Wartawan oh Wartawan

Bambang Wisudo, wartawan senior Harian Kompas, dipecat karena kegiatan serikat pekerjanya (8/12). Dia memperjuangkan kepemilikan 20% saham bagi karyawan. Entah mengapa, kasus seperti itu acapkali terjadi di dunia pers ini. Aku sendiri tak tahu.

Wartawan, selalu menulis hal-hal yang ideal, memuntahkan kondisi ideal (kalau tak mau disebut utopi) lewat tulisannya atau karya jurnalisnya (bisa berita di radio, televisi, atau internet). Wartawan adalah pengkritik sejati, tanpa perlu koar-koar seperti pengamat atau ahli. Tentang parlemen yang busuk, tentang eksekutif yang korup, tentang polisi tidur, tentang hakim penakut, tentang pebisnis hitam, tentang bankir mangkir, tentang carut-marut-karut pendidikan, tentang negeri yang miskin, tentang kaum tani yang tak mampu beli beras, tentang nasib atlet yang kapiran (padahal telah berjerit-jerih membela nama bangsa), tentang… ah, aku sendiri tak tahu.

Karya wartawan, sangat dinanti pembacanya (atau pendengar atau pemirsa). Walhasil, wartawan adalah nabi yang dinanti nubuwah dan pesan-pesan sucinya. Namun apa yang kualami, apa yang kulihat, membuatku berkesimpulan (setidaknya untuk sementara ini) toh wartawan si tukang kritik, akhirnya jadi antikritik.

Apalagi kalau dia makin senior, sudah menjabat redaktur, apalagi pemimpin redaksi. Setidaknya itu yang dirasakan Mas Wis, ketika didepak Suryopratomo. Akupun pernah merasakan sinisnya seorang pemimpin redaksi media terkemuka di Solo. “Kamu mau ngelamar ke sini, pindah kerja ke sini, pasti di tempat kerjamu dulu kamu bermasalah yah?” begitu hardiknya.

Aku teringat nasib kakakku yang tak direken oleh pemimpin redaksi sebuah media lokal di Malang, pun ketika dia kerja sebagai kontributor media bisnis-ekonomi (dulu hukum-ekonomi) Grup Bimantara.

Memang kuakui, tak semua wartawan senior begitu. Aku teringat Mas Yopie (Hidayat, pemred Tabloid Kontan). Dia begitu runtut memberi petuah dan saran sebelum kami berpisah. Cukup bijak, netral, dan fair. Tak semua wartawan tua menjadi angkuh dan arogan. Entah, aku tak tahu.

Aku teringat perjumpaan dengan Mas Ipik, dari Bali Pos. Dia sudah beruban. Namun setumpuk pengalamannya tak membuat dia abai dan acuh kepada wartawan muda lainnya. Ramah, bersahaja, suka ngajak ngobrol sharing isu -cuma posnya entertainment, yang kebetulan memang kurang kusukai; maklum meliput artis hanya bikin keki karena lagak sok mereka.

Atau Mas Marga Raharja. Seniorku di Kontan ini adalah sosok tekun. Meski dia sendiri sudah sepuh. Namun energinya seakan kaum muda, bahkan lebih muda daripadaku. Setiap narasumber mengaku pertanyaannya begitu runtut dan tertata. Lengkap dan bernas sekaligus cerdas. Bereportase bersamanya adalah pengalaman berharga. Dia adalah kawan yang baik.

Sosok seperti itulah yang aku tangkap di dalam raga Bambang Wisudo. Aku hampir tak percaya, orang sehalus selembut seramah Mas Wis, inikah yang dikenal garang di hadapan manajemen Kompas?

Yang jelas, aku benci wartawan yang makin tua, makin mapan, makin melejit karirnya, namun makin malas, makin duduk di meja, makin angkuh, makin arogan, dan makin antikritik. Salahkah aku begitu? Aku tak tahu…

Yang terang, wartawan bukan Tuhan yang Mahabenar. Wartawan hanya manusia biasa. Di atasnya ada sistem, yang sedemikian rupa, sehingga membuat mereka (terkadang, tak bisa mengelak, dan akhirnya) memilih berseberangan dengan pemimpin redaksinya, atau dengan manajemen kantornya. Entah… aku sendiri tak tahu.

