My Thought, My Activism, My Life, Myself

Ujung-Ujungnya yang Salah Rakyat (?)

October 26, 2007 · Leave a Comment

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah pintu gerbang seleksi semua lembaga dan kuasi negara. Meski telah tergelar berangkai prosedur fit and proper test, masih saja terjadi kecolongan. Misalnya, pemilihan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU). Serta, ada anggota Komisi Yudisial (KY) yang tertangkap tangan sedang main suap. Bukti dari buruknya kualitas parlemen? Lewat cecaran pertanyaan nan kritis, tajam, sekaligus pedas, para calon anggota lembaga negara kudu sigap menghadapi para anggota DPR yang menguji kelayakan mereka. Bayangkan, segalanya ditentukan di gedung Senayan ini. Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Dewan Direksi Bank Indonesia (BI), berbagai komisi dan lembaga kuasi lainnya, serta anggota alat kelengkapan negara, dipilih oleh DPR.

Sayang, kok masih saja ada ‘kebobolan’. Misalnya, Syamsulbachri, anggota tersaring KPU, nyatanya masih tersandung perkara korupsi. Ujung-ujungnya, Presiden urung melantiknya. Serta masih hangat salah satu anggota KY, Irawady Yunus, tertangkap tangan sedang menghitung uang suap pengadaan tanah.

Ini jelas salah satu pertanda proses pemilihan para anggota lembaga negara ini tidak beres. Bisa jadi kualitas DPR, sebagai selektor, pun kurang bagus. Nah, kalau kita lihat, proses seleksi para anggota DPR pun kurang memadai.

Yah jelas lah. Pemilihan Umum (Pemilu) hanya memungkinkan ‘proses perkenalan’ antara rakyat sebagai pencoblos dan calon anggota dewan sebagai pihak yang dipilih sangat singkat. Para pemilih hanya disodori nama-nama yang tak mereka kenal yang terpampang dalam kotak suara sesuai dengan partai dan nomor urutnya.

Walhasil, bisa jadi rakyat memilih kucing dalam karung. Menjadi anggota dewan, ‘fit and proper test’-nya tak seketat ketika mereka menyeleksi calon anggota lembaga negara. Lain kata, menjadi anggota dewan hanya pertaruhan sesaat dalam bilik suara: terpilih atau tidak dicoblos. That’s it.Tak ada sistem saringan kualitas yang memadai.

Ajaibnya, setelah terpilih sebagai anggota dewan, mereka memegang kekuasaan yang menentukan nasib orang, apakah para calon anggota lembaga negara ini terpilih atau tidak. Toh hasilnya kualitas para anggota lembaga negara itu masih kacangan.

Salahkan anggota DPR? Wah, jangan-jangan kita nanti juga menuding rakyat ’salah pilih’ para anggota dewan yang tak becus?

Categories: Aktivisme dan Serikat Pekerja · Pernik Jurnalistik
Tagged: , ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment