Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Pertama)

Oleh Yacob Yahya

(6.412 kata)

Purbalingga Perwira, sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Kota ini dekat dengan Purwokerto dan Banyumas. Bahasa penduduknya ngapak-ngapak. Saya baru pertama kali ke sana, akhir pekan lalu. Berikut goresan kesan saya.

Ini merupakan cerita bagian pertama, tentang keberangkatan kami hingga sampai pada tempat tujuan. Cerita berikutnya bakal membedah suasana kota Purbalingga serta perjalanan pulang kami ke Yogyakarta.

BAB I

JUMAT MALAM (1/8), MUJI LESTARI TIBA DI YOGYAKARTA. Dia naik bus dari Kartosuro. Kami, saya dan Murjayanti, sudah menunggunya hari itu. Malam itu dia menginap di kos Mur, daerah Janti. Jalan Laksda Adisucipto Gang Pinus. Sekarang saya juga kos di daerah ini -beda induk semang, tentunya.

Tepat, dia turun di perempatan Janti. Dekat jembatan layang. Tak perlu repot turun Terminal Giwangan, tujuan terakhir, yang justru lebih jauh dari kos Mur.

Janti merupakan jalur bus Yogyakarta-Solo. Dari Solo kita bisa melanjutkan perjalanan ke Sragen, Ngawi, Surabaya, Purwodadi, atau sekitarnya. Kalau mau pulang ke Pati, saya memilih nyegat bus di Janti. Ke Solo, nyambung ke Purwodadi, lantas sekali naik bus ke Pati.

Kami bertiga hendak berangkat ke Purbalingga, Sabtu pagi (2/8). Kami mau bertandang ke Mbak Yatmi, kakak Mur dan Mbak Muji, yang tinggal di sana. Perjalanan Yogyakarta-Purbalingga makan waktu lima jam, kayak Yogya-Pati dengan bus via jalur Solo-Purwodadi.

Mbak Muji baru saja selesai ujian semesteran. Jumat itu hari terakhir dia ikut tes. Dia ambil jurusan akuntasi di sebuah perguruan tinggi swasta di Solo. Sebentar lagi Mbak Muji mau susun skripsi.

Ke Purbalingga adalah liburan kuliah bagi Mbak Muji. Buat Mur, ini adalah refreshing usai menjalani kompetisi panjang yang melelahkan. Untuk saya, ini adalah perjalanan yang bakal seru karena baru pertama kali saya (akan) ke sana. Ini sebuah “anugrah” buat saya untuk membuang jauh rasa penat dari Jakarta.

“KITA BERANGKAT JAM TUJUH PAGI LOH, COB,” pesan singkat dari Mur masuk ke hape saya, Jumat pukul sepuluh malam itu. Saya sudah berbaring di kasur busa kamar kos saya. Siap-siap tidur.

“Apa gak terlalu pagi?” balas saya.

“Yah harus berangkat pagi. Soalnya naik motor.”

Naik motor? Bukankah Mur bilang pengen naik bus? Kerapkali, entah saya maupun Mur, membuat keputusan dengan bimbang. Pilih A atau B? Seringkali kami berantem dalam kebingungan pada situasi semacam ini.

Naik motor bakal bikin badan capek. Tapi motor itu punya Ayu, anak Mbak Yatmi. Kami naik motor agar si kuda besi itu bisa kembali ke kandangnya tanpa biaya kirim paket.

Namun beberapa saat sebelumnya Mur menyampaikan niatnya pakai bus saja. “Gak mau capek,” celetuknya. Tapi, “tiketnya mahal,” ralatnya spontan. Kini harga karcis bus patas Yogya-Purwokerto untuk satu orang Rp40.000. Bayangkan kalau beli untuk tiga orang. Sudah lebih dari seratus ribu. Belum nyambung bus ke arah Pemalang, tiap orang Rp5.000.

Jam tujuh? Toh saya bangun tidur pukul setengah delapan. Ini tidur jilid dua setelah salat subuh. Saya buru-buru mandi dan ambil beberapa pakaian yang bakal saya pakai di Purbalingga. Belum sempat sarapan. Saya kebut cuci pakaian, saya jemur di atas kawat jemuran depan kamar. Saya berlari ke arah barat, ke kos Mur yang cuma sepelemparan batu.

Sekolah Dasar Negeri Caturtunggal 6 yang berdiri di depan persis rumah kos saya sudah sibuk menggelar pelajaran pagi itu. “Selamat pagi, Bu Guru…” teriak murid-murid dari balik ruang kelas.

Waktu itu jelang pukul delapan. Ternyata Mur juga… belum siap-siap amat. Masih mandi. Senyampang Mur membereskan urusannya, Mbak Muji menemui saya guna sekadar bercakap.

Saya masih belum tahu, belum ada keputusan final kami hendak naik motor atau bus.

Dan akhirnya… kami naik motor juga.

Itu pun, kami harus berdebat soal hal lain: pakai sepatu atau sandal. Mur berkeras saya pakai sepatu. “Jalan jauh, bakal panas, buat melindungi kaki, tahu…”

Dan akhirnya… saya menurut pakai sepatu. Adidas biru yang Mur belikan dua atau tiga tahun lalu.

Motor cuma bisa untuk dua orang. Mbak Muji hendak naik bus. Saya antarkan dia mencegat bus ke Terminal Giwangan, untuk mendapatkan bus patas jurusan Purwokerto. Lantas nyambung jurusan Pemalang.

Saya pikir Mbak Muji mau naik Trans-Yogya. Itu loh, busway kayak Trans-Jakarta. Kendaraan ini baru ada tahun ini, menyontek program DKI Jakarta dalam menyediakan rapid-mass-transportation bagi warganya. Di Yogya baru ada enam jalur: 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, dan 3B. Saya tak hapal rute tiap-tiap jalur. Ulasan soal busway ini akan saya tuturkan pada bagian lain, pada segmen kepulangan kami dari Purbalingga.

Saya antar dia naik motor, Mbak Muji bilang berhenti saja di depan gang kos kami. Di Jalan Janti. Persis depan jembatan layang Janti. Ini dilewati bus kota nomor 7 pula jalur busway 3B atau 1A serta minibus lain. Dalam hati saya berpikir mungkin Mbak Muji hendak naik bus kota saja. Soalnya dia tidak minta diantar hingga halte busway. “Udah sini saja.”

Saya tinggalkan dia sendirian. Saya balik ke kos Mur.

Beberapa saat sebuah busway melaju di depannya. Tak berhenti. Mbak Muji bersikeras melambai-lambai. Hal yang dilakukan setiap calon penumpang. Kondektur busway itu, dari balik kaca jendela, hanya menuding-nudingkan jari tangannya, menunjuk halte yang beberapa ratus meter di sebelah selatan posisi Mbak Muji. Terpaksa dia jalan kaki ke halte busway itu. Tentu saja, kendaraan itu sudah meninggalkannya. Dia harus tunggu “bus batik” selanjutnya.

“Bodo yah aku… Baru pertama kali naik busway,” Mbak Muji mengirim sms kepada Mur, tatkala kami di tengah perjalanan berangkat.

MUJI LESTARI ADALAH KAKAK KETUJUH MURJAYANTI. Saya taksir tingginya sekitar 155 centimeter, sedikit lebih pendek daripada Mur.