About these ads

5 responses to “Wartawan oh Wartawan

  1. Seruan Wartawan Kompas

    Dilahirkan tahun 1965, Harian Kompas-nama ini diusulkan oleh Presiden Soekarno yang artinya “pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba”-sampai saat ini tetap menempatkan mottonya, “Amanat Hati Nurani Rakyat” sebagai cakrawala. Harian Kompas ingin tetap berkembang dan mengembangkan diri sebagai institusi pers yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengkotakan latar belakang suku, agama, ras, dan golongan. Sebagai lembaga yang terbuka, kolektif, Harian Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Dengan cakrawala itu pula, Harian Kompas ingin ikut serta dan secara aktif berupaya terlibat dalam proses mencerdaskan bangsa, atau lebih jauh lagi, memuliakan manusia.

    Sebagai institusi dengan alasan penjadian seperti di atas, maka segenap wartawan Kompas merasa perlu harus tekun, tak pernah berhenti bergulat dengan nilai-nilai dasar Kompas, yang antara lain bersifat menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabatnya; mengutamakan watak baik; profesional; selalu sadar atas tugas mengemban tanggung jawab sosial.

    Dinamika di dalam, yang selalu berada pada posisi tarik-menarik, tawar-menawar, bernegosiasi antara kepentingan perusahaan beserta seluruh wartawan/karyawannya dengan idealisme institusi ini, adalah hal yang wajar terjadi, pada suatu institusi bisnis. Ketegangan antara kepentingan perusahaan sebagai institusi bisnis di satu pihak, dan idealisme pers yang bertugas mengemban tanggung jawab sosial di lain pihak, merupakan bentuk ketegangan yang ikut mendewasakan siapa saja yang bekerja di surat kabar ini. Selama ini, ketegangan seperti itu diselesaikan dengan semangat kebersamaan, dengan asumsi adanya pengutamaan watak dan niat baik semua pihak, atau bahkan dengan pertama-tama mensyukuri rahmat Tuhan atas peran yang bisa kami mainkan selama ini. Di sini memang terbersit adanya asketisme di antara kami wartawan Kompas. Pilihan hidup sebagai wartawan dalam beberapa hal mengandung aspek vocatio, panggilan, untuk ikut memuliakan kehidupan dan kemanusiaan.

    Latar belakang di atas perlu kami paparkan, karena kami melihat pada waktu-waktu belakangan ini di luar Kompas telah muncul suatu “petualangan” oleh satu pihak yang melakukan aksi untuk mendiskreditkan, merongrong, memutar-balikkan nilai-nilai yang diemban oleh Harian Kompas. “Petualangan” oleh pihak tersebut dilakukan dengan aksi sepihak berupa antara lain kegiatan demonstrasi di seputar kantor Harian Kompas dan beberapa tempat lain; pemasangan spanduk-spanduk yang sifatnya mendiskreditkan perusahaan maupun individu; penyampaian informasi-informasi sepihak tentang berbagai kejadian yang telah “diorkestrasi” pihak tersebut untuk memojokkan Harian Kompas ke berbagai pihak seperti lembaga-lembaga swadaya masyarakat, lembaga resmi pemerintah, dan lain-lain; menempatkan berbagai pihak di dalam Harian Kompas dalam posisi antagonistik; dan menyebarkan hasutan dan sifat saling bermusuhan.

    Untuk mencegah “petualangan” itu berkembang lebih jauh sehingga merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat luas yang ikut memiliki Harian Kompas, maka dengan ini kami, wartawan Kompas, mengeluarkan seruan:

    1. Kami, wartawan Kompas, tidak merasa diwakili oleh satu pihak, yang tengah berpretensi mewakili kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas, dengan melakukan aksi sepihak berikut cara-cara yang justru bertentangan dengan segenap nilai yang hendak diinternalisasikan Harian Kompas.

    2. Karena pihak tersebut mengklaim diri sebagai pengurus dari suatu organisasi di dalam Harian Kompas-suatu organisasi yang sifatnya lebih untuk kepentingan di dalam, dan menjadi isu minor dibandingkan kepentingan pembaca/masyarakat secara luas-kami nyatakan klaim itu tidak relevan. Organisasi ini telah dibajak keluar untuk memperjuangkan kepentingan pribadi yang sempit, dengan berkedok untuk kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas.

    3. Kami mengimbau semua pihak berhati-hati, karena dalam era globalisasi berikut tersedianya berbagai instrumen dan institusi yang memungkinkan adanya pemberdayaan individu secara optimum ini, tampaknya bukan tidak mungkin muncul apa yang disebut “a super-empowered angry individual” yang berpotensi menghancurkan cita-cita terbentuknya masyarakat madani, proses demokratisasi, bahkan sivilisasi.

