih gede.

Para penduduk ramah. Antusias jika disapa. Ada sebagian warga yang kerja bakti membersihkan gang, Minggu pagi itu.

Menyusuri jalan pulang, pada Minggu pagi, saya temui anak-anak kecil main petak umpet. Mereka berlarian, lalu mengendap-endap berusaha tanpa menimbulkan suara. Melangkah hati-hati, mengintip ujung gang, menghindari anak yang dapat giliran mencari.

Saya menyebutnya jotong delik. Delik artinya sembunyi, dalam bahasa Jawa. Sejumlah orang berlari mencari tempat persembunyian. Sementara satu orang kena giliran cikup. Cikup adalah menutup mata menghadap dinding atau tiang yang dianggap jadi “pos”. Anak yang cikup berdiri pada pos itu sambil berhitung. Waktu berhitung umumnya sepuluh hitungan, harus dimanfaatkan oleh anak-anak untuk cari tempat sembunyi. Usai berhitung, anak yang cikup mencari mereka. Anak yang bersembunyi harus mampu meraih pos cikup tadi tanpa ketahuan. Istilahnya jetul. Jika ketahuan, mereka bakal “didor” oleh anak yang mencari, dengan meneriakkan nama-nama mereka. Anak-anak yang kena dor bakal diundi siapa yang kena giliran cikup. Anak-anak yang berhasil jetul tak perlu ikut undian, mereka berhak sembunyi lagi pada permainan berikutnya. Habis itu, berulang lagi. Cikup, berhitung, dan sisanya cari tempat sembunyi, dan berusaha untuk sukses jetuli pos. Jika semua anak yang dicari berhasil jetul, anak yang cikup kena giliran… cikup lagi dan mencari lagi.

Ini permainan masa kecil saya, yang kini nampaknya jarang dilakoni oleh anak-anak jaman sekarang -modern?

BEBERAPA HARI TINGGAL DI RUMAH INI MEMBUAT SAYA DAPAT MENIKMATI BERITA TEVE. Iseng-iseng menyimak perkembangan, setelah break beberapa waktu dari kegiatan reportase. Maklum, saya tak dapat nonton teve, kos di Yogya tak menyediakannya.

Ada berita soal tersebarnya transkrip dan rekaman suara yang mirip dengan kotak hitam pesawat Adam Air yang hilang di perairan Sulawesi. “Allahu akbar… Allahu akbar…” Tuhan Mahabesar… Tuhan Mahabesar… teriak pilot dan copilot beberapa detik jelang pesawat hilang kendali.

Pekik menyebut nama Tuhan dalam kepanikan (jelang maut) itu membuat miris Mur dan Mbak Muji. Hingga kini tak satu pun penumpang ditemukan.

Ada pula momen menjelang eksekusi mati Rio Martil. Istri dan anak Rio tertahan tak beroleh izin bertatap muka untuk terakhir kali. Rio seorang perampok yang membantai korbannya dengan martil. Karena itulah dia mendapat julukan Rio Martil. Dia mendekam di penjara kelas kakap, Nusakambangan. Teman satu sel pun dia babat dengan cara yang sama. Vonis hukuman mati sudah jatuh. Tambahan korban dari balik jeruji itu tak dapat menambah beratnya hukuman yang sudah mentok maksimal. Dia menambah korban tanpa perlu menambah beratnya sanksi.

Selain Rio, ada Ryan sang jagal dari Jombang, Jawa Timur. Ryan membunuh banyak korban dan memendam mereka tanpa sepengetahuan orang tuanya. Beberapa korban terkubur di pekarangan rumah di Jombang. Jumlah korban bisa jadi bertambah mengingat banyak orang yang mengaku kehilangan kerabatnya yang kenal dengan Ryan.

Ryan juga terungkap dia merupakan gay atau penyuka sesama jenis. Namun informasi tersebut bisa jadi bias besar, opini bisa mengarah penyuka sama jenis adalah orang yang bengis. Padahal, ada kemungkinan pembunuhan berantai ini hanya bermotif ekonomi.

Saya teringat pasangan gay Perry Smith dan Dick yang merampok sebuah keluarga petani mapan di Kansas. Mereka membantai korban dengan senapan tepat di kepala dalam jarak dekat. Mereka dijatuhi hukuman mati dengan cara gantung. Peristiwa tahun 1960-an itu diangkat oleh jurnalis The New Yorker, Truman Capote -yang juga gay- dengan judul “In Cold Blood”. In Cold Blood dipercaya sebagai satu dari karya terbaik jurnalisme narasi. Truman Capote begitu lihai membangun tensi dan ketegangan sebuah cerita.

Kisah Capote ini diangkat setidaknya dalam dua film yang berbeda. “Capote” dan “Infamous”, keduanya sudah saya tonton. Cuma, buku In Cold Blood masih belum saya dapat. Jadi penasaran.