Parasnya, saya nilai, kayak lady rocker 1990-an, Inka Christie. Cuma Mbak Muji menurutku adalah versi pendek dan kurusnya, dus berambut agak mengombak kemerahan. Plus setitik tipis tahi lalat di atas bibir kirinya. “Dia imut,” ujar Mur. Dia jomblo, dan tentunya single yang imut.

“Masak kayak Inka Christie? Kayak Jihan Fahira. Orang bilang kayak Jihan Fahira,” protes Mur. Jihan adalah selebritas, istri seorang aktor Primus Yustisio.

Inka Christie adalah penyanyi kelahiran Bali, 1973, dan tinggal di Bandung. Tentunya dia sebaya dengan Mbak Muji. Anak kembar beda orang tua, barangkali. Mojang ini melejit lantaran duet bareng rocker Malaysia, Amy. Duet era 1990-an ini masih menggoreskan lirik lagu yang diingat masyarakat. “Buuulan madu di awan biru, tiada yang mengganggu. Buuulan madu di atas pelangi, hanya kita berdua. Nyanyikan lagu cinta. Walau seribu duka, kita takkan berpisah. Andai dipisah laut dan badai, tak akan goyah gelombang cinta.”

Penyanyi negeri jiran itu tenar dengan band bernama Search. Hit yang digandrungi masyarakat Indonesia adalah Isabella. Waktu itu media hiburan hanya satu kanal televisi, TVRI. Saban hari Minggu siang, hampir semua pemirsa menikmati program lagu-lagu. Isabella yang digeber Search inilah yang ditunggu-tunggu, termasuk saya yang kala itu masih kelas dua sekolah dasar. “Isabella adalah kisah cinta dua dunia. Mengapa kita berjumpa namun akhirnya berpisah…”

Selain Search, saya pikir Iklim adalah band rock asal Malaysia yang diterima kuping Indonesia. Nama vokalisnya Saleem. Masih ingat Suci Dalam Debu? “Suatu hari nanti pasti kan bercahaya. Pintu akan terbuka. Kita langkah bersama. Di situ kita lihat, bersinarlah hakikat. Debu jadi permata, hina jadi mulia. Bukan khayalan yang aku berikan, tapi keyakinan yang nyata. Kerana cinta, lautan berapi…” ah saya lupa kelanjutannya.

Meski rock, cengkok melayu tetaplah melayu. Mendayu-dayu. Kayak J-Rock -lagu rock asal Jepang. Susah agaknya membayangkan rock ala Melayu yang menggelegar dan garang. Lengkingan vokalisnya sih dapat, ala old-rock. Beberapa personelnya juga gondrong. Tetapi tetap saja kurang sangar.

Saya sendiri penikmat lagu Inka. Tembang yang paling saya suka adalah Gambaran Cinta. Ini nomor lawas, waktu saya masih kelas tiga sekolah dasar. “Kau umpama tirai cinta yang menghiasi hidupku. Seandainya engkau pergi, hampa terasa hidupku. Hidup bagai pelayaran yang membutuhkan haluan. Hancur bahtera tanpa nakhodanya. Panas mentari hangat membakar. Aku terbiar kedinginan. Gambaran cinta pudar warnanya di saat kau tiada di sisi. Kini tinggal gambaran kedukaan…”

Lagu Nyanyian Suara Hati juga cukup menarik. Cuma, nomor ciptaan Deddy Dores ini bagi saya liriknya terlalu puitis, hiperbolik, dan kayak rayuan gombal seorang cowok pada cewek incarannya. “Biar petir menggelegar, biarpun bumi berguncang… Cintaku bagai samudra, bergelombang di lautan luas. Haruskah aku bersumpah demi Tuhan? Sambutlah matahari hangatkan diri ini. Cintaku dan cintamu tak terpisahkan. Nyanyian suara hati bergelora di dada. Biarkan mereka bicara. Cinta kita satu.”

Rocker cewek idola saya, selain Inka, adalah Nicky Astria dan Anggun. Sayang, nama yang terakhir kini ubah haluan jadi pelantun tembang pop -dan sudah tinggal di Prancis. Almarhumah Nike Ardila? Cantik sih, tapi saya kurang suka -lagunya, maksud saya.

Mur adalah atlet panjat dinding andalan Yogyakarta, kelahiran 1976 -tahun kelahirannya sama dengan kakak saya, Winuranto Adhi. Pada Pekan Olahraga Nasional di Kalimantan Timur yang baru usai Juli lalu, dia bersama tim memperoleh empat perunggu dan satu medali perak. Gelaran PON empat tahun lalu di Palembang dia meraih sekeping emas nomor jalur pendek (boulder) perorangan. Kali ini, pada nomor yang sama, dia dapat perunggu. Dia masih kuliah jurusan psikologi, di Universitas Wangsamanggala. Angkatan 1998.

Dia cinta panjat awalnya dengan bergabung organisasi pecinta alam di kampusnya. Teman-temannya memberi nama Oyek. Kebanyakan pecinta alam punya nama yang aneh-aneh. Oyek adalah nama sebuah makanan dari singkong, asal Wonosari. “Aku sendiri artinya tidak tahu. Katanya sih nama makanan jaman dulu,” tutur Mur. Cuma teman-teman yang panggil dia Oyek -teman kuliah maupun atlet panjat. Keluarganya tetap memanggilnya Mur. Kebanyakan saya panggil dia Mur.

Saya dan Mur berhubungan, ini jalan tahun keempat. Awalnya lucu, kami bertetangga kos di daerah Kuningan. Saya waktu itu, 2001-2004, mondok di rumah kos Pak Pono, Blok H37. Sedangkan Mur dan keponakannya, Ayu, persis tinggal di depan rumah kami. Cuma terpisah jalan setapak. Belakangan, pada 2003, Mur dan Ayu pindah kos di daerah Janti, hingga kini. Saya baru nembak dia justru usai lulus kuliah dan sedang kerja di Jakarta, awal 2005. Hubungan selama ini jarak jauh. Bikin stres lantaran pertemuan yang jarang plus sejumlah pertengkaran. Dan saya mencoba dekat dengannya, dengan pindah ke Yogya saat ini.

Saat ini kami sangat menikmati kebersamaan ini.

MUR DELAPAN BERSAUDARA, asal Gedaren, Ponjong, Gunungkidul. Empat laki-laki dan empat wanita. Dan Mur adalah anak bungsu.

Kakak pertama adalah Hartinah. Mbak Har menikahi Mas Parjo, mereka punya tiga anak dan satu cucu dari Sigit, putra sulung. Mbak Har tinggal di daerah Joglo, Jakarta. Beberapa kali saya berkunjung ke sana. Saya hampir empat tahun di Jakarta, tinggal di Kebayoran Lama. Jadi, ngangkot dua kali saja untuk ke Joglo. Ke perempatan Permata Hijau naik mikrolet 09, lalu nyambung minibus Blok M-Joglo jalur 70. Persis turun Sate Jono. Lalu masuk gang Lapangan Merah itu. Jalan kaki beberapa ratus meter.

Kakak kedua adalah Sujarwo. Mas Jarwo menikahi Mbak Mar, mereka punya lima anak. Mas Jarwo seorang amtenar di Solo. Tinggal di Desa Singopuran, dekat Terminal Kartosuro. Mbak Muji turut tinggal di rumah ini. Desa ini tak ada hubungannya dengan sebuah nama negara. Saya sendiri tak tahu sejarah nama desa tersebut. Beberapa kali saya bersama Mur berkunjung ke sana. Asri, banyak sawah. Kontras dengan Terminal Kartosuro yang berdebu dan panas. Kartosuro adalah terminal antara, sebelum masuk ke Solo dari arah Yogya atau Klaten -demikian sebaliknya, dari Solo ke Klaten-Yogya atau tujuan lainnya. Terminal ini adalah titik pisah sekaligus titik temu semua bus yang ke Solo dari arah selatan. Dari Yogya, Klaten, Kebumen, Jakarta, Semarang, dan daerah lainnya, setiap bus tentu lewat terminal ini.