    Jakarta, 27 Januari 2007

    Kami, wartawan Kompas:

    1.. Efix Mulyadi
    2.. M. Nasir
    3.. Budi Suwarna
    4.. Mh Samsul Hadi
    5.. Maria Hartiningsih
    6.. Frans Sartono
    7.. Hamzirwan
    8.. Hermas E Prabowo
    9.. Luki Aulia
    10.. Pascal S Bin Saju
    11.. Amir Sodikin
    12.. Hariadi Saptono
    13.. Nawa Tunggal
    14.. Dahono Fitrianto
    15.. Ida Setyorini
    16.. Mulyawan Karim
    17.. Fandri Yuniarti
    18.. Gunawan Setiadi
    19.. Nur Hidayati
    20.. Susi Ivvaty
    21.. Osa Triyatna
    22.. Chris Pudjiastuti
    23.. Kenedi Nurhan
    24.. Orin Basuki
    25.. Tiur Santi Oktavia
    26.. Banu Astono
    27.. Bre Redana
    28.. M Suprihadi
    29.. Iwan Ong
    30.. Ninuk Mardiana Pambudy
    31.. Haryo Danardono
    32.. Tonny D Widiastono
    33.. M Clara Wresti
    34.. Fitrisia M
    35.. Brigitta Isworo Laksmi
    36.. Danu Kusworo
    37.. Jimmy S Harianto
    38.. Lusiana Indriasari
    39.. Myrna Ratna
    40.. Agus Mulyadi
    41.. Agus Hermawan
    42.. Diah Marsidi
    43.. Neli Triana
    44.. Windoro Adi
    45.. Irving Noor
    46.. Yesayas Octavianus
    47.. Yulia Sapthiani
    48.. Caesar Alexey
    49.. Arbain Rambai
    50.. Pingkan E Dundu
    51.. Pepih Nugraha
    52.. Anton Sanjoyo
    53.. Abun Sanda
    54.. Sri Hartati Samhadi
    55.. Dirman Thoha
    56.. Jannes Eudes Wawa
    57.. Putu Fajar Arcana
    58.. M Yuniadhi Agung
    59.. Dedi Muhtadi
    60.. Bambang Wahyu
    61.. Elly Roosita
    62.. Ambrosius Harto
    63.. Ardhian Novianto
    64.. Agnes Sweta Pandia
    65.. Muhammad Bakir
    66.. Yunas Santhani Azis
    67.. Anwar Hudijono
    68.. Buyung Wijaya Kusuma
    69.. Gatot Widakdo
    70.. Muhammad Syaifullah
    71.. Wisnu Nugroho
    72.. Adhi Kusuma Putra

  2. Phwew… war must go on…
    Ada beberapa nama wartawan Kompas yang secara personal memang baik hubungannya dengan saya. Namun kali ini saya memang konsisten di kubu Bambang Wisudo.

    Saya harap mereka yang menandatangani “petisi” ini bukannya membenci Mas Wis. Namun memang karena terjebak pada posisi mereka sebagai karyawan Kompas -yang mencintai Kompas serta karirnya yang sedang menanjak.

    Tahukah kawan, bahwa dalam cerita Barathayudha, Karno membela Kurawa bukan karena membela kejahatan. Karno tahu Kurawa memang jahat. Namun Karno harus berperang melawan Pandawa karena kecintaannya kepada tanah air Hastina.

    Bisa jadi wartawan-wartawan Kompas ini sebagian berposisi sebagai Karno, hanya semata kecintaannya kepada Kompas. Saya pun yakin, Mas Wis dan masyarakat mencintai Kompas. Hanya cara dan jalan yang ditempuhnya berbeda -bahkan harus bersilangan. Tapi saya yakin, di antara penandatangan itu memang ada “golongan Kurawa sejati”… begitu absurd dunia ini…

    Piss…

  3. PETISI DARI PARA SAHABAT

    Kami, para dosen, peneliti dan ilmuwan sahabat dan pembaca Kompas. Selama ini kami menaruh hormat kepada Kompas sebagai suratkabar yang akurat dan terpercaya. Tidak bisa dipungkiri, dari segala keterbatasan ruang gerak yang dihadapi, Kompas selalu mencoba berada di baris terdepan dalam memerjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi, dan demokrasi, termasuk pada masa-masa represif di bawah rejim Soeharto