Saya cari di Gramedia Plaza Ambarukmo Yogya, harga awal Rp40.000. Dalam katalog, buku terbitan Bentang itu masih ada stok delapan biji. Tapi pelayan toko tak mengeluarkannya, dengan alasan hendak ditarik penerbitnya.

“Mizan mau tarik buku-bukunya. Akan ada kenaikan harga,” tutur si petugas toko bagian buku novel.

“Bukannya ini terbitan Bentang?” saya bertanya.

“Bentang termasuk Grup Mizan.”

Beberapa pekan sesudahnya, saya cari lagi. Kala itu di Malioboro Mall. Dalam katalog, stok kosong. Dan harga sudah jadi Rp55.000. Saya belum mendapatkan buku itu. Dan itu bikin saya makin penasaran. Saya sudah terlanjur kepincut.

“Kalau baca buku itu, tuntaskan dalam sehari. Jangan ditunda-tunda,” ujar Janet Steele menebar iming-iming, Juni silam.

Janet adalah profesor pengajar ilmu jurnalistik, khususnya tulisan narasi, pada George Washington University. Saya beruntung, dia mengajar kursus jurnalisme sastrawi yang diselenggarakan Yayasan Pantau di Jakarta. Saya ikut kelas kelima belas, selama dua pekan pada Juni lalu. Selain Janet, pemimpin Pantau Andreas Harsono turut mengampu materi kursus.

Mengapa ada sebagian orang yang sedemikian kejamnya menghilangkan nyawa manusia lain? In cold blood, dengan darah dingin.

Saya juga teringat pada skripsi kakak saya, yang mengupas kaum gay di Malang. Winuranto Adhi, kakak saya, lulusan jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2001. Skripsi itu diganjar nilai A dan beberapa kali diulas koran seperti Kompas halaman Jawa Timur dan Jawa Pos. Aku pikir ini karya pemanasan sebelum dia masuk dalam dunia jurnalistik. Dan aku rasa dia termasuk andal.

Mas Wiwin bisa masuk hingga ke dalam komunitas itu lantaran sebagian gay di Malang akrab dengan Partai Rakyat Demokratik, organisasi kakak saya. Partai ini juga memperoleh kader maupun simpatisan dari kaum yang terpinggirkan ini.

Lantaran mengalami keterkucilan, inilah sebagian alasan mengapa mereka sangat sensitif. “Bahan skripsi ini banyak dikasih oleh temanku, seorang cewek, anak jurusan psikologi. Dia frustrasi ditolak oleh orang-orang gay -yang mau dia jadikan objek penelitian. Makanya bahannya dikasih ke aku. Banyak studi literatur darinya,” cerita Mas Wiwin di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Waktu itu, Selasa malam usai rapat mingguan, akhir Juli, aku belum berangkat ke Yogyakarta.

“Anak cewek itu bikin percakapan awal yang sangat blunder. ‘Mas, saya mahasiswi yang hendak bikin penelitian tentang gay’,” ujar Mas Wiwin menirukan mahasiswi itu.

“Kenapa ditolak?” tanya Riki Ferdiansyah, jurnalis Koran Tempo yang juga mereportase perkembangan kasus Ryan.

“Karena sudah sejak awal, belum kenal kok ngomong gay. Bagaimana kamu tahu kalau mereka gay? Cap gay buat mereka, dari orang luar yang belum kenal, sangat menyinggung. Kecuali kalau kamu sudah kenal dekat,” terang kakakku.

“Oh mungkin karena itu yah waktu aku wawancara, aku ngomong langsung bilang gay atau homoseksual, narasumberku mencak-mencak,” tutur Riki membenarkan argumen Mas Wiwin. Waktu itu Riki hendak wawancara seorang pemimpin organisasi gay.

Kata kakakku, komunitas di Malang sangat unik. Ada dua kelompok besar, yakni gay dan waria. “Bedanya, waria sudah tuntas tahap psikologisnya sehingga mereka berani tampil seperti wanita. Kalau gay, masih terkendala sehingga memilih diam-diam di tengah masyarakat.”

Masih soal kelompok gay dan waria yang bersimpati pada PRD. Tak jarang mereka turut demo waktu marak unjuk rasa. “Jangan salah loh, mereka lari paling cepat kalau dikejar aparat,” tutur Mas Wiwin sambil terkekeh.

“Sudah biasa digerebek trantib yah?” tanya kami masih penasaran menagih kelanjutan cerita Mas Wiwin itu.

Lantas mengapa jadi gay?