Kakak ketiga adalah Suyatmi. Mbak Yatmi lahir pada 1960. Jadi, kalau saya hitung-hitung, jarak kelahiran Mur dengan kakak-kakaknya kira-kira tiga tahunan. Mbak Yatmi diboyong suaminya, Pratikno, ke Purbalingga.

Mas Pratik juga kayak Mas Jarwo, seorang abdi negara. Dia bekerja di Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga. Pria berbadan subur itu setahun lebih tua daripada istrinya. Mereka menikah sewaktu Mbak Yatmi berusia 23 tahun. Setahun kemudian, anak pertama lahir.

Mereka dikaruniai tiga orang putri. Abyayu Sari Utami, lahir pada 1984. Abyanis Dwi Sulastika, kelahiran 1986. Dan Abyastrini Woninda, lahir pada 1991. Tiga huruf pertama A-B-Y pada nama mereka, “artinya Anak Banyumas-Yogyakarta,” terang Mur.

Ayu dan Anis kuliah di UPN Veteran Yogyakarta. Ayu ambil jurusan hubungan internasional, lulus pada 2006, setahun kemudian Anis yang ambil jurusan ilmu komunikasi menyusul wisuda. Kini Ayu balik kampung, jadi pegawai Pemerintah Daerah Purbalingga. Sedangkan Anis jadi karyawan telemarketing Bank Mega kantor Sri Wedani, belakang Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Pasar itu dekat Jalan Malioboro yang kondang itu. Anis satu kos dengan Mur di Janti, seperti halnya Ayu waktu masih kuliah. Astrini baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat sekolah menengah atas. Kini dia lagi cari-cari perguruan tinggi. “Pengen jadi bidan,” ujar Mbak Yatmi.

Saudara keempat adalah Suwardi. Dia seorang pegawai Samsat -bidang lalu lintas lah. “Kerjaannya urus surat izin mengemudi. Seragamnya baju putih celana biru gelap,” tutur Mur. Mas Wardi beristri Mbak Asih, beranak tiga. Mereka tinggal di kompleks perumahan Departemen Dalam Negeri, Jakarta. Dekat Meruya. Kalau ke sana, naik angkot yang sejalur dengan tujuan rumah Mbak Har, plus dua kali ganti mikrolet. Agak ribet. Pengen praktis, naik ojek saja. Beberapa kali saya bertandang ke sana dan menginap.

Saudara kelima adalah Supriyanto. Mas Supri menikah dengan Mbak Yati, tinggal di daerah Ciledug, Jakarta. Saya cuma sekali berkunjung ke sana. Mereka punya dua anak. Mas Supri pegawai Departemen Dalam Negeri.

Saudara keenam adalah Gito. Mas Gito masih lajang. Sehari-hari dia menemani ibu, di rumah Ponjong. Kami panggil ibu Mbok Parti. Mas Gito hobi voli -olahraga yang digandrungi pemuda daerah Gunungkidul seperti halnya di Borobudur, memelihara burung dan ternak kambing. Cuma bulan ini dia merantau ke Karawang, bekerja di sebuah restoran. “Dia bagian masak,” cerita Mur kepada saya dan Mbak Muji.

Kata Mur, sejumlah burung Mas Gito ngambek ditinggal tuannya. Tak mau makan, tak mau ngoceh. Kini mereka diangkut Mbak Yatmi ke Purbalingga. Bu Parti sudah sepuh dan tak sempat mengurus burung. Pada bagian berikutnya saya akan cerita soal burung itu.

Sebelum berangkat ke Karawang, Mas Gito menjual beberapa ekor kambingnya.

BAB II

Berangkat

HONDA SUPRA BERPLAT HURUF “R” ITU SAYA STARTER. Itu plat nomor daerah Banyumas-Purwokerto-Purbalingga dan sekitarnya. Motor itu berwarna hitam. Pagi jelang pukul sembilan. Mur duduk di belakang saya. Kami pikir Mbak Muji sudah mendapatkan bus. Wus, kami meluncur di jalanan. Kecepatan konstan antara 50 hingga 60 kilometer per jam. Tidak ngebut, tidak pula terlalu lambat.

“Santai saja. Nikmati perjalanan naik motor. Baru pertama kali kan? Kalau capek berhenti istirahat saja. Atau gantian aku yang di depan. Kita nanti salat duhur sama makan di jalan saja,” ujar Mur menghibur hati saya yang masih masygul gara-gara bimbang naik bus atau kagak.

Slayer coklat muda menutup hidung dan bibir saya. Penghalang debu jalanan. Meskipun helm kami punya kaca pelindung.

Saya pakai jaket hitam yang membungkus kaos merah di badan saya. Ada emblem kecil bintang merah di dada kiri. Itu lambang gerakan EZLN, gerilya pembebasan Meksiko beraliran kiri yang dipimpin Subcomandante Marcos. Saya kepincut bros itu karena saya penggemar band Rage Against The Machine yang menyokong gerakan Zapatista itu. Jaket ini saya pakai waktu kuliah, ketika masih getol demo. Sebenarnya ini jaket lawas, sejak saya sekolah dasar, milik Ibu. Masih awet juga, meski bagian pergelangan tangan kiri sudah sobek.

Mur pakai jaket PON 2008. Bisa dipakai bolak-balik. Sisi satu berwarna coklat, sisi baliknya berwarna biru tua. Dia bawa tas punggung yang berisi pakaian kami.

Saya pernah meliput aktivitas klub motor. Lewat cerita narasumber, betapa asyik touring. Perjalanan jauh bergerombol naik roda dua. Rame-rame dari kota ke kota. Namun saya teringat, aktor elegan bekas anggota parlemen Sophan Sopian meninggal waktu touring, kecelakaan akibat buruknya kondisi jalan di sekitar Ngawi, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu, ketika peringatan Hari Kebangkitan Nasional -hari itu diperingati tiap 20 Mei. Ada kenikmatan, ada risiko. Namun, Sophan naik motor gede (moge) bukan untuk senang-senang. Melainkan pawai mengungkapkan rasa nasionalisme.

Sekali-kali saya ingin mencoba perjalanan jauh naik motor. Kesempatan itu tiba kini, untuk pertama kalinya. Tidak ada rombongan. Hanya kami berdua. Ini perjalanan rute baru buat saya. Bakal asyik.

Sebelumnya, waktu kuliah, saya pernah pulang ke Pati dari Yogya naik motor bareng teman kuliah kerja nyata, Adri. Kebetulan dia juga berasal dari Pati. Cuma, kala itu, saya membonceng. Lagipula jalur Yogya-Pati sudah kami hapal. Yogya-Klaten-Solo-Sangiran-Sumberlawang-Purwodadi-Pati.

Kali ini cuaca bersahabat. Musim kemarau yang terasa gerah di Jakarta, justru sejuk bahkan cenderung dingin di sini. Kering namun dingin. Sabtu itu mentari tak nampak. Langit kelabu. Terang tanah tak ada kilau emas cahaya matahari. Mendung sih tidak. Saya bersyukur perjalanan tak akan terik -setidaknya pagi ini jelang siang. Cuaca ciamik.