    Citra yang dibangun Kompas sebagai surat kabar yang mengemban “amanat hati nurani rakyat”, menjadi “kata hati dan mata hati”, telah tertanam pada diri kami. Akan tetapi kami tiba-tiba dikejutkan dengan persoalan internal yang tiba-tiba menyeruak menjadi isu publik menyangkut kekerasan dan pemecatan yang menimpa wartawan Kompas, Sdr. P Bambang Wisudo. Dari pembicaraan maupun dari tulisan-tulisan melalui milis, baru kemudian kami menyadari bahwa Kompas tengah menghadapi persoalan serius berkaitan masalah komunikasi, kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan dialog, kebebasan berserikat, toleransi terhadap perbedaan pendapat yang justru melekat sebagai citra yang dibangun Kompas selama ini. Kekerasan sekecil apapun tidak bisa diterima sebagai cara dalam penyelesaian perselisihan pendapat secara beradab.

    Oleh karena itu, sebagai pembaca dan sahabat Kompas kami ingin mengemukakan harapan agar kasus ini diselesaikan dengan cara sebaik-baiknya. Perjuangan untuk kemanusiaan, demokrasi, dan hak asasi akan tidak sejalan tanpa usaha menerapkannya pada diri kita sendiri. Kami berharap Kompas tetap setia pada nilai-nilai yang diperjuangkannya dan segera melakukan pembaruan internal agar tetap dapat menjadi contoh bukan hanya sebagai sebuah suratkabar tetapi juga sebuah institusi bisnis yang menjunjung tinggi humanisme.