“Sebabnya macam-macam. Ada yang sejak kecil ditinggal pergi ayahnya. Dia rindu sosok seorang ayah. Begitu dewasa dan menemukan seorang pria yang dia anggap dapat menggantikan profil ayahnya, dia bisa tertarik. Ada juga karena orang tuanya menghendaki dia terlahir jadi wanita. Orang tua mendambakan anak perempuan karena sudah punya anak laki-laki. Bahkan orang tua tak sengaja memaksa dia dengan berbagai perlakuan. Dibeliin rok lah, segala macam…

Tapi, ada juga faktor budaya. Homoseksual bukan fenomena modern. Dia sudah ada sejak dulu, bahkan dalam masyarakat kita sendiri. Dan warga menerimanya baik-baik saja.”

“Contohnya?” sahut kami hampir serentak.

“Misalnya,” Mas Wiwin melanjutkan penjelasan yang tersela, “di Ponorogo ada hubungan warok dan gemblak. Pada daerah lainnya pasti ada budaya semacam itu.”

Warok adalah jagoan tradisional yang dipercaya punya kesaktian. Suka pakai celana hitam, baju hitam, berkaus dalam lerek putih-merah melintang. Mukanya sangar, berjambang dan berkumis tebal. Warok harus memelihara kesaktiannya, konon dengan syarat tak boleh berhubungan dengan perempuan.

Karena itu, mereka memilih memelihara gemblak. Gemblak adalah seorang bocah laki-laki yang berkulit putih, bermuka manis. Gemblak inilah muara penyaluran hasrat kasih sayang si warok.

Warok dan gemblak seringkali muncul dalam pertunjukan atraksi reog, kesenian tradisional yang dipercaya asli Ponorogo, Jawa Timur.

MASIH SOAL PONOROGO. Tapi bukan tentang warok-gemblak, reog, apalagi homoseks. Bukan pula tentang perkawinan kolega Anis, anak kedua Mbak Yatmi, pada hari Sabtu kemarin (2/8). Ini masih soal berita di televisi, kali ini tentang seorang pria gempal yang lari dari rumahnya menuju jalanan hanya bercawat putih. Dia pengen mati, coba bunuh diri berkali-kali tapi selalu gagal. Dia minta ditembak Pak Polisi serta berendam di sebuah sungai yang sedang asat alias minim air. Lantas dia digiring ke kantor polisi.

“Aku jaluk mati. Aku pengen mati. Kowe kenal aku, aku yoh kenal kowe, ngono loh.” Aku minta mati. Aku ingin mati. Anda kenal saya, saya juga kenal kamu, begitu loh. Tutur lelaki itu kepada petugas di halaman depan kantor polisi. Dia masih memakai celana dalam doang.

Pria itu, Yuli Nursanto, adalah calon bupati yang stres karena banyak utang dan gagal total dalam pemilihan kepala daerah. Dia maju jadi calon bupati Ponorogo untuk periode 2005-2010 lewat dukungan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrat.

Yuli harus merogoh sejumlah uang dari kocek pribadi. Kalah, dia menyisakan utang Rp2,9 miliar. Lantaran bangkrut, dia terkena tekanan jiwa hingga hendak bunuh diri. Sayang, dia tak cukup nekat. Berbagai usaha menghabisi diri sendiri selalu gagal.

Berita itu disiarkan dua kali. Pertama oleh RCTI pada siang hari dan pada sore hari oleh Global TV. Baik RCTI dan Global TV, serta TPI, situs berita Okezone, dan berbagai media radio dan cetak macam Koran Seputar Indonesia tergabung dalam satu grup besar, MNC. Dulu namanya grup Bimantara.

Belakangan saya baca Tabloid Nyata edisi 1937 yang beredar pada 11 Agustus 2008 tentang perkembangan kasus ini. Berita ini saya baca sewaktu mudik ke Pati selama lebih dari sepekan (9-18/8) .

Mohammad Zuhri Yuli Nursanto, pria berusia 39 tahun, adalah pebisnis yang cukup sukses di Ponorogo. Dia punya perusahaan pengerah tenaga kerja ke luar negeri (PJTKI). Dia juga punya rumah makan dan bus wisata yang bernama “Taman Sari”. Pula, dia punya sebuah stasiun radio di Ponorogo.

Dia menikahi Adjidah yang lebih tua setahun.

Bermodalkan tangan dingin dalam berbisnis, dia coba peruntungan di dunia politik. Yuli berduet dengan Achmad Soemarno di bawah bendera PPP dan Partai Demokrat. Apes, dari lima calon, pasangan ini hanya bertengger di urutan keempat dengan mengantongi 7% suara pemilih.

Rupanya Yuli harus menomboki biaya hajatan ini. Bukannya balik modal sesukses roda bisnisnya, alih-alih malah tekor. Hitung punya hitung, dia punya utang Rp9 miliar. Berkali-kali mencicil pinjaman, sisa kredit “tinggal” Rp2 miliar. Jumlah itu agak beda dari berita awal di teve, yang menyebutkan sisa utang Rp2,9 miliar. Para kreditor tak henti merangsek, hingga membawa kasus utang-piutang ini ke meja hijau.

