My Thought, My Activism, My Life, Myself

Game Zuma Deluxe? Sudah Tamat Tuh…

November 29, 2006 · 7 Comments

Zuma    Kodok Nembak  Kodok Ngorek  Kodok Kungkong sumber gambar: www.msn.com

Game ini cukup gatheli memang. Hehehehe… maksudnya, game ini bikin kecanduan. Tingkat adiktivitasnya tergolong tinggi –selain game Fifa Football Manager. Sampai-sampai setiap saya berkunjung ke kantor-kantor pemda (pas lagi liputan), mesti setiap pegawai main game ini. Pun demikian dengan mantan redaktur saya, Mbak Mesti. Hmmm… kayaknya mereka pada asyik main game kodok ini. Pantas saja, dalam situs Microsoft, game ini bertengger di urutan kedua dalam lima besar game-game keluaran Microsoft yang paling digemari di planet ini.

Saya pun penasaran, apaan sih asyiknya main game ini? Dua bulan silam, ketika saya dan Murjayanti, calon istri saya, membeli seperangkat notebook, si Mur minta diinstallkan game kodok nembak. Apa sih maksudnya? Ooohhh, ternyata Zuma Deluxe yah namanya?

Sekali coba, asyik juga yah. Game ini sederhana. Hanya menembak bola-bola berwarna sesuai dengan warnanya: merah, kuning, hijau, biru. Jika sudah melewati tiga level pertama, warna bola bertambah satu, yaitu ungu. Tiga level kedua sudah lewat, maka pada level-level berikutnya akan ketambahan satu warna bola lagi, yaitu putih.

Mungkin saja game ini terilhami dari cerita legenda Indian Maya atau Aztec. Saya sendiri gak tahu. Alur ceritanya, seorang dewa (mungkin matahari) sedang terpenjara. Si dewa punya teman berbentuk kodok. Si kodok ini harus membebaskan si dewa agar bisa kembali mengatur jagad dan seisinya. Bola yang dibiarkan berjalan akan mendekati mulut tengkorak. Jika bola sudah masuk ke mulut tengkorak, maka gagallah kita.

Maka, si kodok ini harus menelusuri kuil-kuil kuno dan menghabiskan bola-bola berwarna tadi dengan cara menembak. Jika kita beruntung, kita akan mendapatkan bola bom, pelambat, atau pembidik. Ini akan memudahkan tugas kita menghabiskan bola tersebut. Nah, untuk mengumpulkan banyak nilai, kita bisa membidik koin yang muncul beberapa kali atau menembak di sela-sela jarak bola yang menganga (gap). Hal ini, selain untuk mendulang poin, juga berguna untuk mempercepat habisnya bola. Oh yah, setiap berhasil mengumpulkan poin 50.000 dan kelipatannya, kita memperoleh satu “nyawa”.

Sampai level 9, saya girang pasti sudah tamat. Eh, kok muncul tiga kuil lagi. Yah, harus menghabisi level 10, 11, dan 12 deh. Duh susahnya. Saya frustrasi gak pernah berhasil. Eh, suatu saat, saya bisa menhabiskan level 12. Loh, ternyata, masih ada level 13. Tempatnya di angkasa. Bolanya lebih banyak dan jaraknya makin panjang. Syukurlah, saya bisa melalui level 13-1. Pikir saya, seperti level 10 hingga 12, level 13 ini akan saya lalui sampai 7 tingkat. Tapi seelah level 13-1, saya bersorak karena tamat. Akhirnya, berhasil juga merampungkan game lucu ini.

Syukurlah, saya bisa melalui level 13-1. Pikir saya, seperti level 10 hingga 12, level 13 ini akan saya lalui sampai 7 tingkat. Tapi setelah level 13-1, saya bersorak karena tamat. Gak ada lagi kelanjutan level 13-2, 13-3, hingga 13-7. Akhirnya, berhasil juga merampungkan game lucu ini. Setelah membebaskan si dewa, sang kodok diangkat jadi saudara oleh si dewa, dan mengatur jagad raya ini bersama-sama, sesuai dengan bintang tempat tinggal mereka.