    Jakarta, 20 Desember 2006
    Ttd Terlampir

    1. Adriana Elisabeth (P-2P LIPI)

    2. Hargyaning Tyas (P-2P LIPI)

    3. Tri Ratnawati (P-2P LIPI)

    4. Sarah Nuraini Siregar (UI)

    5. Afad Lal (Universitas Budi Luhur)

    6. Sri Nuryanti (RIDEP)

    7. Retno Handini (Budpar)

    8. Hamdan Basyar (P2-P LIPI)

    9. Syafuan Rozi (Dosen IISIP Jakarta)

    10. Djoko K (PMB-LIPI)

    11. Heru Cahyono (P2P LIPI)

    12. Ikrar Nusa Bhakti (P2P LIPI)

    13. Jaleswari Pramodhawardani (PMB-LIPI)

    14. Thung Julan (PMB-LIPI)

    15. Tri Nuke Pudjiastuti (P2P-LIPI)

    16. Johan Azhar (P2P LIPI)

    17. Riwanto Tirtosudarmo (PMB LIPI)

    18. Anas Saidi (PMB LIPI)

    19. Asvi Warman Adam (P2P LIPI)

    20. Ary (UMB)

    21. Arfan (UMB)

    22. Ferdi (Orientasi UMS)

    23. R Siti Zuhro (P2P LIPI/The Habibe Center)

    24. Ranni (P2P LIPI)

    25. A Iriwati (P2P LIPI)

    26. Mardyanto Wahyu T (P2P LIPI)

    27. Ganwati Wuryandari (P2P LIPI)

    28. Dewi Fortuna Anwar ( LIPI)

    29. Usmar Ismail (LKN)

    30. Tiur (Kabar)

    31. BB (Didaktika)

    32. Budi (Didaktika)

    33. Nadya (LPM Diamma)

    34. Sasmito (Transformasi)

    35. Irham (Didaktika)

    36. Dessi Rosdiana (LPM Diamma)

    37. Y Roza (Didaktika)

    38. Yohanes R (LPM Diamma)

    39. M Yamin (Sekjen Serikat Nelayan Merdeka-Sumut)

    40. Syahril (LPM Orientasi UMB)

    41. Rachma (LPM Orientasi UMB)

    42. Sari (Didaktika)

    43. A Fauzan (Orientasi)

    44. Realisti (LPM Diamma)

    45. Jendra S (Orientasi)

    46. Anggri (LPM Diamma)

    47. Imah (Diamma)

    48. Agnes (LPM Purnama)

    49. Mail (Front Perjuangan Pemuda Indonesia/FPPI)

    50. Dan Dan N (KSR Garut)

    51. Uhyana (STRIP)

    52. Dkol (FPPI)

    53. Ramly SY (FPPI)

    54. Emots (FPPI Garut)

    55. Ripan (FPPIGarut)

    56. Awing (FPPI arut)

    57. Adam (LPKL-G)

    58. Agung Purnama (FPPI Garut)

    59. Iwan Gunawan (FPPI Garut)

    60. S Son (FPPI Garut)

    61. Iwan M (FPPI Garut)

    62. Bagas Adi (LS Garut)

    63. Asep Saepuloh (BR Garut)

    64. Iip T Poniman (FPPI Garut)

    65. Ferry Shidarta (FPPI Garut)

    66. Irmawan (FPPI Grt)

    67. Ru Renjay (Perhimpunan Rakyat Pekerja/PRP)

    68. Dudung (PRP)

    69. Ndaru (PRP)

    70. Fajar (FPPI Garut)

    71. D Rosada (FPPI Garut)

    72. Irwan Dani (FPPI Banten)

    73. Marudut S (FPPI Medan)

    74. Rahmat Pasau (PN FPPI)

    75. Sahat (PN FPPI)

    76. Wahyu R (Aji Jakarta)

    77. A Bambani (serikat pekerja detk.com)

    78. Alfa (PRP)

    79. Irianto I Susilo (LBH Apik)

    80. Lily (Serikat Buruh Migran)

    81. Beno W (KASBI)

    82. Aditya Wardhana (AJI Jakarta)

    83. Nining E (GSBM KASBI)

    84. Sultoni (Serikat Pekerja Madani Indonesia)

    85. S Heri Dniyanto (Serikat Pekerja Madani Indonesia)

    86. A Irwansyah (Serikat Pekerja Madani Indonesia)

    87. Parsudi (Serikat Pekerja Madani Indonesia)

    88. Katarina Pujiastuti (FNPBI)

    89. U Idris (AJI Jakarta)

    90. Hari Nugroho (AJI Jakarta)

    91. Pembina Karos (AJI Jakarta)

    92. Wahyu Dhyatmika (AJI Jakarta)

    93. Edy Haryadi (AJI Jakarta)

    94. HM Siringo Ringo (LBH Pers)

    95. M Zainuri (Lativi)

    96. Sholeh Ali (LBH Pers)

    97. Nadya (LBH Pers)

    98. Putri Asri (LBH Pers)

    99. Hermina (LBH Pers)

    100. Agus Randani (LBH Pers)

    101. M Halim (LBH Pers)

    102. Hendrayana (Direktur LBH Pers)

    103. Yanti (LBH Jakarta)

    104. Edy H Gurning (LBH Jakarta)

    105. Melda Kumalasari (LBH Jakarta)

    106. Kiagus Ahmad (LBH Jakarta)

    107. Gatot (LBH Jakarta)

    108. Uni Illian M (LBH Jakarta)

    109. Heru (LBH Jakarta)

    110. Virza (LBH Jakarta)

    111. Totok Yulianto (LBH Jakarta)

    112. Putri Kanesia (LBH Jakarta)

    113. Hermawanto (LBH Jakarta)

    114. Ori Rahman (Ketua Presidium Kontras)

    115. Wilson (Praxis)

    116. Mugiyanto (Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang/IKOHI)

    117. Mutiara Pasaribu (IKOHI)

    118. Simon (IKOHI)

    119. Nelly Yarti S (IKOHI)

    120. Ibeth (IKOHI Jakarta)

    121. Dyan Setyawati (IKOHI Jakarta)

    122. Nanung H (IKOHI)

    123. Pheo (IKOHI)

    124. Indri (Kontras)

    125. Usman Hamid (Kordinator Badan Pengurus Kontras)

