My Thought, My Activism, My Life, Myself

Entries from December 2006

Menelusuri Bali

December 15, 2006 · 3 Comments

4 Desember 2006…

Mentari malas tertelan bibir senja. Tiga atlet atletik masih asyik masyuk dalam latihan.

 

Tubir senja makin merona

Menelusuri Pantai Kuta, nelayan menyambung hidup menukar hasil buruan dari padang biru dengan kepingan logam bernama uang

Matari makin membarat

Menelus Hard Rock, menembus Jalan Popey hingga njedul ke Ground Zero… Bom, orang mati tanpa tahu alasan mengapa mereka mati… Berapa harga nyawa?

 

Categories: Aktivisme dan Serikat Pekerja

Wartawan oh Wartawan

December 14, 2006 · 4 Comments

Bambang Wisudo, wartawan senior Harian Kompas, dipecat karena kegiatan serikat pekerjanya (8/12). Dia memperjuangkan kepemilikan 20% saham bagi karyawan. Entah mengapa, kasus seperti itu acapkali terjadi di dunia pers ini. Aku sendiri tak tahu.

Wartawan, selalu menulis hal-hal yang ideal, memuntahkan kondisi ideal (kalau tak mau disebut utopi) lewat tulisannya atau karya jurnalisnya (bisa berita di radio, televisi, atau internet). Wartawan adalah pengkritik sejati, tanpa perlu koar-koar seperti pengamat atau ahli. Tentang parlemen yang busuk, tentang eksekutif yang korup, tentang polisi tidur, tentang hakim penakut, tentang pebisnis hitam, tentang bankir mangkir, tentang carut-marut-karut pendidikan, tentang negeri yang miskin, tentang kaum tani yang tak mampu beli beras, tentang nasib atlet yang kapiran (padahal telah berjerit-jerih membela nama bangsa), tentang… ah, aku sendiri tak tahu.

Karya wartawan, sangat dinanti pembacanya (atau pendengar atau pemirsa). Walhasil, wartawan adalah nabi yang dinanti nubuwah dan pesan-pesan sucinya. Namun apa yang kualami, apa yang kulihat, membuatku berkesimpulan (setidaknya untuk sementara ini) toh wartawan si tukang kritik, akhirnya jadi antikritik.

Apalagi kalau dia makin senior, sudah menjabat redaktur, apalagi pemimpin redaksi. Setidaknya itu yang dirasakan Mas Wis, ketika didepak Suryopratomo. Akupun pernah merasakan sinisnya seorang pemimpin redaksi media terkemuka di Solo. “Kamu mau ngelamar ke sini, pindah kerja ke sini, pasti di tempat kerjamu dulu kamu bermasalah yah?” begitu hardiknya.

Aku teringat nasib kakakku yang tak direken oleh pemimpin redaksi sebuah media lokal di Malang, pun ketika dia kerja sebagai kontributor media bisnis-ekonomi (dulu hukum-ekonomi) Grup Bimantara.

Memang kuakui, tak semua wartawan senior begitu. Aku teringat Mas Yopie (Hidayat, pemred Tabloid Kontan). Dia begitu runtut memberi petuah dan saran sebelum kami berpisah. Cukup bijak, netral, dan fair. Tak semua wartawan tua menjadi angkuh dan arogan. Entah, aku tak tahu.

Aku teringat perjumpaan dengan Mas Ipik, dari Bali Pos. Dia sudah beruban. Namun setumpuk pengalamannya tak membuat dia abai dan acuh kepada wartawan muda lainnya. Ramah, bersahaja, suka ngajak ngobrol sharing isu -cuma posnya entertainment, yang kebetulan memang kurang kusukai; maklum meliput artis hanya bikin keki karena lagak sok mereka.

Atau Mas Marga Raharja. Seniorku di Kontan ini adalah sosok tekun. Meski dia sendiri sudah sepuh. Namun energinya seakan kaum muda, bahkan lebih muda daripadaku. Setiap narasumber mengaku pertanyaannya begitu runtut dan tertata. Lengkap dan bernas sekaligus cerdas. Bereportase bersamanya adalah pengalaman berharga. Dia adalah kawan yang baik.

Sosok seperti itulah yang aku tangkap di dalam raga Bambang Wisudo. Aku hampir tak percaya, orang sehalus selembut seramah Mas Wis, inikah yang dikenal garang di hadapan manajemen Kompas?

Yang jelas, aku benci wartawan yang makin tua, makin mapan, makin melejit karirnya, namun makin malas, makin duduk di meja, makin angkuh, makin arogan, dan makin antikritik. Salahkah aku begitu? Aku tak tahu…

Yang terang, wartawan bukan Tuhan yang Mahabenar. Wartawan hanya manusia biasa. Di atasnya ada sistem, yang sedemikian rupa, sehingga membuat mereka (terkadang, tak bisa mengelak, dan akhirnya) memilih berseberangan dengan pemimpin redaksinya, atau dengan manajemen kantornya. Entah… aku sendiri tak tahu.

Categories: Aktivisme dan Serikat Pekerja · Pernik Jurnalistik

Mau Saingan Ngrokok sama Orang Indonesia?

December 12, 2006 · Leave a Comment

Sungguh gembira, saya mendapat kesempatan menghadiri perjumpaan wartawan se-Asia Tenggara di Bali, 3-9 Desember silam. Perhelatan Regional for News Safety Conference and Training for Frontline Journalist ini diselenggarakan oleh International News Safety Institution (INSI) kantor regional Asia Tenggara.