Suasana perjalanan kayak Yogya-Pati. Deretan rumah penduduk yang sederhana. Bangunan sekolah dan perkantoran yang kuno. Sampai pusat kota, ada alun-alun, masjid agung, dan kantor kabupaten atau kotamadya. Deretan toko dan pasar di pusat kota. Hutan jati yang terbelah jalan beraspal. Hamparan tanah luas yang raya akan rumpun padi. Sebagian kuning, sebagian hijau masih muda. Beberapa tiang berbendera putih dari karung goni berkibar-kibar diantara rerumputan penghasil beras itu. Jangan salah, padi dan bambu termasuk jenis rumput-rumputan loh. Bendera itu sebagai pengusir hama.

Cuma, yang bikin beda, beberapa kali kami menyeberangi sungai lewat jembatan. Ketika lewat Kali Progo, Mur bercerita, “kami suka rappling di jembatan ini.” Sungai ini lewat Wates, Kulonprogo, masih dalam naungan Provinsi Yogyakarta. Sungai itu cukup lebar.

Pendek kata, alangkah permai pemandangan.

Meski baru pertama kali, saya tak sedikit pun khawatir bakal kesasar. Yogya-Purwokerto juga bisa dicapai lewat perjalanan kereta api. Beberapa daerah yang kami lalui persis dengan beberapa nama stasiun. Wates, Prembun, Sentolo, Gombong, Kebumen, Karanganyar. Hati saya ayem kalau lihat rel kereta. Kalau demikian, apa alasan kami tersesat?

Saya tiba-tiba teringat. Ini hari Sabtu, besok Minggu. Bukankah ini hari libur bagi pekerja kantoran? “Anis kok gak ikut?” tanya saya pada Mur.

PADA SAAT YANG BERSAMAAN, SABTU JELANG SIANG ITU, ABYANIS DWI SULASTIKA SIAP-SIAP BERANGKAT. Bukan ke Purbalingga, menyusul kami ke rumah orang tuanya. Melainkan ke Ponorogo, Jawa Timur. Dia menungu rombongan teman kantornya menghadiri pernikahan atasannya. “Pak Danu supervisor-ku yang menikah,” ungkapnya pada saya, Selasa (5/8).

Anis jadi tenaga pemasaran produk Bank Mega di Yogya. Dia mulai bekerja dua bulan lalu.

Mobil roda empat “kayak Daihatsu” -begitu bahasa Anis- punya temannya itu akhirnya berangkat juga, sekitar pukul setengah sebelas. Harusnya mobil ini muat sedikitnya lima orang. Namun, kali ini, hanya berisi tiga kepala. “Bete. Yang lainnya tiba-tiba bilang gak bisa datang. Cuma tiga orang, cowoknya satu. Tapi aku cuma jadi kambing congek,” keluh Anis yang mengaku kurang terlibat dalam percakapan kedua koleganya itu.

Bete adalah singkatan dari bad tempered. Kira-kira perasaan mau marah, kurang moody, bosan, jenuh, jemu, atau tak menyenangkan, seperti itulah. Anis boleh bete. Apalagi perjalanan memang membosankan. “Cuma hutan jati di sekelilingku. Lewat Wonogiri. Jalan berliku-liku,” sambungnya sambil menggerakkan telapak tangan yang dikelak-kelokkan ke kanan dan ke kiri. Perjalanan tiga setangah jam siang itu serasa seharian.

Anis dan rombongan tiba juga di kota reog itu hampir sore. Mereka singgah di rumah mempelai. “Acara resepsi malam hari sih. Di Tambak Kemangi Resort,” tutur Anis coba mengingat.

Raga Anis di Ponorogo, sementara hatinya terbang ke Purbalingga. Anis lahir di Jakarta. Tapi Purbalingga kini rumahnya. Hari Minggu (3/8), rombongan balik ke Yogya. “Habis gimana lagi. Ada kawinan sih. Lain kali aja pulangnya (ke Purbalingga),” sambungnya singkat.

Senin esok harinya, Anis bekerja seperti biasa.
Suka-Duka dalam Perjalanan

RODA DUA ITU MASIH SETIA BEKERJA. Menggelinding menjalankan fungsinya. Mengantarkan kami menyusuri jalanan Wates. Ini belum keluarYogya. Kedua tangan Mur memeluk pinggang saya. Udara sejuk segar. Perjalanan bakal enak.

Namun perjalanan jauh -apalagi pakai motor- tak selamanya semulus aspal. Ada-ada saja timbul masalah. Ketika di sebuah perempatan lampu merah, kami berhenti. Saya coba menyesuaikan letak kaca spion kanan. Tapi… krak, kaca itu cuil.

Posisi gir pada gigi dua. Sengaja saya pasang, soalnya gigi satu sering nyendal kalau mendadak tancap gas. Kayak kuda rodeo yang menyentak penunggangnya. Namun, waktu itu, tiba-tiba mesin padam. Lampu keburu hijau.

Diiin… diiin…

Klakson kendaraan belakang kami menjerit. Kami terpaksa menepi. Saya genjot starter lagi. Mesin menyala. Dan lampu merah kembali menyala.

Pada lampu merah-lampu merah berikutnya, mesin motor padam jika kurang dapat gas yang kencang. Saya akali dengan pasang gigi netral. Gas saya jaga agar tak menyurut.

“Dasar Ayu. Punya motor gak dirawat. Sudah berapa bulan tidak diservis,” celoteh Mur.

Mas Pratik, ayah Ayu, menimpali. “(Perjalanan) lancar? Maklum motornya sering mati yah. Wong Ayu gak pernah nyervis,” tuturnya ketika kami tiba di rumah Purbalingga.

Jangankan ke bengkel servis. Memperlengkap kaca spion saja tidak. Ayu meminjam kaca sebelah kiri dari motor Anis. Sebagai adik, Anis tak pernah bisa menolak. “Kalau pulang ke Yogya, minta tolong bawain kaca spionku yah. Tengkyu,” tulis Anis pada sebuah sms kepada Mur.

“Mending pakai motorku,” ujar Mur di tengah jalan. Mur punya motor Yamaha Jupiter biru. Dia beli dari bonus medali emas PON 2004 lalu. Bawa motor ini memang enak. Tapi si motor butut Supra itu harus kami bawa ke Purbalingga. Mau tak mau kudu kami naiki saat itu.

Kami lewati Purworejo. Pusat kota sudah lewat, Rumah Sakit Purwa Husada juga sudah lewat.

Masalah tak terhenti pada rewelnya mesin. Depan jembatan Kali Bogowonto, daerah Bagelen, kami dihadang polisi lalu lintas. Ini daerah ambang Purworejo-Kebumen. Saya tak takut soal kelengkapan surat. Surat Tanda Naik Kendaraan (STNK) Mur pegang. Saya juga punya surat izin mengemudi jenis roda dua. Komplet.

Namun, habis pemeriksaan itu, giliran spion kiri yang berulah. Tangkai kendor. Seperti hendak lepas, berputar-putar di sebelah tangan kiri saya seiring laju motor. Berkali-kali saya coba mengencangkannya. Kendor lagi. Kencangkan lagi, kendor lagi.

