Jeritan wong cilik lebih jujur daripada hati nurani kita. Setuju?
Akhir pekan sore. Waktu yang pas membuang penat. Begitu lama, dari pagi hingga sore ini saya angkrem di kamar kontrakan yang sumpek. Tidur melulu, rapel capek lantaran hari-hari kerja.
Saya ngontrak sebuah rumah petak di Kebayoran Lama, dekat Jalan Madrasah. Tepatnya Gang Assofa.
Sore ini cerah. Tak pernah hujan. Juli yang kemarau. Lazuardi biru sempurna.
Hup. Saya melompat keluar angkot biru telur asin 09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama. Saya turun di perempatan Rumah Sakit Permata Hijau. Lantas jalan kaki menuju Carrefour Permata Hijau. Menu yang rutin. Hiburan pembuang bosan. Yah, jalan-jalan… sendirian.
Saya masuk mulut gang sebelah selatan garasi bus Safari Dharma Raya. Tepat seberang rumah sakit itu. Sepelemparan batu dari masjid di situ.
Saya selalu menikmati jalan lewat situ. Ini masuk wilayah pemukiman Permata Hijau. Sepi. Banyak rumah penduduk yang asri. Meski bukan kawasan rumah mewahnya. Banyak pula tanaman hias yang siap dijual. Ada pula warung sederhana. Sebuah sekolah dasar. Perkampungan pendatang yang rata-rata dari Jawa. Teduh deh pokoknya.
Daripada ambil jalan trotoar terusan Jalan Panjang yang menuju Pondok Indah. Rame. Bising. Sarat debu. Banyak kendaraan. Belum lagi banyak pedagang kaki lima yang makan jalan setapak bagi pedestrian.
Beberapa ratus meter saya lihat ada coretan tulisan di atas aspal. Baru saya lihat. Terakhir Juni lalu belum ada. “Turkey Kelengerr..” dan “Ada Tores Urusan Beres”. Saya duga ini euforia Piala Eropa yang baru saja lewat akhir Juni lalu. Turki keok oleh Jerman di semifinal dan Spanyol menggasak Jerman di laga final. Pahlawan Tim Matador adalah Fernando Torres (pakai dobel “R” loh), striker kepunyaan klub Inggris, Liverpool.
Beberapa langkah saya temui lapangan sepakbola bertanah merah. Baru saja jadi. Sebelumnya tanah lapang ini penuh ilalang. Sepakbola adalah olahraga yang paling digandrungi oleh penghuni planet ini. Tak terkecuali orang Indonesia. Tak kecuali penduduk Jakarta. Dan sebagian besar adalah wong cilik. Termasuk saya. Orang kaya suka main sepakbola di lapangan sewaan, futsal. Alias sepakbola mini. Bukan di tanah lapang perkampungan.
Lapangan itu baru saja dipakai oleh sekelompok pemuda. Mereka istirahat di tepi lapangan, beberapa telanjang dada menyeka keringat. Beberapa anak perempuan gantian mengisi tanah itu dengan menyepak-nyepak bola plastik. Mereka berkerudung bawa tas cangklong di bahu. Usia sekolah dasar. Saya duga mereka hendak berangkat mengaji pada magrib.
Setiap jengkal yang tersisa terasa berarti. Anak-anak kampung pun bermain bola plastik di lapangan bulu tangkis.
Sekali lagi saya lihat tulisan di atas aspal. Kalau yang ini sudah pernah saya lihat sebelumnya, tepatnya usai pemerintah (ngakunya terpaksa) mengerek harga BBM. “SBY-JK Ada Avah Denganmu?” serta “1 Liter BBM Lebih Mahal Dari Jablay”.
Saya geli benar saban membaca tulisan itu. Ungkapan wong cilik, masyarakat menengah bawah, menurut saya begitu jujurnya. Mungkin ada sebagian unsur lugu. Mereka tiada beban melepas isi hati tanpa perlu penampilan artifisial pejabat yang acap hendak himpun simpati dari wong cilik.
Eh, ini jelang kampanye Pemilu kan?
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.