Kantong makin bolong, belakangan, Ida -panggilan istrinya- malah meminta cerai. Alasannya, Yuli punya wanita lain, yang bekerja sebagai direktur stasiun radio milik Yuli sendiri. Atasan makan bawahan, dalih Ida.

Cobaan yang bertubi-tubi itulah yang menghimpit batinnya hingga dia kudu dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa Lawang, di daerah Malang, Jawa Timur. Dia sempat hendak gantung diri. Lantaran tinggi badannya menjulang hingga 180 centimeter, kakinya tak dapat mengambang, tiang gantungan yang dia persiapkan sendiri terlalu pendek buatnya.

Pengacara yang menangani kasus Yuli adalah Sirra Prayuna. Sirra, tak lain dan tak bukan adalah penasihat hukum anggota DPR Al-Amin Nur Nasution.

Al-Amin, anggota dewan dari Fraksi PPP ini dicokok petugas Komisi Pemberantasan Korupsi di Hotel Ritz Carlton Jakarta dengan membawa sejumlah duit jutaan rupiah. Suami pedangdut Kristina ini dituduh menerima suap soal alih fungsi hutan lindung. Al-Amin adalah anggota Komisi IV DPR, yang membidangi di antaranya kelautan dan kehutanan. Belakangan, Kristina menggugat cerai Al-Amin. Bukan karena kasus korupsi, melainkan lebih condong pada sikap playboy Al-Amin. Dalam perkembangan kasus ini, terkuaklah rekaman percakapan Al-Amin yang minta pesanan “gadis berbaju putih yang sudah dia kenal”, sebagai satu paket pemulus deal alih fungsi hutan lindung itu. Al-Amin dinon-aktifkan sebagai pengurus partai bergambar kabah tersebut lantaran perkara ini.

Malam hari adalah acara film atau sinetron. Mbak Muji, Astrini, maupun Mur penggila sinema layar kaca. Artisnya memang cakep-cakep. Beberapa keturunan bule, blasteran. Namun jalan ceritanya norak. Saya sendiri heran mengapa banyak orang suka sinetron. Setiap hari adalah sinetron. Saya mengalah saja. Lagipula saya tak tahu acara mana yang bagus.

Satu kali Mbak Muji ganti saluran Trans 7, Senin malam itu. Film horor “Poltergeits”. Banyak mayat dan tengkorak dalam peti mati bermunculan dari dalam tanah. Mbak Muji menjerit sambil menutup muka. Remote control terpelanting di atas meja dari genggaman tangannya. “Hiii… takut… ganti-ganti…”

Akhirnya kami balik lagi ke saluran sinetron.

AWAL AGUSTUS DI PURBALINGGA MERUPAKAN KEMARAU YANG DINGIN. Kering namun begitu menggigit tulang. Jangan tanya betapa cuaca bikin menggigil, meski sinar matahari menghampiri. Apalagi jika malam mulai menjemput hingga larut dalam fajar-pagi. Saya yang bangun tidur jadi malas menyentuh air wudu -salat subuh.

Meski demikian, hawa di sini tak sedingin di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pada 2003 saya kuliah kerja nyata di daerah yang terkenal akan trilogi candi Budha itu: Mendut-Pawon-Borobudur. Sampai keluar uap air dari mulut waktu pagi hingga jelang siang.

Toh, hawa yang membuat kulit mengerut itu bikin ambruk Mur juga. Kami yang berencana pulang pada hari Senin (4/8.) terpaksa undur sehari. Mur kena demam. Banyak dugaan dalam benak saya. Mungkin terlalu banyak pikiran lantaran capaian PON yang kurang maksimal; mungkin saya terlalu merepotkannya; mungkin terlalu capek sehabis jalan-jalan ke alun-alun dan Owabong; mungkin pola makan yang serampangan, Mur suka pedas-pedas dan hari Minggu kemarin (3/8.) dia menggasak rujak bareng Mbak Yatmi, Ayu, Astrini, Mbak Muji, dan… saya.

Mur terbaring lemas. Saya tempelkan tapak tangan saya ke keningnya. Hangat. Saya hanya bisa menghiburnya dengan melontarkan komentar-komentar konyol soal berita di teve yang kami lihat. Atau nonton bareng acara gosip selebritis alias infotainment.

Senin seharian ini kami lalui di rumah, tak ke mana-mana.

Saya sendiri? Syukur masih sehat meski merasa masuk angin. Saya butuh dikerok. Tapi bagaimana? Lah wong Mur, “tukang kerok” andalan saya, justru sedang tepar. Saya putuskan kerokan saja kalau nanti tiba di Yogya.

Hampir tiap hari saya isi waktu dengan tidur. Usai subuh tidur. Siang hari tidur lagi hingga sore. Belum ada pukul sepuluh malam, saya sudah ngorok. Alasan saya, badan masih capek. Perjalanan panjang naik motor, dus jalan-jalan “keliling” (sebagian) kota Purbalingga.

