My Thought, My Activism, My Life, Myself

Purnama di Langit Pagi

July 20, 2008 · 2 Comments

Bundarnya sempurna. Ndadari. Bikin aku ingin pulang.

Bulan. Luna. Orang Jepang menganggapnya seorang dewi, Kaguya Hime.

Beberapa hari ini penampakannya bulat. Bagai mata kucing yang mengawasi setiap makhluk yang tinggal di bumi. Kuning di layar yang kelam. Selalu kuteringat tanah Magelang, tepatnya Borobudur. Di sana pasti sedang rame malam. Festival kesenian. Ada jathilan, dayakan, rebana, dan tetarian lainnya. Di sana bagai rumah. Tenang, damai, sederhana. Beberapa tahun ini aku tak ke sana. Mungkin empat tahunan.

Jakarta bagai tanah asing yang tak bersahabat. Senantiasa kuteringat rumah. Rumah? Rumah yang mana? Pati? Yogyakarta? Atau Borobudur? Ah, aku lagi butuh ketenangan. Dan pastinya bukan di sini tempatnya. Ibukota terlalu angkuh dan korup.

Pagi ini masih terlihat rembulan di langit barat. Tanah belum terang. Subuh baru saja tuntas. Langit kelabu semu biru. Hawa sejuk semilir. Udara segar di pagi hari yang libur. Jangan harap ada jika di waktu hampir semua manusia di sini sibuk bekerja. Udara segar bakal tertutup kabut polusi dan bising kuda besi.

Purnama itu masih terang. Ndadari, kuning pijar. Namun lamat-lamat menjadi pucat seiring terangnya pagi. Dia musti mengerti. Sebentar lagi si baskara menggantikan perannya duduk di tahta langit. Yah, langit timur sudah terbakar. Sudah saatnya kau pergi, Bulan.

Hatiku berat berpisah denganmu. Mungkin ini purnama terakhir di langit Jakarta bagiku. Yah, hatiku berbisik, aku memang harus pulang.

Categories: Tentang Yacob
Tagged:

2 responses so far ↓

  • popon // July 21, 2008 at 5:30 pm | Reply

    Aku menyusulmu bung Yacob. Ke Kota kelahiran. Kota yang tanahnya bau tahi yang kusebarkan sejak masa orok hingga remajaku.
    Aku mau pulang. Kembali. Bukan karena Jakarta terlalu angkuh. Tapi karena aku sudah mencukupkan petualanganku di kota yang tak kenal langit cerah ini.

    Btw, ndadari itu apa?

  • yacobyahya // July 22, 2008 at 5:41 am | Reply

    He…
    Ndadari itu bulat bunder-seser dan berwarna kuning kayak telur dadar.

Leave a Comment