My Thought, My Activism, My Life, Myself

Mur, Selamat Berjuang

July 1, 2008 · 7 Comments

Selasa dini hari, jelang pukul empat mata ini tak dapat terpejam. Aku ambil air wudu untuk salat hajat. Hal yang akhir-akhir ini jarang aku lakukan.

Doa terpanjat. Dari seorang hamba yang biasa. Kadang rajin ibadah, kadang malasnya minta ampun. Yah, kali ini aku berdoa. Agar kau dapat mengulang jaya. Yah, seperti empat tahun lalu di Palembang. Tatkala kau dulang medali kuning kemilau itu.

Perjalanan sudah jauh hingga kini. Hapuskan kata mundur atau minder. Kamu bisa. Kamu pasti bisa. Malam itu sebenarnya aku mau banyak cerita. Coba suntik semangat. “Mau tidur, besok setengah sembilan berangkat,” tuturmu.

Jelang siang hari ini baru kau hubungi aku. Kemarin di Yogyakarta, hari ini sudah di Samarinda. Hingga dua pekan ke depan.

Kuteringat Minggu malam dua pekan lalu. Kita masih duduk bersama di peron Stasiun Tugu. Tunggu Kereta Gajayana. “Dari arah timur Kereta Gajayana masuk ke jalur tiga dengan tujuan akhir Stasiun Kota Jakarta. Rangkaian gerbong dari arah barat lokomotif, gerbong mesin, kereta tujuh, kereta enam, kereta lima, kereta empat, gerbong dapur, kereta tiga, kereta dua, dan terakhir kereta satu,” raung petugas stasiun lewat corong pengumuman.

“Berangkatlah ke Kaltim. Raih emas. Lantas kita akan bersama,” ujarku sambil mengusap rambutmu. Aku harus segera masuk ke kereta.

Perpisahan selalu jadi hal terberat.

Aku ingin mengakhiri hubungan yang terbentang jarak ini. Tiga tahun lebih sudah cukup. Aku ingin bersamamu setiap hari. Perpisahan ini hanya sesaat. Sepulang kau dari medan juang, kita akan bersama. Seperti yang kau minta, pun seperti yang ku ingin.

Mur, engkau memang jagoanku. Selamat berjuang.

Categories: Tentang Yacob · Yogyakarta

7 responses so far ↓

Leave a Comment