Saya sudah memungkasinya dua kali. Pertama, di tempat kos si Mur, dan kedua, di rumah kontrakan saya di Jakarta –tepat hari ini. Baru saja hari ini saya meninggalkan Yogya dan harus kembali lagi di Jakarta.

Sayang, saya belum mencoba versi online-nya. Saya sudah coba mengunduh (download) di warnet tapi gagal. Pasti lebih seru lagi, karena medannya berbeda dari versi CD-nya.

Hayo, mau bersaing dengan saya? Anda sudah level berapa? Asal jangan lupa kerja yah…

Categories: Tentang Yacob

Ke Jakarta Aku ‘Kan Kembali…

November 29, 2006 · Leave a Comment

Hmmm, setelah dua bulan nganggur jadi panji klantung, akhirnya saya harus mengadu nasib lagi ke Jakarta. Sebelumnya, sudah hampir dua tahun saya menjadi jurnalis di sebuah media ekonomi dan bisnis yang cukup tenar. Namun saya memutuskan untuk resign agar bisa bernafas membuang penat sejenak.


Senyampang mencari ilham, saya habiskan waktu saya di Yogyakarta. Nglamar punya nglamar, iseng punya iseng, saya coba mengadu peruntungan ke sebuah media terkemuka di Solo. Dasar nasib, saya belum beruntung belum diterima di sana. Di Solo saya ketemu Todi, mantan jurnalis Syirah. Tak disangka dia resign dan balik kampung. Mantan pegiat pers mahasiswa Pijar Fak. Filsafat ini sekarang sudah beristri dan tinggal di daerah sekitar pabrik Konimex. “Karena itulah, aku gak mau kerja lagi di Jakarta. Cukup di kampung saja,” ujarnya di satu siang sehabis tes seleksi (di media Solo itu tadi).


Akhirnya saya harus mengadu nasib lagi, dan peluang itu (ndilalahe) kok kembali ada di Jakarta. Akhirnya, Desember ini, saya kembali ke Jakarta, dan (kembali) menjadi jurnalis. Maksud hati ingin lebih dekat dengan keluarga yang tinggal di Pati (bapak-ibu) serta calon istri dari Ponjong, Gunungkidul. Tapi apa daya, mungkin nasibnya harus kembali ke Jakarta.


Dengan berat hati saya pun harus berpisah dengan teman-teman kampus UGM (baik yang sudah lulus dan masih kuliah). Saya belum ketemu Januar (Fak. Psikologi, mantan Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Psikomedia) dan Ari Priambodo alias Bodong (Fak. Filsafat, mantan pegiat Pers Mahasiswa Pijar). Januar sejak liburan Lebaran, dia masih di Kudus, kota asalnya. Masih betah juga dia jadi mahasiswa belum rampung-rampung juga sripsinya. Kalau Ari, kabarnya dia lagi ngurusi demo warga Parangtritis yang kena gusur. Dia sekarang bisnis serabutan. Jadi EO, jualan kacang, pokoknya cari duit sehingga belum lulus juga. Kabarnya, dia mau nabung buat nikah. Saya salut pada orang seperti Ari, yang berusaha mencari rejeki dengan tenaganya sendiri. Serta Arsih, teman satu organisasi LMND dulu. Dia baru lulus kuliah tahun ini dan lagi nyoba peruntungan tes Deplu. Kabarnya, bukunya bulan Desember ini mau terbit. Sayang, saya belum sempat ketemu.