Astrini bawa alat pijat kaki elektronik. Alat pemijat itu punya tiga kegunaan. Pertama, menggoyang-goyang kaki bagian bawah. Kedua, memijat telapak kaki. Dan ketiga, memberi rasa hangat lewat sinar inframerah pada telapak kaki. Tapi cara menggunakannya pakai timer. Kami stel secara bergantian, dua puluh menitan.

Saya harap Mur mendingan setelah merasakan pijatan di kakinya.

Senin sore itu Astrini mengantar Mur periksa ke dokter. Saya dan Mbak Muji berharap Mur segera pulih. Syukurlah, obat resep dokter itu sedikit membantu. Akhirnya, kami pulang pada hari Selasa (5/8).

Mencecap Kabupaten Perwira

HAWA DINGIN DI SATU SISI MALAH BIKIN BADAN JADI SEGAR. Belum tuntas rasa lelah usai perjalanan bermotor. Baru tiba sore, malam harinya saya dan Mur hendak pergi ke alun-alun kota. Beruntung, saya sempat tidur habis asar dan bangun pada waktu magrib. Setelah isya, pada pukul tujuh, kembali kami pakai si motor juru mogok itu.

Berbalut jaket, kami nikmati perjalanan malam-mingguan itu dengan laju santai. Lepas dari mulut kompleks perumahan, kami ke timur menyusuri Jalan Padamara. Lurus saja ke timur. Hingga kami temui jalan searah.

Pada sisi kiri, berdiri gapura khas pecinan. Memanjang beberapa ratus meter dari selatan ke utara, pada setiap beberapa meternya berdiri gapura serupa. Plang atap tengahnya menerakan pesan sponsor dari sebuah produsen rokok, Dji Sam Soe. Menemani papan sponsor, berkelap-kelip warna-warni lampu hias. Di seberang gapura depan berdiri toko roti dan kue, “Toko Nikmat”.

Pada masing-masing pinggir jalan, di sisi barat dan timur kompleks gapura itu, berdiri sederetan pedagang makanan. Menunya rupa-rupa. Mulai nasi goreng, makanan laut, buah-buahan, gorengan, martabak, dan sebagainya.

Ada pula toko-toko di belakang pedagang makanan itu.

Itulah Kya Kya Mayong. Kompleks perbelanjaan ini diresmikan oleh Pemda Purbalingga pada 29 Juli 2006. Permai nian. Rame tapi teratur. Pada kompleks ini, tak ada kendaraan dengan kecepatan tinggi. Pejalan kaki bisa menikmati suasana dengan baik.

Pati, tempat asal saya, belum punya macam begini. Pedagang kaki lima dan makanan begitu marak berderet-deret, namun belum terlokalisir seperti ini. Kurang rapi tertata, jika tak mau disebut semrawut. Pedagang kaki lima seakan hendak berebutan tempat dengan pedestrian pejalan kaki. Meski demikian, agak mendingan, tak seruwet beberapa tahun silam.

Kami belum berpaling ke Kya Kya Mayong. Motor tetap melaju ke timur. Tiba juga di alun-alun. Malam itu rame. “Ada pemilihan Mas dan Mbakyu Purbalingga,” Ayu cerita pada Minggu, keesokan harinya. Kontes ini kayak pemilihan Abang dan None Jakarte. Kami sendiri tak tahu hasilnya, siapa yang menang.

Dari arah barat, saya harus berbelok kiri, memutari alun-alun ke arah kanan. Jalan satu arah. Suasana rame banyak orang jalan kaki maupun pedagang. Persis di Pati.

Searah putaran motor kami, di tepi kiri jalan terdapat Masjid Agung Daarussalam. Lantas ada bangunan, saya duga milik Pemda. Barulah Ayu menjelaskan bahwa itu perpustakaan daerah di sana ada sangkar burung besar kayak kebun binatang mini -khusus burung. Di samping timur pertustakaan adalah pendopo kabupaten. Di seberang timur ada gedung Bank BNI. Beberapa bangunan. Lantas di sisi selatan ada gedung Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 1. Beberapa ratus meter dari situ ada sebuah panggung yang dikerumuni banyak orang. Pembawa acara, sepasang muda-mudi, tak kelihatan dan hanya bisa saya dengar suara mereka cuap-cuap. Mereka memandu sebuah acara, mungkin pemilihan Mas dan Mbakyu itu. Lalu, di seberang selatan masjid agung, berdiri Hotel Nusantara.

Kami terus melaju ke arah Masjid Daarussalam lagi. Namun kali ini lurus ke utara, tak mengitari alun-alun untuk kedua kalinya. Kami menyisir jalan kecil, di seberang kanan jalan rupanya gedung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

Lurus, kami menemui perempatan. Belok kiri, kami jalan ke barat dan Mur mengajak makan malam. Saya putuskan cari-cari warung makan yang suasananya rame. Ketemulah, kami balik ke Kya Kya Mayong, dari arah utara, kebalikan dari ketika kami hendak ke alun-alun.