Tugu selamat jalan bertuliskan “Purworejo Kabupaten Pramuka” seakan menyapa kami dengan salam perpisahan. Di tepi jalan ada patung tunas kelapa, lambang pramuka. Praja Muda Karana adalah organisasi kepanduan Indonesia.

Kami mengikuti rambu penunjuk arah ke Kebumen.

Kami berjalan di jalan raya, tepinya banyak persawahan. Saya menepi. Saya buka jok motor, Mur mengambil peranti bengkel yang terbungkus tas kresek putih.

Saya ambil kunci mur ukuran cilik. Tak muat. Saya ambil yang lebih besar. Tak muat juga. Saya ambil ukuran 14. Baru pas. Saya kencangkan spion kiri itu. “Jangan rewel lagi yah,” harap saya.

Tepi jalan berhiaskan warung-warung dawet hitam. Kain putih bertuliskan “Dawet Ireng” terkembang jadi setengah tenda, berkibar tertiup angin, menaungi empunya bersama dagangannya.

Sementara itu, siang mulai merambat, perut harus dirawat.

“Cari makan yah,” ajak saya. Mur pun sepakat.

SAYA PERLAMBAT LAJU KENDARAAN. Celingukan memandang tepi jalan, kalau-kalau ada restoran. Yang ada cuma warung makan. Ada pula warung padang. Tapi saya ingin menu asli daerah situ. Tapi saya sendiri tak tahu makanan khas di situ. Selain warung padang, ada penjaja sate. Tapi kebanyakan tutup.

Saya coba menepi ketika menemukan sebuah rumah bertuliskan “Sate”. Sial. Tutup. Kami jalan lagi dan lega, lihat plang “Gurameh Bakar 1 km Lagi”. Beberapa saat, ada plang yang sama “Gurameh Bakar 500 m Lagi.”

Dan akhirnya tiba juga. Warung makan yang dimaksud plang penunjuk tadi ada di seberang kami, di kanan jalan. Namanya Rumah Makan Dewi Fortuna. Kami menyeberang.

Rumah makan itu tidak mewah. Sederhana. Pelatarannya berumput, cukup memuat dua-tiga mobil parkir. Ada toliet terpisah antara pria-wanita. Di belakang ada musala. Ada dua pilihan tempat makan. Duduk di kursi atau lesehan bersila. Di dalamnya berdiri sebuah meja, di atasnya ada sebuah teve. Ada pula DVD player. Meja teve itu ada di pojok.

Di belakang ada sepetak kolam berair keruh. Air kolam beradu tetumbuhan air. Rupanya tambak ikan. Menu andalan adalah gurameh. Bakar, goreng, atau sup.

Sayang, senyap. Kala itu di luar ada dua pria sedang berbincang. Sebuah sedan keluaran lama tapi tak jadul amat terparkir. Rupanya si pemilik rumah makan dan pelayan. Pelayan wanita dari dalam rumah, menyambut kami dengan tergopoh-gopoh. Mungkin mereka sudah terlalu akrab dengan suasana sepi sehingga agak kaget, tumben, ada tamu yang mampir.

“Gurameh bakar,” saya memesan.

“Pilih dulu Mas,” ajak si pelayan wanita, menggiring kami ke tambak belakang. Pelayan pria mengangkat jaring yang dibiarkan setengah tenggelam. Beberapa ekor bergelimpangan, menggelepar-gelepar. Saya pilih salah satu.

Lantas saya dan Mur kembali ke meja makan. Kami pesan dua the manis. Satu hangat, satu pakai es. Lamat-lamat bau asap sedap menguar, pertanda ikan sedang dibakar. Suara batu berpadu, nampaknya ulekan beradu dengan cobek menggilas bumbu sambal.

Pak jurangan masuk, duduk di meja kasir. “Mau ke mana?” sapa dia pada saya.

“Ke Purwokerto.”

“Oh, kalau rumah saya di Solo.” Sejurus dia ngobrol suatu urusan dengan pelayan cowok. Lalu dia pamit pulang. Dia pergi membawa sedan itu. Tinggallah saya, Mur, dan kedua pelayan itu.

Beberapa menit, gurameh dari kolam itu sudah tersaji dengan lumuran kecap. Aroma sedap masuk ke hidung. Ada sambal dan lalapan berupa kemangi serta timun. Plus satu mangkok kecil air buat cuci tangan.

“Nasi ambil sendiri,” ujar pelayan cewek mempersilakan kami, menunjuk tumpukan piring yang di sebelahnya ada magic jar penghangat nasi. Kami segera hajar menu itu. Perut sudah terlanjur lapar.

Beberapa saat kemudian, cobek tandas. Sambal ludas. Saya minta tambah. Dan pelayan wanita meracik sambal, dengan mengulek lagi di belakang. Suara batu beradu kembali terdengar.

“Masakannya enak. Tapi kok sepi,” komentar Mur pada saya.

Sambal putaran kedua hadir. Kami melanjutkan menggoyang lidah. Daging ikan itu empuk, kecapnya merasuk, ditambah sambal yang hangat.

Pelayan wanita beranjak ke ruang teve. Nyetel keping kompak karaoke. Album Tommy J Pissa menghibur kami. Tommy adalah penyanyi lagu-lagu mellow, sendu. Dia beberapa tahun melejit sebelum Inka.

“Kemarin, kau masih bersamaku. Bercumbu dan merayu. Adakah hari esok untuk kita bercinta. Seperti waktu yang telah terlewati… Tiada guna aku hidup begini, tanpa belaian kekasih yang sangat kusayangi…”

Saya sebenarnya tak suka. Terlalu cengeng. Tapi Tommy nampaknya jadi lagu wajib pengiring perjalanan. Di bus-bus, selain Tommy, Ebiet G Ade juga laris. Seakan setiap sopir mengoleksinya. Kalau Ebiet saya cukup menikmati. Selain mereka, tembang-tembang lawas bisa jadi pilihan. Misalnya Betharia Sonatha, Ratih Purwasih, Endang S Taurina, dan sebagainya. Kalau tidak, dangdut pun jadi. Tapi saya suka campursari, tembang tradisional Jawa Tengah dan Yogya. Saya teringat perjalanan dari atau ke Jakarta jika naik bus -baik dari Yogya maupun Pati.

Saya ke bak cuci tangan. Dari kaca cermin, saya perhatikan pelayan wanita yang duduk di meja kasir itu bibirnya menirukan lirik lagu yang melantun. Hapal benar.

Baru saja azan duhur selesai mengalun. Sinar mentari menimpa bumi.

Lalu kami hitung-hitungan. Habis Rp23.000. Saya lihat di catatan-catatan sebelumnya pada buku di atas meja kasir, harga satu ons gurameh Rp5.000.

Cukup empat lagu Tommy bersenandung. Selebihnya biar para pelayan itu yang mendengarkan. Kami meninggalkan rumah makan sepi itu. Kelak, waktu kami pulang pada Selasa (5/8), rumah makan itu tetap terlihat sepi.

Beberapa ratus meter kami melenggang, di kiri jalan kami jumpai warung makan sate tupai. Tak tertarik, kami tetap berjalan.

PROBLEM DI JALANAN MASIH SAJA ADA. Motor memang harus mengalah. Daripada berabe dimakan kendaraan yang lebih besar: bus dan truk. Berlawanan arah, mereka arogan “goyang kanan makan jalan”. Salip-salipan, sering menjurus ke aksi ugal-ugalan. Yang bikin keki, hanya menyalip sebuah sepeda ontel atau kereta kuda atau becak, goyang kanan kendaraan gede itu menjadi-jadi.