Saya juga ketemu anak-anak Equilibrium, pers mahasiswa tempat saya beraktivitas dulu serta komunitas B21 atau anak-anak Balairung. Sekali saya ketemu Agus Supriyanto, jurnalis Tempo, kakak kelas Akuntansi 1999. Dia berkunjung ke Yogya dengan alasan si Agung, adiknya, baru saja wisuda. Uniknya, si Agung ini yah ketemu saya pas tes di Solo. Hehehe… Saya diajak Agus ngisi bareng sesi teknik reportase dalam diklat jurnalistik Equilibrium. Senangnya, daripada nganggur, sekali-kali punya kesibukan.

Lantas saya juga ketemu Arif Rahman Hakim, mahasiswa Ekonomi Pembangunan 2001 yang sedang menyusun skripsi. Mantan ketua FMN cabang UGM ini masih semangat ngomongin gerakan mahasiswa. Terakhir dia live in di perkapungan buruh Tangerang selama 10 bulan. Baru Maret lalu dia pulang. Sosok yang langka di tengah profil mahasiswa kini yang makin seragam: pragmatis, gak idealis blas, ingin IPK tinggi dan lulus cepat alias cum laude. Kami sempat diskusi bagaimana merumuskan upah layak bagi petani di Klaten, sebagai tema skripsinya. Hmmm, menarik sih. Apalagi dia sempat ngajak buat buku. Tapi belum ada ide yang menyata, masih sekadar basah-basah bibir. Dari menjual sepeda motornya dan usaha jualan beras, dia sekarang bisa beli laptop. Modal buat nulis dan menterjemahkan buku, katanya.

Lalu ketemu Romna alias Mama. Cah kemplu asal Parangtritis ini masih asyik saja di dunia luar, sehingga masih awet tercatat sebagai mahasiswa D3 Fakultas Ekonomi. Pandangan-pandangannya masih seperti dulu. Tentang kehidupan, tentang pekerjaan, pokoknya pecinta alam banget deh. Dia masih berkarya di perusahaan outbound. Sempat kami bertiga, saya, Mama, dan Murjayanti calon istri saya ngobrol di keremangan malam di angkringan sudut Stasiun Tugu berteman kopi jos.

Kegiatan lainnya, bertandang ke Ponjong menjenguk camer Bu Parti dan kakak si Mur, Mas Gito. Gunungkidul kala itu sama sekali belum tersentuh hujan setitik pun. Di samping itu, saya menemani si Mur berlatih panjat dinding. Maklum, dia sedang persiapan Kejurnas di Bogor Desember ini. Paling ketemu Mas Rosyid dan Mbak Etak (pasangan suami-istri peraih medali emas di PON Palembang 2004). Kini mereka dikaruniai satu putra, si Farhan. Pernah si Mur bercerita, dia habis lihat acara talkshow di teve, waktu itu pembicaranya Ahmad Dhani Dewa. Ketika si Dhani bertandang ke Amerika Serikat, dia tanya kepada warga sana. Siapa orang Indonesia yang Anda kenal? Jawabannya, bukan SBY, bukan pejabat, bukan artis, melainkan Etty Hendrawati. Yah, si Mbak Etak itu.

Selain itu yah, ketemu teman-teman si Mur sesama atlet panjat dinding. Ada Mate, Mas Toni, Cebong, Anang, Tru, Fitri, Golok, Jajat, Wahyu, Bayu.


Selain itu, saya sempat pulang ke Pati bertemu bapak, ibu, adik, dan kucing-kucing kesayangan saya. Sebelum berangkat ke Jakarta, saya sempatkan bertandang ke Yogya. Hari-hari terakhir ini serasa berat. Maksud hati pengen seperti si Todi. Bekerja (tepatnya mencari pekerjaan) sambil dekat dengan keluarga. Tapi…

Selamat tinggal Pati, selamat tinggal Yogyakarta yang makin angkuh dan bersolek memaksa diri menjadi seperti Jakarta. Selamat tinggal Mur dan keluarga. Selamat tinggal bu kos Bu Wagiyem. Selamat tinggal kawan-kawan. Ke Jakarta, aku kan kembali…

Categories: Tentang Yacob