Saya putuskan untuk menyantap nasi goreng. Mur memesan mie goreng. Unik, mie goreng maupun rebus khas Purbalingga ada dua pilihan. Mau mie yang lebih lebar, besar-besar -saya rasa ini mie telur, atau mie yang gilig seperti yang kita kenal. Bihun yang putih dan lebih kecil juga ada. Kwetiau yang putih lebar pun tersedia.

Nasi goreng maupun mie di sini banyak sayurnya. Daun sawi maupun kol begitu melimpah. Bikin saya lahap saja. Lebih enak daripada nasgor di Jakarta yang banyak saos tomatnya. Tapi, tetap saja masih kalah dibanding nasi goreng Pati yang gurih, favorit saya.

Senin malam, kami sekeluarga juga menyikat nasi goreng. Kami beli dari penjual yang keliling kompleks perumahan. Tek-tek-tek-tek, begitu si penjual memukul alat masaknya menjajakan dagangannya.

“Magelangan Pak,” saya pesan. Magelangan berarti nasi goreng dicampur sedikit mie.

Mur tak antusias dan tak habis memakan mie goreng itu. Dia tak terbiasa dengan mie yang lebar itu. Dia belum tahu, sebenarnya boleh memesan mie kuning yang gilig kecil. Dia pilah-pilih sayuran dan sobekan daging ayam.

Usai makan, kami membayar. Ha? Seporsi Rp8.000. Di Pati, harga sepiring nasgor hanya Rp4.000 -setengahnya. Di Jakarta, umumnya nasgor biasa Rp6.000, menu spesial Rp12.000. Mur berbisik heran, “kok mahal yah.”

“Mungkin dipremo, si penjual tahu logat kita bukan dari sini,” jawab saya sekenanya.

“Dipremo itu apa?”

Mremo adalah menaikkan harga. Ini bahasa yang lumrah di Pati, namun belum tentu dipahami oleh daerah lainnya, meski sama-sama pakai bahasa Jawa. Bisanya pedagang mremo pada momen yang jarang. Misalnya pada hari lebaran yang hanya setahun sekali. Harga pensil 2B maupun penghapus pasti lebih mahal waktu marak ujian lamaran kerja atau masuk perguruan tinggi. Iya kan? Kira-kira itu arti “mremo”.

Selesai makan, belum pukul sembilan malam, kami pulang. Esok hari kami hendak ke objek wisata Owabong.

OWABONG MERUPAKAN WAHANA KOLAM RENANG YANG BESAR. Lahannya luas, ada seluncuran yang tinggi. Mirip Ancol. Istilahnya water boom. Ada rupa-rupa permainan. Misalnya rubah terbang atawa flying fox. Peserta meluncur ke kolam di bawahnya dari ketinggian dengan bergantungan di atas tali. Rubah terbang dapat dijumpai pada beberapa permainan outbond. Jika arus sungai memadai, Anda bisa rafting. Serba air deh pokoknya. Jika Anda ke sana, persiapkan saja pakaian renang. Ada pula beberapa sangkar burung kayak kebun binatang mini. Pada poster yang tertempel di papan pengumuman, saya lihat pula beberapa jenis ular. Namun waktu itu saya cari-cari, tak ketemu di mana tempatnya.

Pati, tempat asal saya, belum punya macam begini.

Usai melahap opor masakan Mbak Muji, menyeruput cincau, dan salat duhur, saya dan Mur berangkat ke Owabong. Mbak Muji dan Ayu bakal menyusul. Dari perempatan Padamara, kami berbelok kiri. Melintasi beberapa lampu merah, kami belok kiri ke barat. Jalan lurus saja. Beberapa kilometer tibalah juga kami di Owabong.

Suasana hari Minggu itu rame. Banyak bus pariwisata parkir di halaman luar yang luas. Saya memarkir motor pada halaman rumah penduduk. Warga sekitar memanen rezeki dengan membuka toko maupun mengelola parkir kendaraan. Ada pula penjaja oleh-oleh di muka pintu gerbang masuk. Buah tangan khas adalah stroberi.

Kami beli dua tiket masuk, masing-masing Rp15.000. Satu tiket bisa ditukarkan jadi sebotol air mineral ukuran 600 mililiter. Ratusan kepala sudah memadati wahana di dalam sana. Rata-rata menceburkan diri ke kolam renang. Ada yang dangkal buat anak-anak, ada yang dalam buat yang bisa renang sungguhan. Ada juga kolam renang bertepi pasir kayak miniatur pantai. Beberapa menjerit meluncur dari flying fox maupun dari papan seluncur yang tingginya puluhan meter. Ada yang pakai pelampung, ada yang main bola. Ada juga yang berkejaran. Ada juga yang antre di ruang ganti pakaian. Tua muda remaja, semuanya tumplek blek.