Saya bisa berkumpul dengan wartawan dari Filipina, Burma (hmmm, mereka lebih memilih diksi Burma daripada Myanmar. Myanmar adalah bahasanya, dan Burma adalah negeri dan bangsanya), Thailand, Kamboja, Pakistan, serta tentu saja Indonesia.

Indonesia sendiri diwakili oleh saya (Aliansi Jurnalis Independen [AJI] Jakarta), Bambang Muryanto (AJI Yogyakarta), Andika (AJI Bali), Lensi Mursida alias Nyonya Abdul Manan (International Federation on Journalist [IFJ] Indonesia), serta Meutya Hafid dan Bambang Hamid (Metrotv).

(Keterangan gambar dari kiri: Mas Bambang AJI Yogya, Andika AJI Bali, Meutya Hafid, pemateri Tom Oneill dari AKE, saya, dan Mbak Lensi AJI Indonesia. Mas Bambang Metrotv tak ikut berfoto.)

Seperti jurnalis kebanyakan, kawan-kawan saya ini pun gemar merokok -memang ada beberapa yang tidak. Cuma, ketika saya sodorkan rokok indonesia, mereka cenderung menggeleng. Rupanya, mereka tak terbiasa merokok cengkih. Bahkan, Ronald, wartawan BBC Thailand asal Burma bilang, “It’s irritate my tounge.” Kebanyakan mereka hanya paling banter nyedot Marlboro yang 100% bertembakau.

Anehnya, Ronald mengaku suka mencium bau asap rokok saya. Saya coba sodorkan Djarum Black Cappucino. Tentu negara lain belum bisa bikin rokok berasa kopi, kapucino, atau teh kan? Nampaknya dia cukup suka, meski belum beradaptasi dengan rasa cengkih. Sebagai kenang-kenangan sebelum kami berpisah, saya berikan bungkus Djarum Black Cappucino itu. Karena memang itu yang bisa saya berikan. Hehehe…

Dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata dan sering susah nyambung, saya jelaskan pula bahwa masih banyak jenis rokok yang lebih berat daripada rokok bercengkih. Misalnya rokok yang dikonsumsi orang-orang desa di Jawa: racikan klembak, kemenyan, cengkih, tembakau. Hmmm, lebih dahsyat daripada cerutu.

Mereka bertanya, apakah dicampur hasyis? Saya jawab sama sekali tidak. Hasyis sendiri adalah khas Timur Tengah. Konon, sebelum berangkat perang, para pasukan (perang salib, terutama), menghirup hasyis supaya jalang dan berani. Karena itulah, tercipta kata assasin.

Semua rokok di Indonesia memang bercengkih, kecuali Marlboro atau merek asing. Red Batario, koordinator INSI Asia Tenggara nimbrung menimpali, “Indonesia is famous because of kretek. It sounds kretek-kretek if you smoke it.” Rupanya dia sedikit banyak tahu juga.

Rupanya orang luar negeri hanya berani merokok tembakau. So, daripada meratapi anjloknya prestasi kita di Asian Games, kita masih punya prestasi dalam bidang rokok kan? Hehehe…

Categories: Aktivisme dan Serikat Pekerja

Home Sweet Home

December 1, 2006 · Leave a Comment

    

Home is everything…

Sepatah kalimat itu meluncur dari mulut Ali, pemuda pejuang Timur Tengah, dalam sepotong percakapan dengan asasin suruhan Mossad, yang bernama Avner. Mata Ali berkaca-kaca dan mulutnya bergetar ketika meluncurkan kalimat itu. Percakapan itu memang hanya sebuah dialog dalam film Munich, besetan Steven Spielberg.

Rumah memang segalanya. Memang demikian adanya. Sejauh ke mana pun kita pergi, sebenarnya kita menyusun langkah menuju pulang. Itu pula yang dirasakan tokoh Gagap karangan Putu Wijaya dalam kumcer Tulalit. Aku sangat merindukan arumnya atmosfer nyamannya anyaman kehangatan kasih sayang keluarga di Pati…

Categories: Kota Pati · Tentang Yacob

How Fair She Is

December 1, 2006 · 3 Comments

Murjayanti Manis  Gadis Lucu   

Gadis ini namanya sederhana: Murjayanti. Panggilannya lebih sederhana lagi: Oyek. Anda pasti setuju kalau dara asal Gedaren, Ponjong, Gunungkidul ini memang manis… isn’t she?

Categories: Tentang Yacob

Kucingku Lucu Gak…?

December 1, 2006 · 4 Comments

Kucingku Lucu

Namanya Tolang. Mungkin juga karena dia suka bertualang. Gambar ini saya ambil ketika saya pulang ke Pati semasa Lebaran kemarin. Dia bermain memanjat tembok belakang rumah pada suatu pagi. Sekarang dia diminta oleh keluarga Budhe di Kampung Kauman. Huuu… sedih deh gak bisa melihat lagi kenakalannya. Oh yah. Dia juga punya adik cewek bernama Nilma. Si Nilma juga diambil Budhe… Sedihnya… Mereka sempat dua hari gak doyan makan menghadapi lingkungan baru bersama pemilik baru… Ada-ada saja…

Categories: Aku dan Si Meong