My Thought, My Activism, My Life, Myself

Panggil Aku Yacob Saja…

November 12, 2006 · Leave a Comment

Salam kenal,

Namaku Yacob Yahya. Cukup dipanggil Yacob saja. Ayah-Ibu memberikan nama itu karena ingin anaknya punya dua nama nabi. Yah, saat itu ada seorang menteri yang bernama Daoed Jusuf. Akhirnya diambillah nama Yacob dan Yahya. Cukup pas juga aku rasa. Dan aku rasa cukup bagus –sekaligus ganjil. Kenapa ganjil? Karena di antara saudara-saudaraku, hanya aku yang menyandang nama bukan Jawa. Kakakku, bernama Winuranto Adhi. Sedangkan adikku bernama Ginanjar Rah Widodo. Ah, tak perlu dipersoalkan. Nanti dikira primordial apalagi rasis.

Aku lahir dan besar di “kota pensiunan”, Kabupaten Pati pada 15 Februari 1982. Disebut kota pensiunan karena memang adem ayem saja dus hampir tiada yang istimewa. Justru itulah, aku sangat lekat dengan kota ini. Hampir dua puluh tahun –tepatnya delapan belas tahun– aku tak beranjak dari kota ini.

Bapakku, Haryanto bin Taman, adalah seorang pensiunan pegawai BRI. Ibuku, Istichomah binti Manan, adalah seorang ibu rumah tangga. Aku bersyukur kedua orang tuaku hingga kini masih bisa mendampingiku. Aku juga sempat bersama dengan nenekku, Mbah Siti Mutmainah (ibunya ibuku). Beliau meninggal pada usia enam puluh tiga tahun, ketika aku berusia delapan tahun, di saat duduk di bangku kelas dua SD. Semasa hidupnya Mbah Siti adalah pedagang jarik (kain tradisional yang digunakan oleh perempuan jawa sebagai pakaian) di pasar. Suaminya, Mbah Taher Manan (beliau meninggal sebelum aku lahir), adalah seorang penjahit terkenal. Menurut cerita ibuku, Mbah Manan adalah penjahit terkenal. Pelanggannya adalah kaum amtenaar dan pejabat Belanda. Hmmm … kira-kira kayak apa yah, kehidupan zaman 1940-an ketika masih ada orang-orang Londho (sebutan orang Jawa bagi orang Belanda. Sebutan ini makin menjadi umum, untuk semua orang bule, baik dari Belanda maupun Eropa lainnya serta orang Amrik) bercokol di Bumi Manusia Indonesia ini?

Kini aku berprofesi sebagai seorang jurnalis, meskipun juga punya gelar akuntan. Selanjutnya, mari makin akrab bertegur sapa melalui tulisan-tulisan selanjutnya di situs blog yang sederhana ini.

Salam persaudaraan…

Categories: Tentang Yacob

Apa yang Aku Tahu Tentang Kucing (1)

November 12, 2006 · 4 Comments

Suatu hari belasan abad yang lalu. Kala itu ada sebuah perhelatan majelis. Segenap yang hadir di sidang itu terkejut ada seekor kucing nyelonong di tengah-tengah ruangan. Seorang yang hadir bertanya, “Kucing siapa ini?”

Seorang yang hadir, menjawab, “Kucing saya.” Si empunya kucing memakai jubah besar. Rupanya kucing kesayangannya selalu dia gendong di balik jubahnya itu. Saking terkenalnya dia begitu sayang kepada kucing, beliau dijuluki Abu Hurairah (bapaknya kucing). Yah, beliaulah sahabat dan periwayat hadist Nabi Muhammad.

Kucing begitu menjadi hewan kesayangan. Seorang yang dekat dengan Nabi Muhammad pun begitu sayang kepada kucing. Namun bukan kerana itu pula aku ngikut demen sama si meong. Sejak kecil pun aku suka sama saudara kecil macan ini. Sebelum aku lahir pun, keluargaku sudah memelihara si Felis catus. Tepatnya, kucing jawa. Bukan kucing angoora, eropa, ras, atau jenis borjuis lainnya. Hehehe… cukup dilempar ikan asin atau kerupuk, si meong sudah mau makan kok. Gak perlu repot menyediakan daging giling atau membawanya ke salon perawatan, apalagi ke dokter hewan.

Sejak aku balita, aku selalu tidur dengan ditemani oleh seekor kucing kembang telon (Jawa: tiga bunga). Kembang telon artinya kucing yang berwarna tiga: merah kecoklatan, putih, dan hitam. Hampir bisa dipastikan, seekor kembang telon adalah kucing betina. Konon, jika seekor kucing jantan terlahir dengan warna kembang telon, dia langsung dibunuh leh induknya atau bapaknya. Kata sahibul cerita, kalau kucing jantan kembang telon dibiarkan tumbuh besar, dia bisa merajai. Makanya si bapak gak mau ada saingan. Boleh percaya boleh tidak, memang. Tapi bisa dicek, kalau hampir semua kembang telon adalah kucing betina.

