Bambang Wisudo, wartawan senior Harian Kompas, dipecat karena kegiatan serikat pekerjanya (8/12). Dia memperjuangkan kepemilikan 20% saham bagi karyawan. Entah mengapa, kasus seperti itu acapkali terjadi di dunia pers ini. Aku sendiri tak tahu.
Wartawan, selalu menulis hal-hal yang ideal, memuntahkan kondisi ideal (kalau tak mau disebut utopi) lewat tulisannya atau karya jurnalisnya (bisa berita di radio, televisi, atau internet). Wartawan adalah pengkritik sejati, tanpa perlu koar-koar seperti pengamat atau ahli. Tentang parlemen yang busuk, tentang eksekutif yang korup, tentang polisi tidur, tentang hakim penakut, tentang pebisnis hitam, tentang bankir mangkir, tentang carut-marut-karut pendidikan, tentang negeri yang miskin, tentang kaum tani yang tak mampu beli beras, tentang nasib atlet yang kapiran (padahal telah berjerit-jerih membela nama bangsa), tentang… ah, aku sendiri tak tahu.
Karya wartawan, sangat dinanti pembacanya (atau pendengar atau pemirsa). Walhasil, wartawan adalah nabi yang dinanti nubuwah dan pesan-pesan sucinya. Namun apa yang kualami, apa yang kulihat, membuatku berkesimpulan (setidaknya untuk sementara ini) toh wartawan si tukang kritik, akhirnya jadi antikritik.
Apalagi kalau dia makin senior, sudah menjabat redaktur, apalagi pemimpin redaksi. Setidaknya itu yang dirasakan Mas Wis, ketika didepak Suryopratomo. Akupun pernah merasakan sinisnya seorang pemimpin redaksi media terkemuka di Solo. “Kamu mau ngelamar ke sini, pindah kerja ke sini, pasti di tempat kerjamu dulu kamu bermasalah yah?” begitu hardiknya.
Aku teringat nasib kakakku yang tak direken oleh pemimpin redaksi sebuah media lokal di Malang, pun ketika dia kerja sebagai kontributor media bisnis-ekonomi (dulu hukum-ekonomi) Grup Bimantara.
Memang kuakui, tak semua wartawan senior begitu. Aku teringat Mas Yopie (Hidayat, pemred Tabloid Kontan). Dia begitu runtut memberi petuah dan saran sebelum kami berpisah. Cukup bijak, netral, dan fair. Tak semua wartawan tua menjadi angkuh dan arogan. Entah, aku tak tahu.
Aku teringat perjumpaan dengan Mas Ipik, dari Bali Pos. Dia sudah beruban. Namun setumpuk pengalamannya tak membuat dia abai dan acuh kepada wartawan muda lainnya. Ramah, bersahaja, suka ngajak ngobrol sharing isu -cuma posnya entertainment, yang kebetulan memang kurang kusukai; maklum meliput artis hanya bikin keki karena lagak sok mereka.
Atau Mas Marga Raharja. Seniorku di Kontan ini adalah sosok tekun. Meski dia sendiri sudah sepuh. Namun energinya seakan kaum muda, bahkan lebih muda daripadaku. Setiap narasumber mengaku pertanyaannya begitu runtut dan tertata. Lengkap dan bernas sekaligus cerdas. Bereportase bersamanya adalah pengalaman berharga. Dia adalah kawan yang baik.
Sosok seperti itulah yang aku tangkap di dalam raga Bambang Wisudo. Aku hampir tak percaya, orang sehalus selembut seramah Mas Wis, inikah yang dikenal garang di hadapan manajemen Kompas?
Yang jelas, aku benci wartawan yang makin tua, makin mapan, makin melejit karirnya, namun makin malas, makin duduk di meja, makin angkuh, makin arogan, dan makin antikritik. Salahkah aku begitu? Aku tak tahu…
Yang terang, wartawan bukan Tuhan yang Mahabenar. Wartawan hanya manusia biasa. Di atasnya ada sistem, yang sedemikian rupa, sehingga membuat mereka (terkadang, tak bisa mengelak, dan akhirnya) memilih berseberangan dengan pemimpin redaksinya, atau dengan manajemen kantornya. Entah… aku sendiri tak tahu.