“I don’t fear death…I don’t think it can happen unless God wants it to happen because so many people have tried to kill me.” (Benazir Bhutto)
Bhutto, korban fanatisme buta golongan pengecut yang bersembunyi di balik jubah agama. Kelompok seperti itu jelas-jelas berpola pikir sebiji cabe. Ada-ada saja alasan yang mereka cari-cari untuk membenarkan sepak-terjang mereka. Orang tak berdosa pun turut menjadi korban. Media semalam melansir 20 orang tewas karena bom bunuh diri. Pagi tadi jumlah korban berubah menjadi 15 orang. Dan Wikipedia kini menulis 11 orang terbunuh.

(Benazir setelah lulus dari Oxford, 1977. Gambar dari Getty Image via BBC)
Entah Taliban, Al-Qaida atau siapapun (ekstremis radikal yang bersarang di Pakistan) hingga kini belum menyatakan dengan jantan, siapa yang bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri dan penembakan yang merenggut nyawa Benazir (27/12).
Benazir bukan perempuan main-main. Ibu tiga anak ini merupakan pemimpin negara perempuan pertama di negeri Islam. Warna politiknya kiri-tengah. Oleh golongan kanan, dia dicap berkompromi dengan Amerika Serikat. Karena itulah ancaman demi ancaman dia terima. Jika dari pengasingan dia kembali ke tanah Pakistan, banyak orang yang sudah mengasah pisau menunggu kematiannya.
Layaknya dinasti Gandhi di India, keluarga Bhutto di Pakistan mengalami penzaliman politik. Baik Gandhi-Nehru maupun kakek Benazir adalah tokoh gerakan kemerdekaan bagi masing-masing negaranya. Namun nasib mereka tak setimpal dengan perjuangan yang telah mereka lakukan. Nampaknya bumi pertiwi menuntut mereka berkorban lebih dan lebih besar lagi. Hingga jiwa keturunan mereka harus dipersembahkan…
3 responses so far ↓
pr4s // December 28, 2007 at 4:52 pm |
Sadis ya….
rezco // December 30, 2007 at 2:46 am |
pesan moralnya: jangan takut mati kalau mau jadi politikus
yacobyahya // December 30, 2007 at 12:52 pm |
@pr4s: very very sadistic
@rezco: bisa jadi berlaku pula pesan moral itu buat para jurnalis.