Kucing begitu lucu dan menggemaskan –meski juga agak menyebalkan kalau mereka kumat nakalnya dan suka minta makan. Karena sejak kecil aku akrab dengan kucing, paling tidak aku tahu tingkah polah, kelakuan, dan kebiasaan mereka. Di sini, aku tak mengklaim sebagai ahli kucing loh. Hehehe…

Antara Induk dan Bapak

Tahukah Anda, bahwa seekor induk kucing akan memindah-mindah tempat menyusui anak-anaknya? Dan seekor induk memang begitu sayang pada anaknya? Konon, kebiasaan memindah-mindah anaknya itu berlangsung hingga tujuh kali –hingga si anak dirasa cukup dewasa dan lepas susuan. Tujuannya, supaya anak-anaknya kalau gede kelak, bisa mengenal medan lingkungannya. Entah lah, entah benar entah salah, itulah penjelasan Mbah Siti –nenekku. Cara memindahkannya, si induk akan menggigit leher belakangnya, lalu ditenteng ke tempat yang dituju. Sebelum memindahkan anaknya, biasanya si induk sibuk tengak-tengok mondar-mandir ke penjuru rumah.

Jika Anda punya kucing betina yang sedang hamil atau menyusui anaknya, coba perhatikan. Apakah dia sibuk mengamati dapur, mencoba membuka-buka lemari pakaian, atau mecari kotak yang cukup teduh? Dia sedang mencarikan tempat bagi anaknya. Pernah si Kembang Telon melahirkan lima anak. Pertama keluar tiga. Lalu lahirlah anak keempat. Selang berapa jam, di bawah kolong ranjang, aku tak tahan gemas ingin membelai mereka. Eh, ternyata lahirlah anak kelima. Hmmm, anak seusia balita sudah melihat proses kelahiran kucingnya. Nah, satu saat, si induk menempatkan anak-ananya di lemari pakaian. Karena lupa menempatkan anaknya (perlu dicatat pula, seekor induk juga sering lupa menempatkan anaknya di mana. Kalau sudah begitu, dia hanya bisa merasa kehilangan dan mencarinya sambil ngeong-ngeong dengan suara yang memilukan. Beda loh ngeongan kucing yang lagi berahi kawin dengan ngeongan induk yang memanggil-manggil anaknya.), salah satu anaknya hilang ketika dipindahkan ke lemari lainnya. Dan sesuai dengan kodrat naluriah alamiahnya pula, seekor pejantan akan menguber anak-anaknya untuk dimakan atau dibunuh. Berkali-kali si Kembang Telon melahirkan, anak-anaknya selalu dimakan si Gandong (sebutan buat kucing-kucing jantan gede). Pernah disimpan di balik tumpukan tikar, eh, dimangsa juga. Di kolong ranjang, digondol juga.

Aku selalu gembira setiap kali kucingku melahirkan cemeng (anak kucing). Namun kebahagiaan itu sirna pula kalau si Gandong tega menghabisi anak-ananya. Caranya cukup sadis. Leher belakang digigit hingga menganga. Bahkan, kepala si kecil hingga terputus dari badannya. Pernah aku punya kucing putih kecil lucu, dus pintar. Dia bukan anak dari kucingku, dia memang kucing temuan. Setiap kali aku keloni, dia nurut. Tapi kalau kerasa mau pub, dia langsung ngacir ke kamar mandi. Jadinya, ibuku gak perlu marah-marah mencak-mencak gara-gara spreinya diberaki si kucing. Saking sayangnya, aku buatkan seutas kalung dari plastik sedotan. Kala itu usiaku menjelang sekolah TK. Hingga satu malam, aku lupa menutup pintu depan. Si kucing keluar. Ada si Gandong yang menerkam lehernya. Sobeklah leher belakangnya dan si kecil mati. Aku menangis sejadi-jadinya kehilangan si kecil yang lucu dan pintar. Kalung hasil karyaku putus dikoyak taring-taring tajam si Gandong.

Kucing Binatang Bermain

Hal yang bisa menghibur majikannya adalah, si kucing sibuk tubruk-tubrukan atau berkejaran bermain-main. Cobalah permainkan tali atau ujung tikar Anda. Si kucing akan menggoyang-goyangkan pantatnya berancang-ancang menubruk benda yang Anda gerakkan. Eh, karena itu pula, pernah anak-anak si Kembang Telon menarik-narik tikar di depan teve. Tikar yang sedang diinjak si kucing tertarik hingga menjatuhkan Mbah Siti. Sebel si Mbah tak hanya sampai di situ. Puncak kesabaran beliau meledak ketika tercakar anak-anak kucing yang sedang bermain. Maka dibuanglah anak-anak kucing kecil itu. Sedih rasanya kehilangan mereka.

Categories: Aku dan Si Meong