Saya maupun Mur tidak turut renang siang itu.

Gending ala Banyumas mengalun pada dekat pohon beringin yang rindang. Lokasi itu dekat wahana flying fox dan sebuah resto ikan bakar. Rupanya ada pertunjukan tari tradisional. Penarinya dua perempuan manis, putih. Mereka berpakaian sama, kemben biru dan jarit batik. Dada ke atas, pundak, hingga tangan mereka tak berbalut kain. Rambut bersanggul, mereka memakai selendang tari berwarna merah jambu. Satu agak pendiam, satu lebih centil. Keduanya senantiasa menebar senyum. Kayak apa yah? Mungkin tayub -penari wanita yang ditonton banyak lelaki.

Kami memutuskan duduk-duduk mengaso sambil menonton tari itu. Silir angin di bawah rindangnya pohon bikin hati tenteram. Beberapa adegan lucu penari bikin para penonton tertawa. Tak ada panggung. Hanya latar sempit yang beralaskan karpet, cukup untuk dua-tiga penari.

Satu babak selesai, giliran penari laki-laki masuk. Usai menari beberapa saat, penari laki-laki menyapa pengunjung. “Sengaja kami di sini untuk menghibur Anda, parapengunjung wahana Owabong.”

Lantas dua penari cewek itu kembali menari bersama si laki-laki. Gamelan mengalun, sinden perempuan melantunkan sebuah tembang. Beberapa saat kemudian, si penabuh kendang protes berteriak-teriak.

“Wis-wis-wis. Mandek. Bubar. Sedulur, bubar wae.” Sudah-sudah-sudah. Berhenti. Saudara-saudara, bubar saja yuk. Saudara yang dia maksud adalah para pemain gamelan lainnya.

“Ana apa?” Ada apa? Tanya si penari pria.

“Kowe iku loh Nur. Eling, ning omah ana bojo. Kok enak-enakan ning kene ra bagi-bagi.” Kamu itu loh Nur. Ingat, di rumah ada istri. Kok enak-enak saja di sini tidak bagi-bagi. Tukas penabuh gendang dengan logat ngapak ala Banyumas.

“Bagi-bagi piye? Rak wis bagi-bagi. Nyong sing nari, rika sing ngendang.” Bagi-bagi bagaimana? Kan sudah dibagi-bagi. Aku yang menari, kamu yang menabuh kendang.

“Wis sing penting kabeh padha senenge. Ayo ditutukno wae,” sambung penari yang dipanggil Nur itu. Sudah, yang penting semua senang. Ayo dilanjutkan saja.

“Dilanjut iki? Yo wis sedulur ayo lanjut…” si penabuh mengalah. Dilanjutkan saja? Ya sudah saudara-saudara ayo lanjut…

“Tarik maaang…” gamelan kembali mengalun. Penonton tertawa. Saya hanya tersenyum. Saya pikir adegan dan dialog macam begini pasti sudah dirancang dan berkali-kali mereka praktekkan.

Penari pria bergerak-gerak menggoda-goda penari wanita. Dia pasang muka lucu, memejamkan mata sambil meruncingkan bibir kayak pantat ayam. Yang digoda mondar-mandir keliling “panggung” coba menghindar dari penari pria.

Lagi-lagi penabuh kendang protes. “Nur… Nur… Nur… Nuuurrr…” teriak dia.

“Tenang sayang, habis menari giliran kamu,” ujar penari cewek yang agak kenes itu kepada penabuh kendang. Penari satunya yang pendiam hanya senyam-senyum. Lagi-lagi penonton tertawa. Sinden melanjutkan lantunan sekar. Tarian kembali berlanjut.

Beberapa saat Mbak Muji dan Ayu sudah masuk, menghampiri kami. Berempat, kami menonton pertunjukan joged itu.

Beberapa babak selesai. Saya sendiri bosan. Mbak Muji dan Ayu duluan berkeliling sekitar kolam. Mereka juga tak renang. Saya dan Mur lanjut jalan-jalan. Kami berhenti di sebuah lapak jajanan. Kedai itu menawarkan kentang goreng, sosis, hamburger, ayam goreng. Tulisan “Owabong”, pada huruf “W”, berdesain mirip huruf “M” pada logo McDonald -sebuah waralaba makanan cepat saji. Kami beli brondong jagung dan sosis goreng. Buat ngemil. Perut lambat laun jadi lapar.