    126. A Patra M Zen (Direktur YLBHI)

    127. Astuty Liastianingrum (YLBHI)

    128. Tabrani Abby (YLBHI)

    129. Taufik Basari (YLBHI)

    130. Hendrik Dikson Sirait (ANBTI)

    131. Asfinawati (Direktur LBH Jakarta)

    132. Sri Nurherwati (LBH Apik-Jakarta)

    133. Dian Tri Irawaty (UPC)

    134. Romy Leo Rinaldo (YLBHI)

    135. Fr Yohana T Wardhani (LBH Apik)

    136. Gatot Eko Y (Offstream)

    137. Winurantho Adhi (AJI Jakarta)

    138. Odie Hudiyanto (Sekretaris Umum Federasi Serikat Pekerja Mandiri/FSPM)

    139. Abdullah (Elshinta TV)

    140. Abdul Manan (Sekjen AJI Indonesia)

    141. Ruhut Ambarita (Kabar)

    142. Indri Saptorini (TURC)

    143. Anggri Sugiyanto (LPM Diamma)

    144. Anastasya A (pelanggan Kompas)

    145. Saeful Tavip (Ketua Dewan Penasehat OPSI)

    146. Dewi Fitriana (Sekretaris FSPM)

    147. Mona B (KHRN)

    148. Stefanus Felix Lamuri (AJI Jakarta)

    149. Eriek (Teknora Universitas Lampung)

    150. Bakhtiar Yusuf (TURC)

    151. U. N. Yusron (AJI Indonesia)

    152. Hadi Rahman (Internews)

    153. Sutarno (AJI Jakarta)

    154. Jajang Jamaludin (Ketua AJI Jakarta)

    155. Jhonson Andrian (Somasi-Unas)

    156. Sella P.G. (LPM Diamma-Universitas Mustopo)

    157. Agus Rakasiwi (Ketua AJI Bandung)

    158. Nugroho Dewanto (AJI Indonesia)

    159. Eko Maryadi (Kord. Divisi Advokasi AJI Indonesia)

    160. Kili Pringgodigdo (AJI Indonesia)

    161. Mundo (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia/KASBI)

    162. Eka Pangulima H (KASBI)

    163. Marno (SBSI)

    164. Budi Wardoyo (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia/FNPBI)

    165. Ilham Syah (Ketua Umum Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia/SBTPI)

    166. Eli Salomo (Aliansi Buruh Menggugat/ABM)

    167. Sultoni (Serikat Pekerja Madani Indonesia)

    168. Chandra W (Front Perjuangan Serikat Buruh Jabotabek/FPBJ)

    169. Aries Sutan K (FPBJ)

    170. Eni Sriwahyuni (Federasi Serkat Buruh Membangun Indonesia/FSBMI)

    171. Lily Pujiati (Serikat Buruh Migran Indonesia/SBMI)

    172. Dudung (AJI Surabaya)

    173. J Danang Widoyoko (Indonesia Corruption Watch/ICW)

    174. Lody Paat (Koalisi Pendidikan)

    175. Ade Irawan (ICW)

    176. Naning (KKMSK-Loteng)

    177. Siti Rif’anah (Sanksi Borneo)

    178. Tres N Situmorang (Bako Sumatera Barat)

    179. Febri Hendri AA (ICW)

    180. Wildan (Fakta)

    181. Affa Burning (Independen)

    182. Agus Sugandhi (Garut Goverment Watch/G2W)

    183. Agus Sunaryanto (ICW)

    184. Muh. Yusran A (JMS-Buton)

    185. Askal Sumera (JMS-Buton)

    186. Agus R (G2W Garut)

    187. Nurfaizah (JMS-Buton)

    188. Agus F Hidayat (Fakta Tangerang)

    189. Arief Furqan (Sanksi Borneo)

    190. Wahyudin B (Perak Institute)

    191. Mawardi (Perak-Makassar)

    192. Andre Wala (Swapar)

    193. Marianti (Swapar)

    194. Ety R Baba (Formasi Sumbar)

    195. Jack Keremata (Formasi Sumba Barat)

    196. Jimmy Paat (Koalisi Pendidikan)

    197. Khresna A Mangontan (Forum Ortu Siswa Menteng Besuki)

    198. Jumono (komite Sekolah)

    199. Zanal Abidin (Fakta Tangerang)

    200. Dani Wardani (Auditan)

    201. Budhi Hastuti (Auditan)

    202. Kemas Ismed (Auditan)

    203. Charles S (Bako Sumbar)

    204. Magda P (Serikat Guru Tanggerang)

    205. Talhah (KKMSK Lombok Tengah)

    206. Kamal Fikri (Guru SMKNI Cilegon)

    207. Siti Nuratna (Guru Mts Al Amun Cikande)

    208. Mas’amah (Mahasiswa Uninus)

    209. Marinah (Mahasiswa Uninus)

    210. Syafrudin (Guru SMP Daan Mogot Tangerang)

    211. Agus Supriadi (Serikat Guru Tangerang)

    212. Yaya Sunarya (Fakta Tangerang)

    213. Kamal Haris (Guru Mts. Legok)

    214. Selamet AP (SHMI Jakarta)

    215. Tommy Albert Tobiro (SHMI Jakarta)

    216. Tintin (ICW)

    217. Lais Abid (ICW)

    218. Jane (ICW)

    219. Nita (ICW)

    220. Abdullah (ICW)

    221. Firdaus Ilyas (ICW)

    222. Irsyad Ridho (Koalisi Pendidikan)

    223. Adnan Topan Husodo (ICW)

  4. Pingback: Anjar priandoyo is Lifeauditor Apa kata Serikat Pekerja kita? «

  5. A lot of of folks talk about this topic but you wrote down really true words!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s