Tolilet-tolilet… tiiinnn-tiiinnn… lampu depan nyala-padam nyala-padam.

Kalau mau selamat harus minggir. Kami dan beberapa pengendara motor lainnya harus menepi keluar jalur aspal. “Asssu…” beberapa kali saya tak mampu menahan diri mengumpat.

Jangankan kendaraan yang berlawanan arah, kendaraan yang disalip pun harus minggir mengalah.

Nanti waktu kami pulang, giliran posisi kami di dalam bus. Mau tak mau, berganti lakon sebagai pihak “penggusur”.

Kebumen sebentar lagi lewat. Di persimpangan jalan antara pusat kota dan arah Cilacap, kami pilih ke Cilacap.

Jalan macet. Rupanya bukan karena lampu merah. Melainkan portal menutup di tepi rel kereta api. Jusjus-jusjus-jusjus… jlegjleg-jlegjleg-jlegjleg… ular besi kencang meluncur menimpali bantalan rel. Saya agak khawatir kalau-kalau mesin ngadat lagi dalam posisi berhenti. Untung, kali ini dia tidak rewel. Jeplakan membuka lagi. Lalu lintas lancar lagi.

Kami lewat Karanganyar. “Belum salat, cari masjid,” ujar Mur.

Kami berhenti di Masjid Baiturrahim, Desa Grenggeng. Dekat jembatan Kali Kemit. Masjid itu kecil. Tapi teduh untuk ngaso. Ada sebuah rombongan naik mobil istirahat dan salat.

Seekor kucing hitam betina mandi, menjilat-jilati badannya. Berbaring di bawah bedug di teras belakang. Saya hendak pegang, dia lari. Saya panggil, “Pus-pus-pus…” malah dia mengeong hendak mendekat. Saya berlalu mengambil air wudu. Lalu saya masuk masjid, salat. Mur sembahyang di barisan saf wanita.

Bedug adalah perkusi dari kulit hewan, bisa kambing bisa sapi. Dipukul-pukul pertanda akan ada azan, waktu salat tiba.

Usai salat, pukul satu. Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalur ke Cilacap, menuju Purwokerto. Giliran Mur yang pegang kendali motor, saya membonceng dan gantian bawa tas di punggung.

PUKUL SATU, DI PURBALINGGA. Mbak Muji baru saja tiba di kompleks perumahan Abdi Negara. Si Imut bercengkerama dengan kakaknya, Mbak Yatmi, dan kakak ipar, Mas Pratik, serta keponakan si bontot Astrini. Ayu masih kerja di kantornya, Pemda.

Sebelumnya, Mbak Muji turun dari bus patas Raharja di kelenteng Purwokerto. Tak perlu masuk terminal. Dari situ sudah bisa nyegat bus selanjutnya yang ke arah Pemalang dengan tarif Rp5.000. Lantas turun perempatan Karang Kabur. Dari Karang Kabur nyambung naik becak.

Mbak Muji mengulurkan uang Rp10.000 pada Pak Becak. “Perumahan Abdi Dalem yah Pak.”

“Abdi Negara?” tanya Pak Becak setengah heran.

“Oh yah, Abdi Negara…”

Mbak Muji hanya bisa merebahkan dirinya di atas kursi becak, mempercayakan semuanya pada Pak Becak. Pak Becak membayar kepercayaan itu tanpa sengaja seolah-olah kesasar -seperti lagak umumnya tukang ojek yang pengen ongkos tambahan lantaran jarak tempuh bertambah. Dia kayuh pedal roda tiga itu sesuai tujuan.

Mbak Muji selalu teringat kata “abdi dalem”. Artinya orang yang mengabdi total pada keluarga keraton. Orang-orang yang setia, loyal melayani keluarga raja. Keraton adalah kerajaan tradisional di Jawa, mungkin setiap tempat di Nusantara ada kerajaannya.

Yogyakarta dan Surakarta masih memelihara keraton. Ada empat, masing-masing memiliki dua. Yogya punya Kasultanan dan Pakualaman. Sedangkan Surakarta punya Kasunanan dan Mangkunegaran. Raja Kasultanan bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono. Raja Pakualaman bergelar Paku Alam. Raja Kasunanan bergelar Sunan Paku Buwono. Sedangkan raja Mangkunegaran bergelar Mangku Negara.

Keempatnya punya cikal bakal yang sama, the one craddle. Kerajaan Mataram. Ini tak ada kaitannya dengan Mataram Hindu atau Mataram kuno. Mataram di Jawa bernafas Islam. Lantaran perebutan kekuasaan antar-saudara, lambat laun kerajaan itu pecah jadi empat. Sebagai penjajah, Belanda mendapat angin. Bertindak menjadi penengah atau mediator, dalam beberapa perundingan, Belanda memanfaatkan para kubu yang bertikai sepakat berbagi kekuasaan. Tanpa sadar, daerah yang mereka kuasai makin menciut lantaran harus terbagi-bagi. Belanda sangat beroleh keuntungan. Lebih mudah menangani raja-raja kecil daripada menghadapi satu kekuatan yang besar.

Raja Kasultanan sekarang, Gusti Raden Mas Herjuno Darpito, adalah Gubernur Yogya. Ayahnya, GRM Dorojatun atau Hamengkubuwono IX, punya riwayat terhormat. Dorojatun punya andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Cuma, sejarah versi pemerintah (Orde Baru) yang berselaput propaganda menonjolkan peran Soeharto -yang jadi presiden kedua, berkuasa selama 32 tahun hingga 1998.

Jadi raja sejak 1939, akhirnya Hamengkubuwono IX mangkat pada 1988. Tampuk kepemimpinan beralih ke Herjuno tahun itu. Hingga kini, Herjuno jadi Sri Sultan Hamengkubowono X.

Uniknya, Sri Sultan emoh punya selir. Tak seperti raja pada umumnya. Cukup satu istri. “(Karena) saya sendiri adalah korban poligami,” ujarnya dalam sebuah wawancara talkshow Kick Andy di stasiun televisi Metro TV. Acara ini sesuai dengan nama pemandunya, (kala itu) pemimpin redaksi Metro TV, Andy F. Noya.

Istri Sri Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, saat ini duduk di parlemen. GKR Hemas jadi anggota Dewan Perwakilan Daerah, mewakili provinsinya. Ia terpilih dalam pemilihan umum 2004 lalu, untuk periode hingga 2009. DPD semacam senat dalam sistem legislatif dua kamar. Cuma, sistem bikameral Indonesia tak matang. Parlemen yang intens dan punya wewenang luas membuat undang-undang (bersama pemerintah) adalah dari unsur partai, Dewan Perwakilan Rakyat. DPD selama ini masih “dipandang sebelah mata dan perannya kurang terasa” dibanding DPR.

Kembali ke soal “abdi dalem”. Mur mengantongi secarik kertas tulisan tangan Mbak Muji. Itu petunjuk rute ke rumah tujuan buat kami yang naik motor. Mbak Muji menulisnya “Perumahan Abdi Dalem”.

Hal yang sedikit bikin kami bingung mencari tujuan, nantinya.

HUTAN YANG “MEMAGARI” KIRI-KANAN JALAN TAK SELEBAT YANG SAYA BAYANGKAN, ATAU SETIDAKNYA DI FILM-FILM. Pepohonan terlihat jarang. Kebanyakan jati. Pintu gerbang masuk objek wisata Goa Jatijajar dan Pantai Logending sudah kami lalui.