Kami duduk di kursi taman, dekat musala menunggu Mbak Muji dan Ayu. Beberapa saat kemudian, mereka nongol usai berkeliling. Kami memutuskan keluar saja. Di pintu luar, beberapa wanita penjaja stroberi mengerumuni kami. Menjajakan, sebungkus plastik seharga Rp5.000. Satu bungkus itu bisa berisi sepuluh biji lebih. Kami tawar-tawar, tak bisa. Yah, sebungkus Rp5.000. Mbak Muji beli tujuh bungkus, dari tiga penjual yang berbeda. Supaya rezeki bagi mereka terbagi merata. Sayang, penjaja stroberi tak cuma tiga. Ada empat, lima, delapan lebih.

Usai beli stroberi, kami ke tempat parkir. Ambil motor, ongkos parkir Rp2.000. Lagi-lagi, kami kena premo.

Pukul dua itu kami cabut. Kami hendak cari makan siang. Panganan khas sini, sroto.

SROTO BAGI SAYA TAK ADA BEDANYA DARI SOTO. Sroto tak lebih dari jenis atau variasi lain dari makanan khas Jawa ini. Tiap daerah punya corak sendiri. Setidaknya ada dua macam soto. Pertama, kuah bening dari kaldu. Misalnya soto kudus dari kota Kudus, Jawa Tengah. Warna kuahnya kehijauan. Kedua, soto kuah keruh pakai santan. Di Pati, ada soto kemiri. Bukan lantaran pakai bumbu kemiri, melainkan berasal dari Desa Kemiri. Kuahnya kecoklatan, lebih gurih.

Sroto termasuk berkuah bening. Cuma warnanya kecoklatan. Makannya pakai ketupat. Ada sobekan daging ayam, kacang kedele, kecambah, suun, kerupuk. Jangan lupa, campuri sambal kacang.

Sambal kacang sroto kayak bumbu pecel sayur. Cuma, sambal sroto lebih cuwer, tak sekental atau sepekat bumbu gado-gado atau pecel. Tambahkan beberapa sendok ke dalam kuah sroto. Tak perlu takut pedas, karena rasa lomboknya sudah jinak. Kalau sudah tercampur sambal kacang, barulah kuah jadi keruh. Rasanya lezat nian. Zonder kecap tetap mantap.

Siang-siang begini paling nikmat jika minum es dawet. Dawet khas Purbalingga punya cendol dari tepung beras. Warna cendolnya hijau. Berkuah santan plus gula merah. Segar, peneman sroto yang hangat. Mbak Muji yang awalnya tak pesan jadi ikut-ikutan beli es dawet setelah lihat saya meneguknya.

Semangkuk sroto Rp3.000 dan segelas es dawet Rp1.000.

SELESAI GOYANG LIDAH, MUR PENGEN BELI MANGGA. Saya antar ke Kya Kya Mayong karena semalam saya lihat pedagang buah di sana. Tiba di tujuan, Mur urung beli. Rupanya dia minta mangga muda. Dia pengen makan rujak.

“Cari yang mentah ke pasar saja,” ujar Ibu penjual buah. Tak ada ungkapan rasa kecewa karena kami tak jadi membeli. Kebaikan hati yang sulit aku dapatkan di Jakarta.

Ayu membimbing kami, naik motor Mio di depan memboncengkan Mbak Muji. Saya dan Mur, di motor Honda Supra tukang mogok itu mengikutinya. Kami ke timur ke arah alun-alun.

Tiba di alun-alun, kami mengitari tiga per empat putaran. Setelah gedung sekolah Muhammadiyah, ada jalan ke arah selatan. Kami belok ke sana, mencari lokasi Pasar Purbalingga. Sampai juga.

Pasar Purbalingga ini seperti Pasar Wonosari. Wonosari adalah sebuah kecamatan, ibukota Kabupaten Gunungkidul, asal Mur. Cuma, Mur dari lain kecamatan, Ponjong. Pasar itu juga mirip Pasar Rogowangsan di Pati. Rogowongso adalah salah satu kampung di Kelurahan Pati Kidul. Letaknya juga dekat alun-alun, sebelah selatan.

Mbak Muji dan Mur beli mangga mentah satu kilogram, jambu air, bengkuang, belimbing. Penjual buah menjajakan dengan bahasa ngapak. Lucu bagi saya. Beberapa kata kurang saya mengerti.

Beres dengan urusan belanja buah, kami meluncur pulang. Saya memutuskan tidur. Tidur siang yang terlambat, mengingat hari agak sore jelang asar. Biarlah saya terpejam, sementara Mbak Muji dan Mur sibuk mengolah rujak.

Sore hari yang cerah, kami nikmati rujak di gubuk. Ada Mbak Yatmi, Astrini, Ayu, Mbak Muji, dan Mur. Bangun tidur, saya menyusul. Hari Minggu yang sempurna. Hari libur yang indah.

About these ads

2 responses to “Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Kedua)

  1. Pingback: Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Ketiga -Terakhir) « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  2. aku mau nanya nama ilmiah daribunga kupu2 n nama familinya apaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s