Saya teringat masa kecil, kami pernah ke Goa Jatijajar. Ada Bapak, Ibu, Mas Wiwin, dan saya. Adik kami, Ginanjar Rah Widodo, tidak kami ajak. Anjar terlalu kecil, masih balita.

Waktu itu, paruh kedua 1980-an berjalan, dharmawisata rombongan para penggemar radio amatir. Komunitas ini cukup gede. Waktu itu, hampir semua orang dewasa suka radio amatir. Tak terkecuali penduduk kota sekecil Pati. Antarpemilik radio ini bisa saling berkomunikasi. Ngobrol jarak jauh. Bisa jadi alternatif selain telepon yang waktu itu masih jarang dan hanya kalangan berduit yang punya. Murah meriah. Sekalian cari banyak teman. Mendiang Farid Hardja, penyanyi berbadan gembul, punya lagu bertema asmara di udara, waktu radio amatir ini marak. “Papa-alpha-charlie-alpha-romeo…” tak lain, kepanjangan dari “pacar”.

Kami punya istilah, nge-break. Brik, brik, brik. Roger diganti, korek. Bapak gandrung banget pada dunia nge-break. Nama udara dia yang pertama adalah Mbah Golok. Lantas sempat ganti alias Kopral Saribun, lalu Jenderal Petak. Nama asli Bapak adalah Haryanto.

Organisasi radio amatir di Indonesia adalah Orari. Orari inilah yang memberikan nama resmi pelaku radio amatir. Nama Bapak adalah YD2FZU. Baca: yankee-delta-two-foxtrod-zulu-uniform. Huruf awal, yankee, artinya negara Indonesia. Orari hanyalah bagian dari organisasi radio amatir sedunia.

Huruf kedua menunjukkan “derajat ketrampilan”. Delta tingkat menengah. Di bawahnya adalah hotel atawa “H”. Setingkat di atas delta adalah charlie atau “C”. Tingkat tertinggi adalah bravo, “B”. Syaratnya, “harus bisa merakit radio sendiri dan sudah bisa berkomunikasi antar-negara. Bapak belum bisa merakit radio. Bapak paling jauh hanya ngebrik dengan awak kapal di Samudra Indonesia, hampir saja menjangkau Australia,” cerita Bapak kepadaku, ketika saya masih sekolah menengah pertama.

Angka di belakang dua huruf pertama menunjukkan letak provinsi. Nomor dua berarti Jawa Tengah. Cuma itu yang saya tahu. Nomor untuk daerah lainnya, saya tak hapal.

Tiga huruf terakhir, sesuai dengan poin kelulusan uji morse. Saya teringat Bapak mendengarkan kaset tape di rumah untuk menghapal bunyi-bunyi sandi itu. Bunyi tertentu berarti huruf tertentu. Lewat hasil kualifikasi itu, Orari memberi nama register Bapak YD2FZU.

Lucunya, Bapak sempat pengen ganti register jadi YD2PRD -yankee-delta-two-papa-romeo-delta. Dia ingin menyesuaikan nama sebuah partai yang digeluti oleh kakak saya, Mas Wiwin, sewaktu dia kuliah. Partai Rakyat Demokratik. Dia terlibat pergerakan mahasiswa 1997-1998 di Jawa Timur, dan pernah masuk tahanan di Surabaya selama tiga bulan. PRD waktu itu dianggap rezim Soeharto berhaluan komunis, sebuah paham yang sangat dilarang kala itu.

Cuma, niat ganti nama itu tak kesampaian. “YD2PRD sudah ada yang punya. Kalau mau, harus menaikkan tingkat jadi yankee-charlie atau yankee-bravo dulu,” sambung Bapak.

Kawan udara Bapak banyak. Ada yang dari Blora, Purwokerto, bahkan Kalimantan. Beberapa berkunjung ke rumah kami. Senang hatiku.

Tapi ngebrik hanyalah tren. Punya masa “kadaluwarsa”. Sejak saya sekolah menengah atas, Bapak sudah meninggalkan dunia radio amatir.

Bapak kini tiada, meninggal pada 3 Oktober 2007. Di saat bulan suci Ramadan, beberapa hari jelang Lebaran.

Ingatan selintas tentang ayah dan Goa Jatijajar berlalu.

Goa ini banyak patungnya. Patung-patung itu punya alur kisah legenda. Saya sendiri tak tahu persisnya. Yang jelas ada patung kera, jelmaan seorang pria yang nantinya menikah dengan seorang putri. Kisah Lutung Kesarung, kalau tak salah. Lutung, bahasa Jawa, adalah sejenis kera.

Jatijajar juga mengandung sendang atau mata air. Ada beberapa sendang. Salah satu sendang dipercaya, jika kita cuci muka dengan air situ, wajah kita bakal awet muda. Sungai mengalir. Menimbulkan suara gemericik dalam goa yang kelam.

Saya hanya berwisata ke Jatijajar sekali. Yah pada saat itu. Saya tak tahu saat ini seperti apa goa itu, ada perubahan apa saja selama ini. Selain ke Jatijajar, kala itu kami ke Pantai Karangbolong.

MUR MEMBELOKKAN MOTOR KE SEBUAH POM BENSIN. Dekat warung makan Pak Jetor. Tangki terisi penuh dengan harga bensin enam belas ribuan. Sebelumnya, kami mengisi penuh di pom bensin Jalan Solo, jelang berangkat. Isian pertama habis delapan belas ribuan. Dua kali isi, total-total kira-kira Rp35.000. Jauh lebih irit daripada naik bus. Cuma, pantat pedas bukan main.

Motor melaju ke daerah Tambak, berlanjut ke Sumpiuh.

Pemandangan rumah-rumah dan bangunan kantor atau instansi. Tepi jalan di Tambak dihiasi deretan warung makan yang sebagian besar menjajakan menu daging bebek. Rica-rica, sate, bebek bakar, bebek goreng.

Menuju Kemrajen, Mur berhenti di pertokoan. Mengambil kertas dari saku jaket.

“Naik bus patas ke Purwokerto. Turun kelenteng. Naik bus ke arah Pemalang. Turun perempatan Karang Kabur. Naik becak ke perumahan Abdi Dalem. Jalan Madukoro Blok H, paling mentok,” begitu Mbak Muji menulis untuk kami, sebagai petunjuk arah.

Saya berpikir, ini saja belum sampai Purwokerto. Masih harus ke arah Pemalang. Masih jauh, ternyata. Saya merasa capek. Perjalanan seolah tanpa ujung.

Geregetan, saya ambil alih kendali. “Aku yang depan.” Saya tambah kecepatan.

Tiba juga kami di persimpangan jalan Kemrajen. Itulah perpecahan jalur, lurus ke Cilacap, belok kanan ke Purwokerto. Lampu merah, kami berhenti.

“Purwokerto masih jauh, Mbak?” Mur bertanya pada siswi sekolah menengah atas yang naik motor bebek, di sebelah kami.

“Masih,” jawab si gadis.

Lampu hijau menyala, saya belok ke kanan. Masuk Banyumas. Cewek itu ambil jalan lurus.

Di daerah Pagelarang, ujung Jalan Raya Buntu seperti mulut yang siap menelan kami yang menuju ke sana.

Lepas dari “mulut”, menuju “usus panjang”. Tepatnya “lorong pengemis wanita”. Hingga beratus-ratus meter, duduk para wanita di tepi jalan. Kanan dan kiri. Tiap beberapa langkah, ada seorang wanita duduk, kebanyakan bawa anak kecil, mengadahkan tangan.

Suasana hutan, seperti rute sebelumnya. Ada bagian tanjakan, ada bagian turunan. Jalan berkelok. Saya teringat perjalanan ke Ponjong, rumah asal Mur. Bedanya, dalam perjalanan ke Gunungkidul, tak ada sederet pengemis wanitanya.

“Kata orang, kita gak boleh ngasih uang. Itu anjuran Pemda. Soalnya sekali dikasih, yang lainnya ngerubutin semua pengen minta,” Mur mewanti-wanti saya.

Lepas dari lorong pengemis wanita, sekompleks hutan milik PT Perkebunan Nusantara IX menyapa kami. PTPN adalah perusahaan milik negara atau BUMN.

Lantas, kami tiba juga di pusat kota Purwokerto. Ada persimpangan jalan, menuju ke terminal dan pusat kota jika belok kiri, atau ke arah Pemalang jika ke kanan. Saya tak lihat kelenteng. Hanya sebuah bangunan rumah besar, kuno, tipe arsitektur Cina, di sebelah kanan saya. Di depan, berdiri pos jaga polisi dan toko cetak foto Sampurna.

Saya terlanjur ke kanan. Nantinya baru saya tahu, letak kelenteng ada di balik bangunan kiri jalan. Bangunan itu adalah deretan ruko. Ada toko pusat busana Laju. Ada juga bengkel dan jual-beli suku cadang motor Putra. Kelenteng yang dimaksud adalah Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja.

Kami berhenti, ngaso sejenak, sambil minum es buah.

Usai menyeruput kuah segar itu, kami melanjutkan perjalanan. Tanya arah pada si penjual es buah. Lurus saja, hingga persimpangan jalan menuju Terminal Purbalingga.

“Karang Kabur mana Mas?” Mur bertanya kepada seorang pria pengendara motor, di sebuah lampu merah. Dia menunjukkan belok kiri, lampu merah ketiga belok kiri lagi. Itu ada Jalan Padamara. Lurus saja.

Kami menemukan jalan yang dimaksud. Kami berhenti lagi guna beli buah. Kata Mur, untuk buah tangan buat tuan rumah. Masak hanya tangan kosong. Dua kilogram jeruk dan dua kilogram apel.

“Perumahan Abdi Dalem mana Bu?” tanya Mur pada ibu tua penjual buah itu.

“Adanya Perumahan Bojanegara.”

“Perumahan Abdi Negara Bu?” Mur bertanya lagi.

“Setahu saya cuma ada Bojanegara. Itu tinggal lurus saja. Dua ratus meter lagi.”

“Jalan Madukoro Bu,” timpal saya.

“Gak ada Jalan Madukoro. Adanya Jalan Padamara. Padamara dibilang Madukoro. Salah kali Mas.”

“Oh yah. Terima kasih Bu,” pungkas kami -sebenarnya tak merasa tuntas atas penjelasan si ibu.

Kami berhenti di swalayan Alfamart Padamara. Mur hendak bertanya pada orang-orang di sana. Untunglah ada seorang bapak sedang berbelanja. Si Bapak mau memberi tahu tempatnya. Kebetulan dia tinggal di kompleks perumahan itu. Kami tinggal membuntuti sepeda motornya.

Pukul setengah empat, tiba juga kami di sebuah rumah tipe joglo berhalaman luas. Jalan Madukoro. Lengkapnya, Perumahan Abdi Negara Bojanegara.

Mbak Muji tertawa-tawa menyambut kami. Kami copot sepatu, masuk rumah. Mbak Yatmi menyambut dengan senyum hangat. Datang Astrini. Lalu Mas Pratik keluar kamar tidur. Kami berjabat tangan.

Motor bebek si jago ngadat itu akhirnya pulang kandang. Ia berdiri diam di garasi usai mengantar kami selama enam jam.

About these ads

11 responses to “Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Pertama)

  1. Hoho, nyampe Padamara(h) juga.
    Ane biasa pake Crypton made in ’97 Pati-Purwokerto 8 jam.
    Makin kesini makin lama (nyampe 13 jam), akhirnya tu motor pensiun juga, kecapean. Kasian, dari 97 dah keliling Jawa (jatim-jabar).

    Congrats!
    Btw, cerita merit-nya (yg bukan fiksi) kapan, nih? :D

  2. Nana,
    Kayaknya catatan perjalananmu pake Crypton itu menarik buat ditulis. Cobalah sesekali berbagi cerita. Cerita di atas bukan fiksi loh, hehehe…
    Soal cerita merit… ummm… tunggu aja deh. Doain secepatnya. Hehehe…

  3. Usul buat berbagi cerita, dipertimbangkan. Sekalian aja, ntar dalam bentuk Novel (Amin- sedang dikerjakan).

    Iyah tau, ini bukan fiksi. Maksud ane, kan di blog ente ada yang crita2 piksi (baca:fiksi, red), jadi..moga2 aja crita merit (yang bukan fiksi) terjadi secepatnya. :D

  4. Pingback: Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Kedua) « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  5. Pingback: Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Ketiga -Terakhir) « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  6. Pingback: Usai Lahap Sambal Jeruk « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  7. assalaualaikum wr wb……..maaf sebelumnya,mungkin saya lancang……..saya adalah salah satu oragyag naksir abis sama salah satu keluarga anda yaitu abyastrini woninda setelah saya (nembak) berapa kali ga pernah diterma,maklum mungkin abi seleranya tinggi he…..dulu si kaa aby saya hampir diterima tapi karena saya meakukan yang menurut abi besar jadi ditolak deh…….saya akui putri2 pak praktikno sangat cantik,kalo boleh curhat sampai saai ini pun saya belum bisamelupakan abi,saya pengen ndeketin lagi tapi trauma he…!mugkin pak praktik kenal saya, saya adalah ponakan dari teman pak praktik yaitu Alm pak H Umar atau Bu Hj. Surtinah pengusaha angkot kalitinggar he…. kalitinggar padamara purbalingga,sekian dulu terimakasih sebelmnya,salam kenal saya arief wassalamualaikum wr wb

  8. oalah ………… nikmatnya perjalanan mu itu ..kalau saya dan yayank sering mondar-mandir Purwokerto – Jogja..apa lagi besok libur lebaran kita psti dalam seminggu laju…

  9. Selamat Malam… Week End enggak ada acara ya mending blogwalking aja. Setelah ngebaca artikelnya, Wiro Sableng ngasih komen begini :

    klo butuh informasi tentang angkutan umum di jakarta, mampir aja di mari gan..

  10. halo mbak.

    seru ya ceritanya…. *)menyimak

    mbak, slam kenal ya..
    kebetulan aku calon penghuni baru di jogja dan rencananya mau kuliah n ngekost di daerH janti. mau tanya2 aj mbak, kostn di situ banyak ga ya?? kost2 simple kisaran harganya berapaan gitu mbak?. sorry nih bnyk pertAnyaan, aku liat di ceritanya mbak banyak nyebut2 janti jadi aq berAniin diri aj nh buat nanya. smoga berkenan dijawab. thanks so so much before.

    jo

  11. hihi sengaja buka gogle, penasaran bc tlsn di atas, ga sengaja eh trnyata q kenal sma slh satu pemeran di atas, q tau siapa mb oyek :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s